Pada tanggal 3 Mei 2025, sesaat setelah pemakaman Paus Fransiskus, Presiden Donald Trump mengunggah gambar hasil AI yang memperlihatkan dirinya mengenakan jubah putih dan mitra Paus. Unggahan ini viral dengan cepat dan memicu berbagai reaksi dari umat Katolik di seluruh dunia. Sehari sebelumnya, Trump sempat bercanda kepada wartawan bahwa dia ingin menjadi paus, menjadikan hal itu pilihan utamanya.
Gambar tersebut dianggap tidak menghormati oleh banyak orang Katolik dan mendapat perhatian khusus dari para kardinal yang sedang berkumpul di Roma menjelang konklaf pada 7 Mei. Kardinal Pablo Virgilio David dari Filipina mengatakan kepada Trump melalui Facebook, “Tidak lucu, Pak,” dan menerjemahkannya ke dalam sepuluh bahasa. Sementara Kardinal Timothy Dolan dari New York, meski dikenal akrab dengan Trump, menyebut unggahan itu “tidak baik.”
Perubahan pada Kolegi Kardinal dan Peran Amerika Serikat
Selama masa kepausan Fransiskus, Kolegi Kardinal mengalami perubahan signifikan. Keanggotaannya menjadi lebih internasional dan beragam, mencerminkan pergeseran pusat kekuasaan Gereja dari Eropa ke Afrika dan Asia. Tradisi menyatakan kardinal tidak mungkin memilih seorang paus asal Amerika karena pengaruh besar Amerika Serikat di dunia. Namun, setelah dua kali kemenangan Trump dengan agenda “America First,” pandangan tersebut mulai berubah.
Kardinal Oswald Gracias, mantan uskup agung Bombay dan tokoh penting di Asia, memberikan pandangannya sebelum konklaf soal kemungkinan paus Amerika. Ia mengakui bahwa dulu hal itu “tidak terpikirkan,” tapi kini bertanya, “Mengapa tidak?” Nama Kardinal Robert Prevost, seorang pemimpin penting di Vatikan asal Chicago dengan pengalaman misionaris di Peru, mulai sering disebut sebagai kandidat potensial paus pertama asal Amerika.
Dinamika Politik dan Proses Pemilihan Paus
Para kardinal memulai konklaf dengan fokus pada kelanjutan reformasi Fransiskus dan kemampuan paus baru untuk menjalankan peran profetik dalam berinteraksi dengan dunia. Perundingan dilakukan secara tertutup, lewat makan malam dan pertemuan pribadi di sekitar Vatikan. Kampanye terbuka dilarang, sehingga proses politik berjalan dengan halus.
Calon kuat di antaranya adalah Kardinal Pietro Parolin dari Italia yang dikenal sebagai diplomat ulung dan calon pemersatu yang berkomitmen pada reformasi moderat. Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina juga menjadi kandidat bersama kelompok keberagaman yang mendukung kesinambungan agenda Fransiskus. Namun Prevost, meski lebih tertutup, diam-diam mengumpulkan dukungan signifikan.
Sejarah yang Berbalik: Dari ‘Tidak Mungkin’ Menjadi Nyata
Keyakinan lama bahwa seorang paus Amerika tak mungkin terpilih didukung oleh pernyataan Kardinal Francis George dari Chicago yang mengatakan bahwa selama Amerika masih menjadi kekuatan dominan dunia, hal itu tidak mungkin terjadi. Bahkan sebelumnya, Paus Leo XIII tahun 1899 menolak “Americanisme” yang dianggapnya menentang otoritas Gereja.
Namun pada konklaf 2025, terpilihlah paus dari Amerika Serikat yang mengambil nama Leo XIV, sebuah perubahan sejarah yang luar biasa. Paus Leo XIV tampil dengan gaya rendah hati, namun memiliki tekad kuat dan visi jangka panjang. Hal ini berbeda dengan gaya para politikus yang cenderung berorientasi pada kepentingan sesaat.
Hubungan Paus Amerika dan Gedung Putih
Setelah pemilihan, Presiden Trump menyatakan rasa terkejut dan gembira atas paus pertama asal Amerika, menyebutnya sebagai kehormatan besar bagi negaranya. Namun, tidak ada komunikasi langsung antara Trump dan Paus Leo XIV dalam beberapa bulan pertama kepausan. Sang paus sendiri menyatakan belum bertemu atau berbicara langsung dengan presiden, dan hal ini tidak menjadi kekhawatiran baginya.
Kontras terjadi dengan Presiden Joe Biden, presiden Katolik kedua AS yang pernah bertemu dan berbicara dengan Paus Fransiskus dalam beberapa kesempatan, termasuk pertemuan 75 menit di Vatikan. Biden bahkan memberikan medali Presidential Medal of Freedom kepada Fransiskus sebelum masa kepresidenannya berakhir.
Meskipun Trump memberikan penghormatan, ketegangan tetap terasa. Steve Bannon, seorang tokoh Katolik dan pendukung Trump, secara terbuka mengkritik terpilihnya Leo sebagai “pilihan terburuk.” Ini menggambarkan dinamika politik internal yang kompleks di balik hubungan antara Vatikan dan pemerintahan AS.
Politik Keluarga yang Memengaruhi Persepsi Publik
Paus Leo XIV juga mengalami realita politik yang memengaruhi keluarga. Saudara laki-laki tertuanya, Louis Prevost, adalah pendukung garis keras Trump atau MAGA, yang aktif menyuarakan pandangan politik kontroversial di media sosial. Walau setelah pemilihan paus, Louis berjanji akan mengurangi aktivitas tersebut, hubungan dengan keluarga tetap menjadi sorotan.
Trump bahkan menyambut pertemuan dengan Louis dan istrinya di Gedung Putih, menyebut saudara paus itu sebagai “Trumper sejati.” Paus Leo merespons santai mengenai dukungan saudaranya, menegaskan bahwa mereka tidak harus memiliki pandangan politik yang sama.
Simbol Persatuan dalam Perbedaan
Momen hangat terjadi ketika Louis Prevost menyambut dan memeluk Paus Leo XIV di Basilika Santo Petrus usai pelantikan. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan politik dapat dikelola tanpa menghancurkan ikatan keluarga. Paus Leo XIV menjadi simbol bahwa dialog dan persatuan bisa terwujud meskipun ada keragaman pandangan dalam konteks keluarga dan komunitas yang lebih luas.
