Militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon, yang dikenal sebagai Dahiyeh. Serangan itu langsung menarik perhatian karena terjadi saat kesepakatan gencatan senjata dengan Hizbullah masih berlaku.
Berdasarkan laporan Anadolu, pesawat tempur Israel membombardir kawasan tersebut tanpa peringatan sebelumnya kepada warga. Ledakan keras terdengar di sejumlah titik, lalu asap tebal terlihat membubung dari area yang menjadi sasaran.
Dahiyeh kembali jadi titik sorotan
Dahiyeh selama ini dikenal sebagai salah satu basis kuat Hizbullah di ibu kota Lebanon. Karena itu, setiap serangan ke kawasan ini hampir selalu memunculkan kekhawatiran baru atas arah eskalasi konflik di perbatasan Israel-Lebanon.
Serangan terbaru juga memicu pertanyaan soal daya tahan gencatan senjata yang masih berjalan. Situasi keamanan di Lebanon selatan dan sekitarnya kembali dinilai rapuh, terutama karena insiden saling serang belum sepenuhnya berhenti.
Israel mengklaim sasaran terkait Hizbullah
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut serangan tersebut diarahkan ke lokasi yang diklaim berkaitan dengan Hizbullah. Hingga laporan ini disusun, belum ada rincian tambahan mengenai target yang diserang maupun dampak langsung terhadap fasilitas di lokasi itu.
Keterbatasan informasi resmi membuat situasi di lapangan masih belum sepenuhnya jelas. Namun, serangan ke Beirut selatan tetap memperkuat kesan bahwa konflik belum benar-benar mereda meski ada kesepakatan penghentian sementara.
Serangan datang setelah desakan pejabat Israel
Waktu serangan ini ikut menjadi sorotan karena terjadi hanya beberapa jam setelah dua pejabat senior Israel menyerukan aksi terhadap Dahiyeh. Kepala Otoritas Keamanan Israel, Itamar Ben-Gvir, dan Kepala Otoritas Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, sebelumnya mendesak serangan udara ke kawasan pinggiran selatan Beirut.
Desakan itu muncul setelah dua pesawat nirawak yang disebut berasal dari Hizbullah menyerang wilayah utara Israel. Seruan tersebut menuai perhatian karena disampaikan saat gencatan senjata yang mulai berlaku sejak 17 April 2026 masih berjalan.
Ketegangan belum mereda di perbatasan
Dalam beberapa bulan terakhir, perbatasan Israel-Lebanon terus diwarnai operasi militer dan insiden yang saling memicu respons. Militer Israel disebut masih menjalankan operasi di Lebanon sejak 2 Maret 2026, termasuk serangan udara dan pendudukan di sejumlah wilayah selatan Lebanon.
Situasi itu membuat kawasan perbatasan tetap rawan eskalasi sewaktu-waktu. Serangan ke Beirut selatan pun menambah kekhawatiran bahwa ketegangan yang berlangsung selama berbulan-bulan bisa meluas kembali.
Dampak kemanusiaan terus membesar
Otoritas Lebanon mencatat konflik yang berlangsung sejak awal Maret telah menimbulkan kerugian kemanusiaan besar. Berdasarkan data pemerintah Lebanon, serangan Israel sejak 2 Maret 2026 telah menewaskan lebih dari 3.700 orang, melukai hampir 11.500 orang, dan memaksa lebih dari 1,5 juta warga mengungsi.
Angka itu menunjukkan besarnya tekanan yang ditanggung warga sipil di Lebanon. Selain korban jiwa dan luka-luka, perpindahan penduduk dalam jumlah besar juga memperburuk akses terhadap tempat tinggal, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban atau kerusakan akibat serangan udara di kawasan Dahiyeh, Beirut selatan. Serangan terbaru ini tetap menjadi ujian lain bagi gencatan senjata yang ada, sekaligus menempatkan stabilitas Lebanon pada titik yang kembali sensitif.
Source: www.viva.co.id






