Bertahan Di Tengah Reruntuhan, Wanita Gaza Hidupkan Tradisi Eid Dengan Api Kayu dan Harapan Baru

Di tengah puing-puing yang masih mengelilingi rumahnya di Gaza Utara, seorang perempuan bernama Samira Touman terus mempertahankan tradisi memasak kue khas Lebaran. Meski menghadapi keterbatasan bahan baku dan tidak ada pasokan gas memasak, Samira bersama keluarga tetap sibuk menyiapkan kaak dan maamoul untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Samira, ibu berusia 60 tahun dengan tujuh anak, bekerja bersama anak perempuan dan menantunya di dapur yang sudah sebagian rusak akibat konflik. Mereka menggunakan oven kayu dan memanfaatkan potongan furnitur yang dihancurkan sebagai bahan bakar untuk memanggang kue, berjuang menghidupkan semangat tradisi di tengah situasi sulit yang melanda Gaza.

Mempertahankan Tradisi di Tengah Krisis

Proses pembuatan kue Lebaran ini menjadi penting bagi Samira dan keluarganya sebagai upaya menjaga kelangsungan budaya dan rasa kebersamaan. Semua bahan diolah dengan tangan, mulai dari membuat adonan hingga mengisi kue dengan pasta kurma dan wijen. Kue-kue itu tidak hanya untuk kebutuhan rumah sendiri, tetapi juga memenuhi pesanan tetangga dan pelanggan, sehingga menambah penghasilan keluarga menjelang hari raya.

“Kami merasa bahagia saat melihat permintaan sangat baik walaupun bahan makanan semakin mahal,” ujar Samira. Namun, harga bahan-bahan pokok seperti tepung, gula, semolina, ghee, dan pasta kurma melonjak drastis, terutama setelah penutupan perbatasan Gaza yang dilakukan Israel sejak awal perang yang meletus bulan Oktober lalu.

Dampak Penutupan Perbatasan dan Kenaikan Harga

Penutupan perbatasan memperparah kesulitan warga Gaza. Pasokan barang dan makanan terbatas, sehingga harga kebutuhan pokok membengkak hingga dua kali lipat. Meskipun perbatasan sudah dibuka sebagian kembali, harga barang tetap tinggi dan masyarakat tetap kesulitan mendapatkan bahan-bahan penting.

Situasi ini menimbulkan dilema bagi banyak keluarga dalam memilih antara mempertahankan tradisi dengan membeli bahan mahal atau menghemat demi kebutuhan sehari-hari. Tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di Gaza menambah berat beban tersebut, membuat banyak warga harus menyesuaikan prioritas pengeluaran.

Kehidupan di Rumah yang Rusak dan Ketidakpastian Masa Depan

Samira bercerita bahwa keluarganya baru sebulan kembali ke rumah mereka setelah sempat mengungsi akibat serangan dan invasi Israel di Gaza Selatan. Rumah mereka di Gaza Utara hancur sebagian dan lingkungan sekitar dipenuhi reruntuhan. Ia merasa berat untuk kembali, namun desakan keluarga memaksa untuk pulang.

Meski intensitas serangan menurun pasca gencatan senjata Oktober, serangan sporadis dan ketidakstabilan pintu perbatasan membuat kehidupan di Gaza penuh ketidakpastian. Samira mengungkapkan kekhawatirannya akan komitmen yang belum terpenuhi oleh Israel terkait akses kemanusiaan dan penghentian agresi, sehingga warga masih hidup dalam kondisi yang sangat sulit dan serba terbatas.

Keterbatasan Sarana Memasak dan Penurunan Daya Dukung Usaha

Sebelum perang, Samira sempat menjalankan usaha rumahan yang cukup maju dengan peralatan lengkap seperti mixer listrik, oven, dan berbagai alat masak lainnya. Kini semuanya hilang, usaha harus dimulai kembali dari nol dengan peralatan sederhana dan keterbatasan bahan baku.

Dalam kondisi tanpa gas untuk memasak, Samira menggunakan kayu dari potongan furniture bekas yang dihancurkan sebagai bahan bakar ovennya. Ia menyayangkan perubahan drastis dalam cara memasak yang dulu rapi dan bersih, kini penuh dengan asap dan abu.

Upaya Bertahan Hidup Lewat Tradisi Kuliner

Meski banyak tantangan, Samira dan keluarga tetap berupaya melanjutkan tradisi memasak kue Lebaran untuk menjaga rasa kebersamaan dan memberikan kegembiraan kecil di tengah krisis. Kue-kue yang dibuat menjadi simbol harapan bagi mereka dan para tetangga yang juga ingin merasakan kehangatan perayaan meski sederhana.

Samira berharap Lebaran kali ini memberikan titik awal yang lebih baik bagi kehidupan warga Gaza. Ia menginginkan stabilitas akses bahan makanan, turunnya harga pokok, serta masuknya bantuan dan bahan bangunan demi membangun kembali kehidupan yang terdampak berkepanjangan. Harapan itu menjadi penguat semangat di balik aromanya yang menguar dari oven kayu di rumah yang masih penuh puing.

Exit mobile version