Israeli Terbelah Tanpa Tengah, Dukungan Gelora Perang Iran Meningkat Meski Korban Terus Berjatuhan

Author: Qoo Media

Kebijakan perang terhadap Iran mendapat dukungan kuat di kalangan masyarakat Israel meski mereka menghadapi serangan balasan yang terus meningkat. Survei terbaru dari Israel Democracy Institute menunjukkan 93 persen warga Yahudi-Israel mendukung serangan militer terhadap Iran, sementara 74 persen mendukung Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pemimpin yang dikenal kontroversial.

Ancaman dan serangan udara rudal dari Iran dilaporkan menyasar berbagai lokasi strategis di Israel, termasuk situs militer dan infrastruktur penting. Namun, klaim Iran mengenai serangan terhadap kantor Netanyahu dan tempat-tempat tertentu seperti Bandara Ben Gurion serta Haifa dibantah keras oleh pejabat Israel dan media resmi setempat.

Situasi Keras bagi Aktivis Anti-Perang

Di tengah gelombang dukungan perang, suara penentang mulai terpinggirkan. Itamar Greenberg, aktivis anti-perang berusia 19 tahun, menjadi target kampanye kebencian online dan penganiayaan fisik. Greenberg pernah ditangkap dan disiksa saat menggelar protes menentang genosida Gaza, serta mengalami perlakuan kasar dari aparat keamanan.

Kelompok oposisi seperti partai Hadash dan organisasi pro-pedamaian menghadapi intimidasi berat. Anggota legislatif Ofer Cassif mengungkapkan kekhawatiran terhadap ancaman kekerasan dari kelompok sayap kanan. Ia menilai oposisi terhadap perang dengan Iran dianggap mendukung rezim Teheran, tuduhan yang menurutnya tidak berdasar.

Narasi Apokaliptik Memperkuat Ketegangan

Netanyahu menguatkan retorika yang menyerupai peperangan suci dengan membandingkan ancaman Iran dengan musuh alkitabiah umat Yahudi, Amalek. Pernyataan ini memperteguh sentimen “tidak ada ruang tengah” dalam masyarakat Israel dan menghilangkan ruang dialog atau kompromi. Media dan pejabat nasional secara luas mendukung kampanye militer, membuat kaum anti-perang sulit menyuarakan pendapat mereka tanpa mengalami tekanan.

Dinamika Politik dan Sosial

Meskipun ada beberapa suara kritis di Israel, sebagian besar lapisan masyarakat dan media tidak memberikan panggung bagi penentang perang terhadap Iran. Sentimen nasionalisme dan rasa ancaman eksistensial membuat oposisi dipandang sebagai ancaman internal. Ini memperlihatkan situasi sosial Israel yang semakin terpolarisasi dan keras terhadap perbedaan pandangan.

Berbagai faktor memperparah ketegangan, termasuk pembatasan pemberitaan mengenai serangan Iran, ketidakjelasan jumlah korban, dan eskalasi serangan balasan. Dalam kondisi ini, perang dengan Iran bukan hanya soal militer, tetapi juga menjadi perang ideologi dan identitas nasional yang sulit untuk dinegosiasikan.

Ketika konflik berlanjut, masyarakat Israel berada dalam posisi yang menguatkan dukungan penuh terhadap pemerintah. Namun, ketakutan dan kekerasan terhadap aktivis oposisi menunjukkan bahwa tidak ada ruang untuk perdebatan terbuka dalam situasi saat ini. Ke depan, dinamika ini dapat mempengaruhi stabilitas sosial dan politik di negara tersebut.

Terbaru