Bahrain Menekan Pembangkang Saat Perang Iran-Memicu Luka Lama Di Dalam Negeri

Ketegangan perang Iran memicu gelombang penindakan baru di Bahrain, negara kepulauan yang dipimpin monarki Sunni tetapi berpenduduk mayoritas Syiah. Di tengah serangan rudal dan drone yang dikaitkan dengan Iran, otoritas Bahrain menahan puluhan orang atas dugaan mendukung musuh, merekam lokasi strategis, atau menyebarkan informasi yang dianggap mengganggu keamanan nasional.

Kasus kematian Mohamed al-Mousawi menjadi sorotan paling tajam dalam rangkaian penertiban itu. Pria Syiah berusia 32 tahun tersebut ditemukan meninggal setelah sempat hilang beberapa hari, dan keluarganya menyebut terdapat tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya saat jenazah dikembalikan dari rumah sakit militer.

Gelombang penahanan di tengah perang

Bahrain menjadi salah satu negara Teluk yang paling rentan terdampak perang Iran karena lokasi dan struktur demografinya. Negara itu juga menampung Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat, sehingga menjadikannya titik strategis yang kerap menjadi sasaran tekanan dari Iran.

Menurut data yang dikutip dari laporan AP, sejak perang dimulai sedikitnya 41 orang telah ditangkap, termasuk pekerja migran. Penangkapan itu terjadi karena mereka membagikan gambar serangan yang disebut otoritas sebagai “agresi Iran” atau karena menyampaikan simpati kepada Iran.

Pemerintah Bahrain menyebut langkah tersebut sebagai respons yang “langsung dan sepadan” terhadap serangan Iran. Otoritas juga menegaskan bahwa penangkapan dilakukan berdasarkan perilaku, bukan identitas mazhab, dan menolak tuduhan bahwa tindakan itu bernuansa sektarian.

Kematian al-Mousawi memicu kemarahan

Al-Mousawi bukan nama asing bagi aparat Bahrain karena ia pernah menjalani sekitar 11 tahun dari hukuman 21 tahun penjara. Ia sebelumnya dihukum atas tuduhan pembakaran dan keterlibatan dalam sel teroris, lalu dibebaskan pada tahun lalu melalui amnesti kerajaan.

Menurut kerabat dan teman dekat yang berbicara kepada AP tanpa menyebut nama karena khawatir akan pembalasan, al-Mousawi menghilang pada 19 Maret setelah menunaikan salat bersama dua teman. Keluarga baru mendapat panggilan untuk menjemput jenazahnya pada 27 Maret di rumah sakit militer.

Kerabat yang melihat jenazah di kamar jenazah mengatakan tubuh al-Mousawi tampak dipukul kabel, mengalami bekas sengatan listrik, serta luka bakar rokok di beberapa bagian. AP juga meninjau gambar tubuh al-Mousawi dan mendengar keterangan dari lima saksi yang melihatnya langsung.

Tanda-tanda penyiksaan yang diduga kuat

Ahli forensik Ahmed Banasr dari Physicians for Human Rights mengatakan luka-luka pada gambar tersebut konsisten dengan trauma benda tumpul. Ia juga menilai luka pada telapak kaki membantu menyingkirkan kemungkinan lain seperti terjatuh atau terlibat perkelahian biasa.

“Temuannya sangat konsisten dengan dugaan penyiksaan,” kata Banasr. Sementara itu, surat kematian dari rumah sakit militer menyebut al-Mousawi meninggal akibat serangan jantung, meski keluarga menyatakan ia tidak memiliki penyakit bawaan.

Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengatakan al-Mousawi ditahan oleh Badan Keamanan Nasional. Lembaga itu sebelumnya sempat dicabut wewenang penangkapannya setelah reformasi pascademonstrasi pada 2011, tetapi kewenangan tersebut dipulihkan pada 2017.

Pemerintah juga menyebut gambar luka al-Mousawi “tidak akurat dan menyesatkan”. Dalam pernyataan terpisah, Bahrain menekankan bahwa negara sedang mempertahankan keamanan nasional dan mengklaim adanya badan independen yang mengusut tuduhan penyalahgunaan wewenang.

