Silence Not An Option, Kata Aktivis Sikh Kanada Hadapi Ancaman Pembunuhan Kian Nyata

Moninder Singh, aktivis Sikh asal Kanada, menerima ancaman pembunuhan terhadap keluarganya di tengah ketegangan dengan pemerintah India. Meski demikian, Singh menegaskan bahwa diam bukanlah pilihan bagi dirinya dan komunitas Sikh di Kanada yang menghadapi tekanan politik dan kekerasan.

Singh berbicara di kantor PBB di Jenewa, menyerukan tindakan internasional untuk menghentikan tekanan lintas negara terhadap aktivis Sikh yang menurut mereka menjadi target Operasi India di sejumlah negara. Kasus paling mencuat adalah pembunuhan Hardeep Singh Nijjar pada tahun lalu, seorang tokoh Sikh yang ditembak mati dekat kuil di Vancouver. Pemerintah Kanada bahkan menuduh India terlibat, dan hal ini memicu krisis diplomatik yang berujung pada pengusiran diplomat kedua belah pihak.

Ancaman Berulang dan Kekhawatiran Terhadap Keselamatan

Singh mengaku telah menerima tiga kali peringatan dari polisi Kanada soal ancaman nyawanya dan keluarganya yang dikatakan sangat serius. Ancaman tersebut mencakup rencana pembunuhan dirinya, istri, dan dua anaknya. Ia percaya pemerintah India berada di balik ancaman ini, meskipun aparat keamanan Kanada belum secara resmi mengonfirmasi hal tersebut. Polisi pun menyampaikan bahwa ancaman "mencakup keluarganya," menggarisbawahi betapa seriusnya risiko yang dihadapi.

Singh menyatakan bahwa ancaman tersebut justru semakin memotivasi dirinya untuk berjuang. Ia menyebut saat ini waktunya menggandakan usaha dan tidak membiarkan intimidasi membuatnya mundur. Keberanian seperti yang ditunjukkan sahabatnya, Nijjar, menjadi inspirasi untuk tetap vokal dan memperjuangkan hak komunitas Sikh.

Konteks Konflik dan Kampanye Khalistan

Aktivisme Singh dan Nijjar terkait dengan gerakan Khalistan, sebuah gerakan separatis yang menuntut pembentukan negara Sikh merdeka. Kampanye ini bermula sejak kemerdekaan India dan telah menjadi sumber perselisihan besar antara komunitas Sikh diaspora dengan pemerintah India. India menuding gerakan ini sebagai ancaman keamanan dan menolak tuduhan keterlibatan dalam serangan terhadap aktivis di luar negeri.

Meskipun ketegangan diplomatik pernah mereda setelah pergantian kepemimpinan di Kanada dan penandatanganan sejumlah perjanjian dagang baru dengan India, Singh menganggap normalisasi hubungan itu terlalu cepat dan tidak mencerminkan perubahan nyata terkait perlindungan aktivis Sikh di luar negeri.

Seruan Internasional untuk Penyelidikan dan Perlindungan Aktivis

Singh dan sejumlah aktivis Sikh mendesak Dewan Hak Asasi Manusia PBB agar menunjuk ahli khusus untuk menyelidiki tindakan represif lintas negara, termasuk pembunuhan dan intimidasi terhadap aktivis. Ben Saul, Pelapor Khusus PBB mengenai perlindungan hak saat melawan terorisme, menilai fokus yang lebih kuat terhadap isu ini sangat dibutuhkan.

Sejumlah pakar HAM PBB telah meminta penjelasan dari pemerintah India terkait pembunuhan Nijjar dan statusnya sebagai "teroris" menurut otoritas India. Namun, mereka menilai tanggapan India tidak memadai dan menunjukkan bahwa penindasan terhadap diaspora Sikh justru semakin memburuk. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan serius di tingkat internasional karena membuka ruang kekerasan dan pelanggaran HAM di wilayah internasional.

Moninder Singh dan komunitas Sikh di Kanada serta di seluruh dunia kini berada di persimpangan kritis. Mereka harus menghadapi risiko tinggi dari ancaman pembunuhan sekaligus memperjuangkan pengakuan dan perlindungan hak secara internasional. Situasi ini menunjukkan tantangan berat dalam menjaga kebebasan berpendapat dan hak berorganisasi di tengah dinamika diplomasi dan keamanan global yang kompleks.

Berita Terkait

Back to top button