Selama hampir tiga minggu perang di Lebanon, dokter spesialis bedah plastik Ghassan Abu-Sittah bekerja tanpa henti untuk menyelamatkan anak-anak yang terluka akibat serangan udara Israel. Di unit perawatan intensif anak Rumah Sakit American University of Beirut, ia menerima kasus-kasus kritis dari seluruh negeri, di mana orang tua yang putus asa berharap anak-anak mereka bisa bertahan hidup.
Serangan udara Israel yang menggempur kawasan padat penduduk di Beirut Pusat menyebabkan beberapa anak terluka berat, termasuk seorang gadis berusia 11 tahun yang menderita serpihan logam di perut dan amputasi sebagian kaki. Dokter Abu-Sittah memastikan kondisinya sudah stabil, meskipun cedera tersebut memerlukan perawatan intensif dan operasi berkala.
Konflik di Lebanon bermula dari serangan roket oleh Hezbollah sebagai pembalasan atas pembunuhan pemimpin Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan Israel-AS. Saat ini, pemerintah Lebanon mencatat korban anak-anak mencapai 118 yang meninggal dan 370 terluka. Abu-Sittah mengatakan luka yang dialami sangat parah, meliputi amputasi anggota tubuh, cedera otak, serta serpihan di wajah dan mata, yang membutuhkan banyak tindakan operasi berulang.
Perjuangan Dokter di Tengah Medan Perang
Dokter Abu-Sittah menggambarkan peperangan sebagai "penyakit endemik" di Timur Tengah yang sulit diatasi. Meskipun sudah terbiasa menghadapi korban perang, ia mengaku tidak pernah bisa membiasakan diri melihat anak-anak menjadi korban luka berat. Ia menegaskan, setiap anak yang terluka harus diingat sebagai individu, bukan sekadar angka statistik.
Riwayat karier Abu-Sittah berawal saat ia masih mahasiswa kedokteran di masa perang Teluk, dan sejak itu berkomitmen penuh merawat warga sipil terluka di wilayah konflik seperti Gaza, Lebanon, Irak, dan Yaman. Setelah konflik terkini di Gaza pasca serangan Hamas, Abu-Sittah menghabiskan lebih dari sebulan di sana dan kini ia melanjutkan perjuangannya di Lebanon, yang digambarkan sebagai versi kecil dari Gaza.
Tantangan Fasilitas Kesehatan dan Evakuasi
Perang ini juga memberikan dampak besar pada sistem kesehatan Lebanon. Kementerian Kesehatan melaporkan 40 tenaga kesehatan tewas dan 119 lainnya terluka. Empat rumah sakit di pinggiran selatan Beirut terpaksa mengungsi, salah satunya yang memiliki unit perawatan intensif anak.
Kesulitan terbesar adalah proses pemindahan anak-anak terluka dari daerah yang fasilitas kesehatannya kurang memadai ke Beirut. Serangan udara yang menargetkan ambulans menghambat evakuasi, sampai-sampai pemindahan hanya dapat dilakukan di siang hari dengan risiko tinggi. Ketegangan ini juga diwarnai tuduhan dari militer Israel terhadap Hezbollah yang dituding menggunakan ambulans untuk tujuan militer, yang dibantah oleh kementerian kesehatan Lebanon sebagai pembenaran untuk kejahatan kemanusiaan.
Dukungan Jangka Panjang untuk Anak-Anak Luka Palang
Pada tahun ini, Abu-Sittah mendirikan Ghassan Abu-Sittah Children’s Fund yang bertujuan memberikan perawatan medis dan dukungan berkelanjutan bagi anak-anak yang terluka di Gaza dan Lebanon. Pasien termuda yang ia tangani di Lebanon kini adalah anak laki-laki berusia empat tahun yang kehilangan seluruh keluarganya akibat perang serta mengalami cedera kepala dan amputasi kaki.
Abu-Sittah menyoroti tantangan besar dalam perawatan jangka panjang, terutama bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin tanpa dukungan memadai. Selain luka fisik, mereka juga menanggung trauma psikologis dan kerusakan pada struktur keluarga yang sempat memberikan perlindungan.
Data Penting:
- Jumlah anak tewas di Lebanon: 118 jiwa
- Jumlah anak terluka: 370 jiwa
- Tenaga kesehatan tewas: 40 orang
- Tenaga kesehatan terluka: 119 orang
- Rumah sakit yang terpaksa mengungsi: 4 unit
Kasus-kasus yang dihadapi oleh dokter Ghassan Abu-Sittah mencerminkan penderitaan anak-anak yang menjadi korban konflik bersenjata dalam sektor kesehatan yang sangat tertekan. Perjuangan tanpa henti mereka adalah upaya nyata untuk memberi harapan di tengah kehancuran perang yang tak kunjung usai.









