Serangan Israel Mengguncang Lebanon Setelah Evakuasi Massal, Krisis Pengungsi Mencapai 760 Ribu Jiwa

Serangan udara terbaru Israel menghantam pinggiran selatan Beirut dan wilayah selatan Lebanon pada Selasa setelah militer Israel memperingatkan warga untuk mengungsi. Otoritas Lebanon melaporkan sudah hampir 760.000 orang tercatat sebagai pengungsi akibat serangan tersebut.

Lebanon terseret ke dalam konflik Timur Tengah ketika kelompok militan yang didukung Iran, Hezbollah, menyerang Israel sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel. Israel tetap melanjutkan serangan yang menargetkan infrastruktur Hezbollah meskipun sudah ada gencatan senjata yang berlaku sejak awal tahun.

Serangan Terbaru di Beirut dan Selatan Lebanon

Badan berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan serangkaian serangan udara di pinggiran selatan Beirut, daerah yang dikuasai oleh Hezbollah. Rekaman video menunjukkan asap membubung tinggi dari lokasi serangan. Militer Israel menyatakan telah memulai serangan terhadap "infrastruktur Hezbollah" di daerah tersebut.

Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi satu orang tewas akibat serangan udara terhadap sebuah sepeda motor di daerah itu. Selain Beirut, serangan juga terjadi di Abbassiyeh dekat Tyre serta di kota pesisir Sidon, sesuai pengumuman militer Israel yang menyasar beberapa bangunan strategis.

Di kota Jwaya, wilayah selatan Lebanon, serangan Israel menewaskan wali kota dan seorang anggota dewan kota. Sementara itu, Hezbollah mengklaim telah menyerang pasukan Israel di wilayah perbatasan selatan seperti Khiam dan Odaisseh serta meluncurkan roket ke arah Israel, termasuk lokasi pertahanan misil di selatan Haifa.

Dampak Serangan: Korban Jiwa dan Pengungsian Massal

Sejak 2 Maret, serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 486 orang dan melukai lebih dari 1.300 lainnya, menurut penghitungan otoritas Lebanon. Sampai Selasa, tercatat 759.300 warga mengungsi akibat konflik ini, dengan 122.600 orang menempati tempat penampungan resmi.

Salah satu serangan di distrik Hennawiyeh, Tyre, melukai dua orang dan kemudian menyerang kembali saat pertolongan tiba, menyebabkan korban lebih lanjut. Komite Kesehatan Islam yang berafiliasi dengan Hezbollah juga melaporkan 15 penyelamatnya tewas sejak awal serangan.

Kondisi Pengungsian dan Respon Internasional

Puluhan tenda keluarga didirikan di Stadion Olahraga Camille Chamoun, Beirut, sebagai tempat perlindungan sementara bagi pengungsi. Wali kota Beirut menyatakan lokasi tersebut dapat menampung lebih dari 3.000 orang. Beberapa pengungsi, seperti Fatima Shehadeh dan Malak Jaber, mengaku kehilangan rumah dan harus memulai hidup dari nol.

PBB melaporkan laju pengungsian kali ini lebih cepat dibandingkan konflik terakhir pada tahun lalu. Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa sepakat untuk mengendalikan perbatasan setelah adanya tuduhan bahwa Hezbollah melontarkan artileri ke wilayah Suriah.

Ketegangan Politik dan Militer Terus Meningkat

Presiden Aoun sempat menuduh Hezbollah berupaya menghancurkan negara dan menyatakan kesiapan Beirut untuk melakukan "negosiasi langsung" dengan Israel. Sementara itu, Wakil Kepala Blok Parlemen Hezbollah, Mohamed Raad, menegaskan kelompoknya akan "membela eksistensi kami dengan segala biaya".

Hari Selasa juga menandai pengungsian terakhir warga dari desa Kristen Alma al-Shaab dekat perbatasan Israel yang menolak perintah evakuasi selama beberapa hari. Penarikan ini dikonfirmasi oleh sumber PBB, wali kota setempat, dan jurnalis AFP.

Situasi di Lebanon saat ini masih sangat volatile dengan serangan udara yang terus berlanjut dan pergeseran politik yang memperumit upaya perdamaian di kawasan tersebut. Pengungsian massal menimbulkan kebutuhan mendesak akan bantuan kemanusiaan dan diplomasi internasional untuk meredakan ketegangan berkepanjangan.

Berita Terkait

Back to top button