Laporan terbaru Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menegaskan bahwa Iran harus membuka akses penuh bagi inspeksi ke semua lokasi nuklirnya. Salah satu titik fokus yang disorot adalah Isfahan, tempat yang menjadi perhatian karena adanya fasilitas pengayaan uranium baru dan penyimpanan uranium tingkat hampir senjata nuklir.
Dalam laporan rahasia yang dikirim ke anggota Dewan IAEA, badan ini menegaskan pentingnya pemeriksaan demi memastikan transparansi aktivitas nuklir Iran. Ini disampaikan menjelang pertemuan triwulanan Dewan IAEA yang dihadiri 35 negara, di tengah negosiasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menghasilkan terobosan.
IAEA mengindikasikan bahwa situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya muncul akibat serangan militer AS dan Israel ke fasilitas nuklir Iran tahun lalu. Serangan tersebut mendorong Iran menutup akses bagi inspektur IAEA dan tidak mengungkapkan kondisi persediaan uranium tingkat tinggi yang dimilikinya.
Laporan tersebut menyatakan bahwa pelaksanaan inspeksi secara tepat waktu dan penuh adalah “sangat mendesak dan tak tergantikan”. Hasil positif dalam pembicaraan AS-Iran akan berdampak baik bagi pelaksanaan pengawasan IAEA dan penyelesaian isu-isu yang tertuang dalam laporan tersebut.
Menurut perhitungan IAEA, sebelum serangan, Iran memiliki sekitar 440,9 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Jumlah ini dinilai cukup untuk diproses menjadi bahan nuklir senjata hingga 10 buah, menurut standar IAEA. Pihak Barat dan IAEA meyakini sebagian besar persediaan ini masih ada, dan AS menuntut agar Iran menyerahkannya.
Fokus perhatian IAEA kini tertuju pada lokasi di Isfahan. Di sana terdapat kompleks terowongan yang digambarkan sebagai tempat penyimpanan uranium tingkat tinggi yang berhasil lolos dari serangan. Ini merupakan kali pertama agen tersebut menegaskan penyimpanan uranium yang diperkaya hingga 20 persen dan 60 persen di lokasi tersebut.
Citra satelit juga menunjukkan adanya aktivitas kendaraan secara rutin di sekitar pintu masuk terowongan penyimpanan uranium di Isfahan. Kejadian ini menambah kekhawatiran bahwa Iran belum memberikan akses inspeksi ke fasilitas tersebut secara bebas.
Serangan tahun lalu yang dilakukan oleh AS dan Israel diperkirakan telah menghancurkan atau merusak tiga situs pengayaan uranium di Iran. Namun, sebelum serangan berlangsung, Iran mengumumkan akan membangun fasilitas pengayaan keempat di Isfahan. Saat ini, IAEA belum mengetahui lokasi tepat maupun status operasional fasilitas ini.
IAEA menyatakan bahwa ketidakjelasan akses ke fasilitas pengayaan keempat ini menjadi perhatian serius. Bahkan sampai saat ini, Iran tidak memberikan akses apa pun kepada badan tersebut sejak deklarasi fasilitas itu bulan Juni lalu.
Situasi ini menggambarkan kompleksitas pengawasan dan tantangan diplomasi nuklir di kawasan. Keterbukaan Iran terhadap inspeksi adalah kunci untuk membangun kepercayaan internasional dan mencegah eskalasi ketegangan yang berpotensi memicu konflik lebih luas.
Hingga pertemuan Dewan IAEA berlangsung, dunia internasional terus mengawasi perkembangan ini dengan seksama. Penegakan transparansi nuklir melalui inspeksi ketat tetap menjadi agenda penting agar proses negosiasi berjalan di jalur yang konstruktif dan aman.







