Serangan drone mengguncang kota Goma di timur Kongo, menyebabkan tewasnya setidaknya tiga orang termasuk seorang pekerja bantuan asal Prancis. Insiden ini merupakan serangan drone pertama di kota tersebut sejak kelompok pemberontak AFC/M23 menguasai wilayah itu tahun lalu.
Kelompok pemberontak AFC/M23 menuduh militer Kongo melakukan serangan menggunakan drone ke area yang padat penduduk di Goma. Mereka menyatakan melalui media sosial bahwa tiga korban meninggal dunia dalam insiden tersebut, termasuk tenaga kemanusiaan asing.
Menurut pejabat senior UNICEF yang diwawancarai Reuters, salah satu korban adalah seorang pegawai UNICEF berkewarganegaraan Prancis. Misi perdamaian PBB di Kongo mengkonfirmasi kematian seorang staf PBB dan dua warga sipil lain akibat serangan tersebut.
PBB memperingatkan bahwa menyerang personel mereka dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Komisaris Eropa Hadja Lahbib mengutuk keras serangan itu dan menekankan pentingnya menghormati hukum humaniter internasional.
Pemerintah Kongo mengeluarkan pernyataan resmi mengakui serangan drone tersebut. Mereka menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan memastikan sedang melakukan investigasi terkait insiden ini.
Juru bicara militer Kongo memilih untuk tidak berkomentar mengenai tuduhan yang disampaikan oleh pemberontak AFC/M23. Sementara itu, Rwanda menyatakan keprihatinan terhadap lonjakan ketegangan di wilayah perbatasannya dengan Kongo.
Wakil juru bicara pemerintah Rwanda, Jean Maurice Uwera, menyebut insiden tersebut sebagai bukti meningkatnya masalah keamanan di kawasan tersebut meskipun sudah ada kesepakatan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat. AS sendiri baru-baru ini menjatuhkan sanksi terhadap Angkatan Pertahanan Rwanda dan sejumlah pejabat militer.
Seorang jurnalis Reuters di Goma melaporkan mendengar dua ledakan keras sekitar pukul 4 pagi waktu setempat. Ledakan tersebut mengguncang jendela dan pintu, diikuti oleh bunyi sirine ambulans yang bersiaga.
Seorang pejabat senior AFC/M23 menyebut bahwa satu rumah yang menjadi sasaran drone adalah milik pegawai UNICEF, berlokasi dekat dengan kediaman mantan Presiden Kongo Joseph Kabila di kawasan yang dihuni tokoh politik dan pengusaha terkemuka. Drone kedua diduga menargetkan perumahan koordinator politik AFC/M23, Corneille Nangaa, namun jatuh ke Danau Kivu.
Serangan-serangan drone ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas drone yang dilakukan oleh kedua belah pihak dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan di wilayah timur Kongo terus memanas akibat konflik bersenjata yang berkepanjangan.









