Duta Besar Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan udara terhadap fasilitas pengayaan uranium Natanz di Iran. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Reza Najafi pada sebuah sesi khusus Dewan Gubernur IAEA di Wina, yang digelar atas permintaan Rusia.
Najafi menegaskan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas nuklir damai Iran, membantah klaim bahwa Teheran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Ia menyebut tuduhan itu sebagai "kebohongan besar" dan mengutuk tindakan militer tersebut sebagai serangan yang tidak sah dan kejam.
Fasilitas Natanz dan Pengayaan Uranium
Lokasi Natanz, yang terletak sekitar 220 kilometer di selatan Teheran, merupakan pusat pengayaan uranium utama Iran. Di sini terdapat campuran laboratorium di permukaan dan bawah tanah yang digunakan untuk memperkaya uranium. Sebelum munculnya konflik, IAEA mengungkap bahwa Iran menggunakan sentrifugal canggih di Natanz untuk memperkaya uranium hingga 60%, nyaris mendekati tingkat uranium untuk senjata nuklir yaitu 90%.
Pada pertengahan Juni, fasilitas utama pengayaan di Natanz yaitu Pilot Fuel Enrichment Plant mengalami serangan bom dari Israel yang menyebabkan kerusakan parah. Selanjutnya, serangan udara dari Amerika Serikat pada tanggal 22 Juni menyasar fasilitas bawah tanah Natanz menggunakan bom penetrator, yang diyakini menghancurkan sisa-sisa fasilitas tersebut.
Posisi IAEA mengenai Dampak Serangan
Berbeda dengan tuduhan Iran, Kepala IAEA Rafael Mariano Grossi menyatakan bahwa sejauh ini tidak ada indikasi fasilitas nuklir Iran mengalami kerusakan akibat serangan militer. Ia menyampaikan hal ini dalam sesi Dewan Gubernur, menyebutkan fasilitas termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr dan Reaktor Penelitian Teheran masih tidak terdampak.
Grossi juga menjelaskan bahwa komunikasi dengan otoritas nuklir Iran sulit dilakukan akibat konflik yang berlangsung. Dia mendesak semua pihak untuk menunjukkan pengekangan militer demi menjaga keamanan nuklir, memperingatkan risiko terkait fasilitas nuklir operasional yang terkena dampak.
Kritik terhadap Amerika Serikat dan Seruan Diplomasi
Tuduhan Iran terhadap serangan dari Amerika mengandung kritik keras terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai memicu konflik. Najafi menuduh AS menggunakan "deceptive disinformation" untuk menginvasi negara lain dan menolak klaim Trump sebagai pembawa perdamaian.
Najafi menyerukan kepada 35 negara anggota Dewan Gubernur IAEA agar mengecam serangan tersebut secara tegas. Ia menilai tindakan ini bukan hanya melanggar hukum internasional, tapi juga mengancam stabilitas keamanan regional.
Pentingnya Pengawasan Internasional terhadap Fasilitas Nuklir
Kasus Natanz menegaskan kompleksitas ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama terkait program nuklir Iran yang terus menjadi sorotan global. Pemantauan dari IAEA berperan penting untuk memastikan program nuklir digunakan sesuai standar damai dan mencegah eskalasi konflik militer.
Sementara itu, ketidakpastian komunikasi dan berita saling bertolak belakang antara Tehran dan pengawas nuklir internasional menunjukkan perlunya dialog terbuka dan mediasi untuk menghindari risiko keamanan yang lebih besar. Keberlangsungan fasilitasi pengawasan dan keterbukaan data nuklir sangat penting demi terciptanya transparansi dan pengurangan ketegangan antarnegara.









