Where Did The Experts Go The State Department Cuts That Crippled The Iran War Effort

Perang yang semakin intensif di wilayah Iran seharusnya menjadi fokus utama Biro Urusan Timur Dekat di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Namun, biro tersebut kini menghadapi tantangan besar akibat pengurangan sumber daya dan penurunan jumlah staf berpengalaman.

Biro yang biasanya dipimpin oleh diplomat senior dan menjadi penghubung kebijakan luar negeri Amerika di kawasan 18 negara itu mengalami pemangkasan anggaran hingga 40 persen. Selain itu, kantor khusus untuk Iran juga telah dilebur dengan kantor Irak.

Dampak Pengurangan Staf dan Manajemen

Ratusan diplomat berpengalaman telah diberhentikan, pensiun dini, atau dipindahkan, digantikan oleh pejabat yang lebih junior atau politisi yang kurang berpengalaman. Lebih dari 80 staf di Biro Urusan Timur Dekat hilang dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Ketua asisten biro untuk urusan Timur Dekat pun hingga kini belum diisi secara permanen.

Sumber anonim dari pejabat saat ini dan mantan pejabat menyebut bahwa keputusan penting sering diambil oleh lingkaran kecil di sekitar Presiden tanpa masukan dari para ahli karir diplomatik. Kondisi ini membuat analisis dan rekomendasi profesional yang tersisa kerap tidak dipertimbangkan.

Turunnya Kualitas dan Koordinasi Kebijakan

Mantan pejabat diplomatik memperingatkan bahwa hilangnya jaringan keahlian ini membatasi kemampuan pemerintah AS untuk merespons krisis global, termasuk konflik di Iran. Banyak dari staf senior yang dipecat memiliki pengalaman puluhan tahun di kawasan tersebut.

Keputusan militer dan diplomasi kini lebih banyak diambil tanpa koordinasi dengan badan lain dalam pemerintahan, seperti Dewan Keamanan Nasional yang jumlah anggotanya juga telah dipangkas. Hal ini mengakibatkan respons yang kurang terencana dan terbuka terhadap kemungkinan eskalasi serangan balasan Iran.

Perencanaan Evakuasi yang Tidak Memadai

Ketika AS melancarkan serangan ke Iran, beberapa kedutaan besar, seperti di Yerusalem, sudah mulai mengatur evakuasi, tetapi sebagian besar kedutaan lain tidak melakukan persiapan serupa. Ini menyebabkan warga AS yang tinggal, bekerja, atau belajar di kawasan konflik terjebak dalam situasi berbahaya.

Departemen Luar Negeri baru mengeluarkan peringatan perjalanan dan ajakan evakuasi setelah serangan Iran sudah berlangsung, padahal para mantan pejabat menilai rencana tersebut harus sudah disiapkan jauh sebelum konflik memuncak.

Kehilangan Kemampuan Bahasa dan Keahlian Khusus

Pengurangan pegawai juga berarti hilangnya tenaga ahli yang menguasai bahasa Arab dan Farsi, yang telah dilatih dengan biaya pemerintah mencapai puluhan juta dolar. Hilangnya keahlian ini memperlemah kapasitas diplomatik AS untuk memahami dan merespons dinamika lokal secara efektif.

Langkah-Langkah Darurat yang Dijalankan

Untuk mengatasi kekurangan staf, Departemen Luar Negeri membentuk dua gugus tugas sementara, satu untuk mendukung Biro Urusan Timur Dekat dan satu lagi untuk urusan konsuler dalam menangani evakuasi warga AS. Meski ratusan perwira dinas luar negeri yang diberhentikan tetap dalam daftar gaji dan menawarkan bantuan, departemen mengklaim bahwa gugus tugas sudah memiliki personel yang cukup.

Kritik dan Respons dari Para Politisi dan Pakar

Senator Jeanne Shaheen, tokoh demokratis yang mengepalai Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyebut pengurangan staf mengancam keselamatan warga AS di luar negeri. Sementara itu, CEO Partnership for Public Service Max Stier menilai pengambilan keputusan tanpa masukan ahli-lah yang membuat pemerintahan terkesan tidak siap menghadapi konsekuensi besar dari operasi militer tersebut.

Negara-negara di Timur Tengah terus menghadapi ketegangan dan konflik yang kompleks. Dengan berkurangnya sumber daya dan pengalaman diplomatik, kemampuan AS dalam mengelola krisis regional menjadi semakin terbatas. Pengalaman di lapangan dan keahlian khusus menjadi aset penting yang saat ini sangat dibutuhkan dalam menghadapi situasi yang terus berkembang ini.

Berita Terkait

Back to top button