Penutupan perbatasan Rafah telah membuat banyak pasien di Gaza terjebak tanpa akses pengobatan penting. Rafah merupakan jalur utama keluar masuk Gaza ke luar negeri, khususnya ke Mesir dan negara-negara lainnya. Penutupan ini menimbulkan krisis kemanusiaan yang semakin dalam, terutama bagi pasien kritis yang membutuhkan perawatan medis di luar Gaza.
Lama Abu Reida, ibu dari bayi berusia kurang dari lima bulan, mengalami langsung akibatnya. Bayinya, Alma, yang menderita kista paru-paru dan bergantung pada mesin oksigen, seharusnya menjalani evakuasi medis untuk operasi di Yordania. Namun, setelah Israel menutup perbatasan Rafah mendadak tanpa pemberitahuan, rencana tersebut batal dan nyawa Alma terancam.
Pengaruh penutupan Rafah pada pasien Gaza
Penutupan tersebut diumumkan bertepatan dengan operasi militer gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang disebut sebagai alasan keamanan. Namun, konsekuensinya sangat fatal bagi pasien di Gaza. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lebih dari 20.000 pasien dan orang terluka menunggu perjalanan keluar untuk pengobatan. Dari jumlah ini:
- Sekitar 4.000 pasien kanker memerlukan perawatan khusus yang tidak tersedia di Gaza.
- Sekitar 4.500 anak-anak menunggu rujukan medis ke luar negeri.
- 440 kasus "penyelamatan nyawa" yang mendesak harus mendapat tindakan cepat di luar Gaza.
- Hampir 6.000 orang terluka yang memerlukan perawatan lanjutan di rumah sakit luar.
Penutupan membuat ribuan pasien yang paling rentan kehilangan harapan dan kesempatan untuk menerima pengobatan yang mereka butuhkan.
Tragedi yang dialami keluarga pasien
Kisah tragis dialami oleh Hadeel Zorob, yang kehilangan dua anaknya akibat tidak bisa memperoleh pengobatan tepat waktu. Putranya yang berusia enam tahun dan putrinya yang berusia delapan tahun meninggal dunia setelah menunggu lama untuk dipindahkan ke luar negeri. Keduanya mengidap penyakit genetik langka yang mempercepat kerusakan fungsi tubuh.
Zorob mengungkapkan, “Saya menyaksikan anak-anak saya meninggal perlahan satu per satu tanpa bisa berbuat apa-apa.” Kondisi kesehatan kedua anaknya memburuk seiring dengan melemahnya sistem kesehatan Gaza, terutama setelah serangan Israel yang intensif. Keluarganya bahkan coba mendapatkan obat dari Tepi Barat dan menghubungi organisasi internasional, namun tidak ada solusi berhasil.
Dampak pada pasien kanker dan kesulitan medis di Gaza
Pasien kanker seperti Amal al-Talouli juga menghadapi situasi yang memilukan. Selama lima tahun berjuang melawan kanker payudara, kondisinya kembali kambuh dan menyebar ke tulang belakang. Amal kini tinggal bersama kerabat setelah kehilangan rumah akibat perang. Kekurangan obat dan tenaga medis menjadi hambatan utama.
Menurut Amal, penutupan Rafah semakin memperburuk situasi. “Tidak ada obat yang masuk dan perawatan penting tidak tersedia,” ungkapnya. Kondisi malnutrisi dan kurang gizi semakin memperberat dampak kemoterapi. Amal termasuk yang terdaftar untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza, namun tertahan akibat perbatasan tertutup.
Kritik terhadap penutupan dan seruan kemanusiaan
Organisasi Hak Asasi Manusia Al-Dameer menyatakan penutupan Rafah sebagai bentuk hukuman kolektif terhadap warga sipil Gaza. Mereka memperingatkan bahwa kebijakan ini “menghukum lebih banyak pasien dengan kematian” dan memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Penutupan ini tidak hanya menghalangi pasien untuk mendapat pengobatan, namun juga memperburuk kondisi kesehatan seluruh populasi Gaza.
Pemerintah Israel menyatakan bahwa perbatasan Rafah akan dibuka kembali secara terbatas dalam waktu dekat untuk “pergerakan terbatas orang.” Namun, banyak pihak menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi kebutuhan medis yang mendesak.
Penutupan Rafah membawa dampak yang luas dan serius bagi ribuan pasien Gaza, menempatkan mereka dalam risiko kehilangan kesempatan hidup dan perawatan medis yang sangat dibutuhkan. Krisis ini menegaskan perlunya solusi segera agar pasien dapat diakses dan dirawat secara tepat di luar Gaza, demi menyelamatkan nyawa dan mengurangi penderitaan yang tengah mereka rasakan.









