Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-20 dengan eskalasi ketegangan yang signifikan. Israel melakukan serangan besar terhadap infrastruktur produksi terkait ladang gas South Pars, salah satu cadangan gas terbesar di dunia yang dimiliki bersama Iran dan Qatar. Serangan ini memicu balasan keras dari Iran yang mulai menyerang fasilitas energi di negara-negara Teluk Persia serta di wilayah Israel.
Harga energi melonjak tajam akibat konflik ini. Harga minyak Brent sebagai patokan global menyentuh angka $115 per barel setelah serangan Israel. Iran melancarkan serangan rudal ke kilang minyak di Haifa, Israel, sementara Arab Saudi melaporkan serangan terhadap dua kilang di Riyadh. Qatar melaporkan kerusakan besar di Ras Laffan, pusat energi utamanya, yang menyebabkan pemerintah Qatar memerintahkan militer dan penasehat keamanan Iran untuk meninggalkan negara itu dalam 24 jam.
Peran dan Sikap Amerika Serikat
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak mengetahui serangan Israel terhadap ladang gas South Pars. Namun, sumber-sumber yang dekat dengan operasi tersebut membantah klaim ini dan menyebut bahwa serangan itu dilakukan dengan koordinasi serta kesadaran AS. Trump juga mengaku sudah berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, meminta agar Israel menghentikan serangan terhadap fasilitas minyak dan gas Iran. Netanyahu dikabarkan menyatakan akan mematuhi permintaan tersebut.
Gedung Putih membantah akan menerapkan larangan ekspor minyak dan gas Amerika sebagai langkah mengatasi lonjakan harga energi. Meski demikian, upaya cepat dilakukan untuk mempercepat penjualan senjata senilai miliaran dolar kepada sekutu Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait. Penjualan juga termasuk dukungan pesawat dan amunisi ke Yordania sebagai bagian tanggapan terhadap pembalasan Iran.
Situasi Militer di Medan Konflik
Serangan terus berlanjut dari kedua pihak, termasuk Hezbollah di Lebanon yang terlibat dalam konflik ini. Israel melaporkan telah menyerang sekitar 200 target di wilayah barat dan tengah Iran, sebagian berupa infrastruktur militer. Pada hari Kamis, serangan rudal Iran berhasil mengenai wilayah Israel, menyebabkan satu warga asing tewas karena serpihan peluru kendali. Di Tepi Barat yang diduduki Israel, berbagai korban sipil jatuh akibat sisa munisi klaster Iran yang mendarat di sebuah salon.
Serangan Israel juga terjadi di Laut Kaspia menargetkan aset-aset angkatan laut Iran, yang menjadi area baru dalam konflik ini. Sebelumnya, serangan AS terhadap kapal Angkatan Laut Iran hanya terjadi di Teluk Oman dan Teluk Persia. Kapal-kapal komersial juga menjadi sasaran insiden, dengan dua kapal terkena proyektil di sekitar Teluk Persia.
Dampak Kemanusiaan dan Internal Iran
Korban jiwa di wilayah konflik terus meningkat. Lebanon melaporkan lebih dari 1.000 kematian sejak dimulainya perang. Iran menjadi yang paling parah terdampak dengan ribuan warga sipil terluka dan rusaknya puluhan ribu bangunan akibat serangan gabungan AS dan Israel. Di dalam negeri Iran, ketegangan juga meningkat dengan dilakukannya eksekusi tiga pria yang terkait dengan protes nasional Januari lalu, termasuk seorang atlet muda berusia 19 tahun yang memperoleh kecaman internasional. Kelompok hak asasi manusia menyebutkan pengadilannya tidak fair dan menggunakan pengakuan yang dipaksakan serta penyiksaan.
Reaksi dari Negara Teluk dan Politik Regional
Arab Saudi dengan tegas mengancam akan mengambil aksi militer terhadap Iran jika serangan tidak dihentikan. Dalam pernyataan bersama setelah pertemuan 12 menteri luar negeri dari negara Arab dan Islam, Saudi menuntut Iran segera menghentikan serangan militer di kawasan tersebut. Oman juga menyerukan kepada sekutu Amerika Serikat untuk membantu mengakhiri perang yang dianggap "tidak sah" tersebut.
Di sisi politik dalam negeri Amerika, Senat menolak resolusi yang bertujuan membatasi kekuasaan perang Presiden Trump, menandai kekalahan kedua bagi Demokrat dalam upaya mengendalikan keterlibatan militer AS dalam konflik.
Meski Dewan Keamanan dan Sekretaris Pertahanan AS menyatakan bahwa operasi militer masih berjalan sesuai rencana, belum ada indikasi kapan konflik ini akan berakhir. Pernyataan resmi menghindari memberikan estimasi waktu yang pasti terkait durasi perang di Timur Tengah ini.
Perkembangan hari ke-20 perang ini menunjukkan ketegangan yang belum mereda dengan gejolak geopolitik dan kemanusiaan yang semakin dalam. Dampak langsung terhadap harga energi global, keamanan regional, dan dinamika politik dalam negeri Amerika Serikat memberikan gambaran yang kompleks tentang konflik yang masih jauh dari penyelesaian.
