Iran menghadapi situasi krisis setelah serangkaian serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengalami luka-luka serius dan kemungkinan mengalami luka yang menyebabkan cacat pada wajahnya.
Pernyataan Hegseth juga mempertanyakan kemampuan Khamenei dalam memimpin negara di tengah tekanan militer yang intensif. Sejak serangan yang menewaskan sebagian besar keluarga Khamenei, termasuk ayah dan istrinya, tidak ada gambar maupun rekaman video yang menampilkan sosok Mojtaba Khamenei secara langsung.
Kondisi Mojtaba Khamenei Menurut Sumber AS dan Iran
Hegseth menilai bahwa pernyataan tertulis yang dirilis oleh Khamenei terkesan lemah dan menunjukkan ketakutan. “Tidak ada suara, tidak ada video. Hanya pernyataan tertulis,” kata Hegseth saat konferensi pers. Ia menilai penampilan terisolasi ini mencerminkan luka dan ketidakstabilan sang pemimpin baru.
Namun, pihak Iran memberikan versi berbeda terkait kondisi kesehatan Mojtaba Khamenei. Seorang pejabat Iran menyebut bahwa luka yang diderita adalah ringan. Duta Besar Iran untuk Jepang, Peyman Saadat, mengonfirmasi bahwa meskipun menerima cedera, Khamenei tetap berfungsi dengan baik dan tidak ada gangguan dalam kemampuannya memimpin negara.
Respons Militer AS dan Dampak di Kawasan
Menyusul serangan beruntun terhadap Iran, AS melaporkan telah menghancurkan lebih dari 6.000 target militer di Iran dalam kurun waktu 14 hari. Serangan tersebut juga menyebabkan sekitar 2.000 korban jiwa di Iran. Selain itu, Pentagon mengirimkan kekuatan militer tambahan ke kawasan termasuk kapal serbu amfibi Tripoli dan sekitar 2.500 Marinir guna memperkuat operasi militer.
Meskipun serangan militer AS dan sekutunya, aktivitas drone Iran dilaporkan masih terus bergerak di wilayah Teluk Persia termasuk Kuwait, Irak, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Oman. Ini menjadi indikasi bahwa Iran masih menjalankan berbagai operasi militer sebagai respons.
Isu Hukum dan Etika Serangan ‘No Quarter’
Dalam pernyataan yang cukup kontroversial, Pete Hegseth menegaskan bahwa AS tidak akan memberikan toleransi dalam konflik ini, menyebut sikap "no quarter" yang berarti tidak memberikan kesempatan menyerah kepada musuh. Namun, konsep ini bertentangan dengan hukum humaniter internasional yang dikeluarkan oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC) yang melarang perlakuan tanpa ampun seperti itu.
Dampak Korban Militer AS dan Situasi Keselamatan
Serangan dan ketegangan berkepanjangan menyebabkan sejumlah korban di pihak AS. Dalam insiden terpisah, enam personel militer AS tewas akibat kecelakaan pesawat pengisian bahan bakar di Irak barat. Hingga saat ini, total 11 tentara AS meninggal sejak dimulainya serangan pada akhir Februari.
Situasi ini mencerminkan eskalasi ketegangan yang berbahaya dan kompleks di wilayah Teluk Persia. Di tengah goncangan politik dan militer yang terus berlangsung, keamanan dan stabilitas kawasan masih menghadapi tekanan berat dari konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
