Iran mengklaim bahwa fasilitas nuklir Natanz menjadi sasaran serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan ini disampaikan oleh Organisasi Energi Atom Iran melalui kantor berita Tasnim, menegaskan bahwa serangan tersebut terjadi di kompleks pengayaan uranium Natanz, salah satu situs penting dalam program nuklir Iran.
Menurut laporan Tasnim, tidak ada kebocoran bahan radioaktif yang terdeteksi di fasilitas pengayaan Shahid Ahmadi Roshan di Natanz. Ini menunjukkan bahwa serangan tersebut tidak menyebabkan dampak lingkungan berbahaya bagi penduduk di sekitar area tersebut, yang berjarak sekitar 220 kilometer tenggara Tehran.
Konteks Serangan di Natanz
Fasilitas Natanz sebelumnya juga diserang selama konflik berdurasi 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025. Serangan kali ini dinilai sebagai kelanjutan dari upaya menghentikan kemampuan nuklir Iran, yang secara terbuka pernah dinyatakan sebagai tujuan oleh pemerintahan Trump saat itu. Al Jazeera mengutip pernyataan Ali Hashem dari Tehran yang menuturkan bahwa Iran saat ini memiliki sekitar 400 kilogram uranium tingkat tinggi, yang dikhawatirkan dapat digunakan untuk pembuatan senjata nuklir.
Hashem juga mengindikasikan bahwa serangan ini bisa menjadi tanda adanya kemungkinan eskalasi serangan berikutnya pada fasilitas nuklir Iran.
Reaksi Internasional dan Seruan Penahanan Diri
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa Iran telah memberi informasi terkait serangan ini. IAEA memastikan tidak ada peningkatan tingkat radiasi di luar lokasi fasilitas dan sedang melakukan investigasi atas laporan tersebut. Kepala IAEA, Rafael Grossi, mengingatkan pentingnya penahanan diri agar tidak terjadi kecelakaan nuklir selama konflik berlangsung.
Rusia mengecam keras serangan terbaru ini, menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran jelas terhadap hukum internasional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyampaikan pernyataan ini untuk mendukung stabilitas dan kedaulatan negara anggota PBB.
Pernyataan dari Pihak Amerika Serikat dan Israel
Gedung Putih menegaskan bahwa salah satu tujuan utama operasi militer bersama dengan Israel sejak akhir Februari adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Menurut laporan, Natanz sudah pernah terkena kerusakan signifikan dalam pekan pertama perang berdurasi 22 hari sebelumnya.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam peningkatan intensitas serangan terhadap rezim Iran dan infrastruktur pendukungnya dalam minggu mendatang. Sementara itu, Komandan US Central Command, Admiral Brad Cooper, menyatakan bahwa sekitar 8.000 target militer di Iran telah diserang. Ia menilai kemampuan tempur Iran terus menurun seiring dengan peningkatan serangan ofensif yang dijalankan oleh koalisi.
Dampak dan Potensi Eskalasi Konflik
Serangan terhadap Natanz menambah ketegangan yang sudah tinggi di wilayah Timur Tengah. Fasilitas tersebut merupakan pusat utama program nuklir Iran yang mendapat pengawasan ketat dari komunitas internasional. Kerusakan di fasilitas ini bisa memperburuk hubungan diplomatik dan meningkatkan risiko konflik militer yang lebih luas.
Memang, kekhawatiran atas pengembangan senjata nuklir oleh Iran menjadi alasan utama tindakan militer yang diambil AS dan Israel. Namun, konsekuensi dari serangan ini juga membawa potensi bahaya tidak hanya dari sisi militer, tetapi juga keamanan nuklir dan stabilitas regional yang rentan terhadap eskalasi cepat.
Informasi terkait keamanan nuklir dan perkembangan konflik di Natanz akan terus dipantau oleh lembaga internasional dan pihak-pihak terkait guna mencegah insiden yang lebih serius dalam waktu dekat.









