Israel menutup akses ke Masjid Al-Aqsa selama 11 hari berturut-turut hingga Selasa, 10 Maret 2026. Penutupan ini melarang jemaah Muslim Palestina memasuki kompleks masjid untuk beribadah, termasuk saat momen penting akhir Ramadan.
Pemerintah Israel mengklaim penutupan dilakukan demi alasan keamanan akibat peningkatan ketegangan yang melibatkan Iran. Namun, langkah ini menuai kritik luas karena dianggap melanggar hak kebebasan beragama warga Palestina di Yerusalem.
Larangan Salat Tarawih dan I’tikaf Pertama Sejak 1967
Selama 11 hari penutupan, seluruh aktivitas ibadah Tarawih dan I’tikaf di dalam Masjid Al-Aqsa dilarang. Ini menjadi pembatasan terberat sejak pendudukan Yerusalem oleh Israel pada tahun 1967.
Setiap malam Ramadan, ribuan jemaah biasanya berkumpul di masjid untuk mencari keberkahan malam Lailatul Qadar. Penutupan total ini menghilangkan kesempatan ibadah tersebut secara signifikan.
Krisis Al-Aqsa dalam Angka:
- Durasi penutupan: 11 hari berturut-turut (per 10 Maret 2026)
- Dampak ibadah: Larangan total salat Tarawih dan I’tikaf massal
- Konteks sejarah: Pembatasan paling ketat sejak perang enam hari 1967
Motif Politik di Balik Penutupan
Pemerintah Provinsi Jerusalem menyatakan ada eskalasi hasutan dari kelompok ekstremis yang menamakan diri Bukit Bait Suci (Temple Mount). Kelompok ini diduga menggunakan situasi penutupan untuk mendorong perubahan status quo keagamaan dan historis di kompleks masjid tersebut.
Menurut pernyataan Pemprov Jerusalem, penutupan ini bukan sekadar langkah keamanan sementara. Mereka menilai ada agenda politik dan ideologis yang bertujuan merombak status quo hukum yang selama ini berlaku di wilayah Masjid Al-Aqsa.
Tuntutan Komunitas Internasional
Berbagai negara dan organisasi internasional mendesak Israel membuka kembali akses ke Masjid Al-Aqsa. Mereka khawatir penutupan ini dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah yang sudah sarat ketegangan, khususnya antara Iran dan Israel.
Pertanyaan Umum terkait Penutupan Masjid Al-Aqsa:
Mengapa Israel menutup Masjid Al-Aqsa pada Maret 2026?
Jawaban: Israel menyebut alasan keamanan berkaitan dengan konflik yang sedang berlangsung dengan Iran.Apakah benar salat Tarawih dilarang di Al-Aqsa?
Jawaban: Ya, larangan salat Tarawih dan I’tikaf massal terjadi untuk pertama kalinya sejak 1967 selama penutupan berlangsung.- Apa tanggapan Pemerintah Provinsi Jerusalem terkait penutupan ini?
Jawaban: Pemprov Judah menganggap penutupan sebagai bagian dari agenda ideologis untuk mengubah status quo sejarah dan hukum Masjid Al-Aqsa.
Penutupan Masjid Al-Aqsa selama 11 hari ini menjadi titik konflik serius yang membutuhkan perhatian global. Akses dan kebebasan beribadah di situs suci ini harus dijaga untuk menghindari ketegangan dan kekerasan yang lebih besar di masa depan.
Baca selengkapnya di: mediaindonesia.com