Warisan represi yang kembali menguat

1. Jejak demonstrasi 2011 masih membekas
Aktivis HAM menilai gelombang penahanan baru ini menghidupkan lagi taktik keras yang pernah dipakai untuk memadamkan protes pro-demokrasi pada 2011. Tahun itu, keluarga Al Khalifa menumpas demonstrasi besar dengan bantuan pasukan dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

2. Polarisasi mazhab memperbesar kecurigaan
Bahrain, berbeda dengan banyak monarki Sunni di Teluk, memiliki mayoritas Syiah, sama seperti Iran. Kondisi itu membuat kritik terhadap pemerintah kerap dibingkai sebagai pengaruh Iran, terutama saat situasi keamanan memburuk.

3. Perang eksternal berdampak ke ruang sipil
Kelompok HAM menilai perang Iran memberi alasan baru bagi aparat untuk memperluas penindakan terhadap kritik domestik. Maryam al-Khawaja, aktivis Bahrain yang tinggal di luar negeri dan ayahnya dipenjara di Bahrain, mengatakan pendekatan pemerintah kini terasa lebih keras dibanding beberapa tahun terakhir.

Pemerintah menolak tudingan tersebut dan menyebut langkah keamanan sebagai reaksi terhadap serangan di wilayah Bahrain. Otoritas mengatakan mereka menindak individu yang merekam situs militer saat serangan aktif, membocorkan informasi sensitif, atau menyampaikan dukungan kepada negara yang baru saja menyerang Bahrain.

Kasus Hussein Fatiil menambah kekhawatiran

Ketegangan juga menyentuh warga muda yang ikut menyuarakan solidaritas terhadap Iran. Hussein Fatiil, 21 tahun, dan seorang temannya terekam mengibarkan poster pemimpin tertinggi Iran dalam aksi di depan Kedutaan Besar AS tak lama setelah perang pecah.

Menurut ayahnya, Naji Fatiil, keduanya dibawa pergi oleh polisi berpakaian sipil dalam mobil tanpa tanda pengenal hanya beberapa menit setelah video itu diunggah ke media sosial. Beberapa jam kemudian, mereka sempat menelepon keluarga dari kantor polisi setelah diperiksa.

Tiga hari kemudian, Hussein mengatakan kepada keluarga bahwa ia didakwa dengan lima pelanggaran, termasuk penyalahgunaan media sosial, menghasut kebencian, dan pengkhianatan. Ayahnya menyebut tuduhan itu sangat berlebihan dan khawatir hukuman terberat bisa dijatuhkan kepada putranya.

“Semua yang diinginkan hanyalah agar anaknya hidup normal dan tidak dijatuhi hukuman mati,” kata Naji Fatiil. Di Bahrain, tuduhan pengkhianatan dapat berujung penjara seumur hidup atau hukuman mati.

Bahrain di bawah bayang-bayang serangan Iran

Bahrain mencatat lebih dari 600 serangan drone dan rudal Iran selama perang berlangsung, dengan sedikitnya dua orang tewas dan sejumlah fasilitas penting terdampak. Infrastruktur yang disebut terkena serangan termasuk pabrik desalinasi, kilang minyak, dan pabrik aluminium.

Iran juga berulang kali menargetkan markas Armada Kelima AS di Bahrain. Di tengah situasi itu, sejumlah demonstran menyebarkan video yang memperlihatkan perayaan atas serangan ke Bahrain serta ungkapan duka atas kematian Ayatollah Ali Khamenei, menurut rekaman yang dilihat AP.

Pemerintah menilai semua itu sebagai bukti bahwa tindakan penegakan hukum diperlukan untuk mencegah ancaman yang lebih luas. Namun bagi kelompok HAM dan keluarga para tahanan, rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa perang regional kini dipakai untuk memperkeras kontrol atas masyarakat di dalam negeri.

Exit mobile version