Perang di Timur Tengah Terhenti Pasokan Pupuk Global, Krisis Pangan Dunia Mengintai Tajam

Perang di Timur Tengah menyebabkan gangguan besar pada pasokan pupuk global, yang menimbulkan risiko signifikan terhadap ketahanan pangan dunia. Produksi pupuk di negara-negara Teluk terhenti, sementara harga gas melonjak, sehingga menghambat distribusi pupuk ke pasar internasional.

Sekitar sepertiga pupuk yang dikirim melalui jalur laut berasal dari kawasan ini dan tidak dapat mencapai konsumen karena Iran menutup Selat Hormuz secara efektif. Penutupan jalur ini telah mendorong kenaikan tajam harga pupuk dunia, sementara PBB menyoroti dampak serius bagi negara-negara berkembang.

Peran Strategis Kawasan Teluk dalam Produksi Pupuk

Gas alam menjadi bahan baku utama pembuatan pupuk buatan dan wilayah Teluk kaya akan sumber gas ini. Kawasan tersebut memproduksi hampir separuh dari suplai belerang dunia dan sepertiga urea, pupuk dengan volume perdagangan tertinggi menurut Sarah Marlow, editor global pupuk di Argus Media.

Selain itu, kawasan ini juga menghasilkan seperempat amonia yang diperdagangkan secara global, yang juga penting untuk produksi pupuk. Negara-negara penghasil pangan besar seperti Amerika Serikat dan Australia sangat bergantung pada impor urea dan fosfat dari negara-negara Teluk.

Brasil, produsen kedelai terbesar dunia, mengimpor sebagian besar ureanya dari Qatar dan Iran, sementara India bergantung pada fosfat dari Arab Saudi. Wilayah Asia pun sangat bergantung pada kawasan Teluk, dengan 64 persen impor amonia dan lebih dari 50 persen impor belerang serta fosfat berasal dari sana, berdasarkan data Kpler tahun ini.

Dampak Konflik dan Penutupan Selat Hormuz

Sejak konflik dimulai, produksi di beberapa fasilitas pupuk, terutama di Qatar, terpaksa dihentikan akibat serangan balasan Iran kepada negara-negara tetangga Teluk. Selat Hormuz tetap tidak dapat dilalui secara normal, menghambat ekspor komoditas penting seperti belerang.

Meski kapal China sempat mengangkut belerang pada awal Maret, sekitar 20 kapal lain masih menunggu izin berlayar menurut pemantauan Kpler. Gangguan ini memicu kekhawatiran akan berlanjutnya kelangkaan pupuk di pasar global.

Reperkusinya Terasa di Seluruh Dunia

Eropa, meski hanya mengimpor 11 persen urea dari Teluk, tetap terdampak secara tidak langsung. Maroko yang memasok pupuk berbasis fosfor ke Eropa masih bergantung pada belerang dari Teluk. Sementara itu, impor urea Eropa dari Mesir juga terhambat karena pasokan gas alaminya dari Israel melalui pipa terhenti.

Harga urea Mesir naik dari US$500 per ton saat perang dimulai menjadi lebih dari US$650, yang langsung meningkatkan biaya pupuk bagi petani Eropa, menurut Arthur Portier dari Argus Media. Negara seperti India dan Bangladesh yang menggunakan gas dari Timur Tengah untuk produksi pupuk juga terpaksa mengurangi pasokan, bahkan Bangladesh menutup sementara lima dari enam pabrik pupuknya.

PBB menyatakan keprihatinan serius terkait keterbatasan akses pupuk di beberapa negara termiskin di dunia akibat gangguan pasokan ini.

Risiko Penurunan Produksi Tanaman

Pupuk buatan menyediakan tiga nutrisi penting bagi tanaman: nitrogen, fosfor, dan kalium. Permintaan pupuk nitrogen seperti urea, amonium nitrat, dan kalium terus meningkat terutama dari Asia, ujar Sylvain Pellerin dari INREA, lembaga riset pertanian Prancis.

Model INREA menunjukkan tanpa ketiga jenis pupuk ini, produksi tanaman global bisa turun hingga sepertiga. Namun, produksi pupuk nitrogen sangat bergantung pada gas alam dan energi yang tinggi. Sementara belerang merupakan produk sampingan industri minyak dan gas, sehingga pasokan pupuk berkorelasi erat dengan kondisi sektor energi.

Produksi pupuk berbasis fosfor dimulai dari batuan fosfat, dimana Saudi Arabia menyumbang 20 persen pasokan global namun kini sulit mengekspornya karena konflik.

Ketidakpastian Masa Depan Pasokan Pupuk

Durasi dan dampak konflik masih belum pasti. Kerusakan fasilitas produksi pupuk akibat pertempuran dapat memperlambat pemulihan pasokan meski pertempuran usai. Musim tanam di belahan bumi selatan yang dimulai bulan Juni juga menghadapi ancaman kelangkaan pupuk.

Menurut Portier, perang ini dapat menjadi pemicu bagi Eropa untuk mengembangkan strategi pasokan pupuk yang lebih mandiri dan berkelanjutan. Pasca kenaikan harga pupuk akibat invasi Rusia ke Ukraina, petani Eropa mengurangi penggunaan dan melakukan diversifikasi pemasok.

Komisi Eropa pun tengah menyiapkan rencana aksi pupuk untuk tahun ini guna mengantisipasi ketidakpastian pasokan dan harga pupuk global. Upaya ini penting untuk menjaga produksi pangan tetap stabil di tengah gejolak geopolitik yang terus berlanjut.

Berita Terkait

Back to top button