Mahasiswa Universitas Havana Tantang Krisis Energi dan Internet, Protes Langka Lawan Dampak Blokade Minyak AS

Sejumlah mahasiswa universitas di Kuba melakukan protes langka selama beberapa jam di Universitas Havana akibat terganggunya kegiatan belajar mengajar. Aksi duduk yang berlangsung di bawah terik matahari ini merupakan reaksi terhadap pemadaman listrik dan gangguan internet yang terus memburuk selama blokade minyak oleh Amerika Serikat.

Protes bermula karena mahasiswi Anabel Oliva dan rekannya merasa tidak ada pilihan lain selain menuntut solusi atas kondisi sulit yang mereka hadapi setiap pagi saat memulai kuliah. Mereka menilai pihak kampus dan pemerintah tidak cukup tanggap mengatasi masalah listrik yang kini hampir membuat sistem kelistrikan nasional ambles total.

Pemotongan suplai minyak Venezuela oleh AS pada awal tahun memperparah kondisi jaringan listrik Kuba. Akibatnya, pasokan bahan bakar listrik terputus, menyebabkan gangguan berantai pada transportasi, distribusi makanan, hingga koneksi internet yang sangat dibutuhkan untuk pembelajaran jarak jauh. Pemerintah cuba menerapkan metode belajar jarak jauh layaknya masa pandemi. Namun, mahasiswa menilai langkah tersebut kurang efektif dan meminta perhatian lebih serius.

Profesor universitas sekaligus mantan perwakilan mahasiswa, Jose Julian Diaz, menyatakan kondisi ini memerlukan dialog terbuka antara mahasiswa dan pihak universitas. Ia mengungkapkan, aksi seperti ini sangat jarang terjadi dan menegaskan pentingnya membangun komunikasi yang membangun antara kedua belah pihak dalam menghadapi krisis.

Pada awalnya, mahasiswa dilarang duduk di tangga utama universitas dan dilarang lewat oleh petugas keamanan yang memasang pembatas dengan tanda larangan. Namun, para mahasiswa tetap melanjutkan aksi dengan melangkahi pembatas tersebut hingga akhirnya diselesaikan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Modesto Ricardo Gomez. Ia mengakui keluhan mahasiswa beralasan dan menyalahkan kebijakan sanksi AS di bawah pemerintahan sebelumnya sebagai penyebab utama masalah ini.

Gomez menegaskan tidak akan ada sanksi terhadap para mahasiswa yang melakukan protes dan berjanji pemerintah akan terus menanggapi keluhan mereka. Setelah intervensi wakil menteri, mahasiswa memasuki gedung bersama staf kampus dan menolak wawancara media. Dialog rencananya akan diteruskan di dalam universitas.

Salah satu mahasiswa anonim menyatakan kesiapan mereka untuk berpartisipasi dalam proses dialog asalkan aspirasi mereka benar-benar didengar. Namun, ia juga memperingatkan bahwa protes serupa akan diulang jika tidak ada solusi nyata yang diberikan.

Protes di Kuba sangat jarang terjadi karena sistem pemerintahan komunis dan aturan hukum yang belum jelas mengenai hak warga untuk melakukan demonstrasi. Meskipun konstitusi Kuba sejak 2019 mengakui hak ini, undang-undang pendukungnya masih belum disahkan, sehingga aktivitas protes berada dalam posisi hukum yang tidak pasti.

Tantangan utama bagi mahasiswa Kuba saat ini bukan hanya soal listrik dan internet, tapi juga soal bagaimana suara mereka dapat didengar secara serius oleh pemerintah. Situasi ini memperlihatkan ketegangan antara kebutuhan mendesak masyarakat dengan pembatasan politik yang ada di negara tersebut. Pemerintah dan elemen universitas diharapkan dapat menemukan solusi yang mendorong keberlangsungan pendidikan tanpa mengabaikan kondisi krisis yang tengah melanda negara.

Terkait