Negara-negara di Asia meningkatkan penggunaan batu bara sebagai respons terhadap gangguan pasokan minyak dan gas akibat konflik di Iran. Kawasan ini sangat bergantung pada bahan bakar impor yang banyak melewati Selat Hormuz, jalur penting sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam dunia.
Gas alam cair atau LNG selama ini dipromosikan sebagai bahan bakar jembatan dalam peralihan dari minyak dan batu bara ke energi yang lebih bersih. Amerika Serikat telah memperluas ekspor LNG ke Asia. Meski lebih bersih dari batu bara, LNG tetap melepaskan gas rumah kaca, terutama metana.
Namun, perang di Iran mendorong beberapa negara Asia kembali menggunakan batu bara untuk menutupi kekurangan LNG. India meningkatkan pembakaran batu bara untuk memenuhi kebutuhan listrik musim panas. Korea Selatan menghapus batasan penggunaan batu bara dalam pembangkit listrik. Indonesia memprioritaskan pemanfaatan batu bara domestik. Thailand, Filipina, dan Vietnam memperbanyak pembangkit listrik berbasis batu bara.
Kenaikan penggunaan batu bara berpotensi memperparah polusi udara di kota besar dan memperlambat transisi ke energi terbarukan. Emisi gas rumah kaca di wilayah ini juga berisiko meningkat signifikan. Para ahli menegaskan batu bara hanya solusi jangka pendek, sedangkan pengembangan energi terbarukan tetap menjadi langkah jangka panjang yang krusial.
Peningkatan Permintaan dan Ketergantungan pada Batu Bara
Batu bara menjadi bagian utama dalam rencana darurat energi Asia karena ketersediaannya yang melimpah. Menurut Sandeep Pai dari Duke University, batu bara menjadi pilihan utama ketika pasokan gas dan energi terbarukan tidak mencukupi. China sebagai konsumen dan produsen batu bara terbesar di dunia terus menambah kapasitas pembangkit batu bara sejak dua tahun lalu demi keamanan energi.
India, konsumen batu bara terbesar kedua, bersiap menghadapi musim panas yang sangat panas dan memperkirakan puncak permintaan listrik mencapai 270 gigawatt, dua kali lipat kapasitas produksi listrik negara-negara seperti Spanyol. Stok batu bara India cukup untuk tiga bulan, sebagian dialokasikan untuk usaha kecil.
Beberapa pengiriman LPG India yang melewati Selat Hormuz diperkirakan akan lebih difokuskan untuk industri seperti produksi pupuk, bukan untuk pembangkit listrik. Pendukung batu bara seperti Michelle Manook dari FutureCoal menyatakan bahwa ketiadaan batu bara akan memperburuk kekurangan energi, namun penggunaan batu bara harus dilakukan secara strategis untuk menjaga keberagaman sumber energi.
Dampak Perubahan Pasokan Batu Bara dari Indonesia
Indonesia, produsen batu bara terbesar dunia, kini lebih memprioritaskan pemakaian dalam negeri daripada ekspor. Hal ini berpotensi menekan pasokan regional dan menaikkan harga batu bara global, menurut Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute. Harga batu bara di pasar dunia, khususnya jenis Newcastle dari Australia yang banyak dipakai di Asia, naik 13 persen sejak perang di Iran berlangsung.
Vietnam menghadapi ketidakpastian pasokan dari Indonesia sehingga mempertimbangkan impor batu bara dari Amerika Serikat dan Laos. Filipina sudah menyatakan kondisi darurat energi nasional yang bisa berdampak pada stabilitas harga listrik di kawasan Asia Tenggara, yang merupakan konsumen batu bara terbesar ketiga di dunia.
Risiko Jangka Panjang Ketergantungan Batu Bara
Penggunaan batu bara yang meningkat saat ini dapat menghambat upaya jangka panjang untuk mengurangi pembangkit listrik berbasis batu bara. Indonesia sendiri sudah mengalami kesulitan memenuhi target pengurangan batu bara akibat keterlambatan pendanaan sebelum konflik di Iran.
Biaya pembangkitan listrik dari batu bara di Indonesia pada tahun lalu naik 48 persen dibandingkan empat tahun sebelumnya, akibat penuaan pembangkit dan kenaikan biaya operasional. Subsidi untuk perusahaan listrik nasional juga naik 24 persen mencapai 11 miliar dolar AS, sekitar 5 persen dari anggaran nasional.
Meski ada dorongan untuk mengadopsi LNG sebagai solusi transisi energi, peningkatan penggunaan batu bara ini menandakan bahwa pergeseran ke gas tidak semudah yang diperkirakan. Korea Selatan berencana menutup pembangkit batu bara secara besar-besaran hingga tahun 2040 dan menurunkan emisi hingga 50 persen pada 2035, tetapi saat ini tetap membolehkan penggunaan batu bara lebih banyak saat pasokan LNG terbatas dan polusi udara rendah.
Investasi Korea Selatan selama lebih dari satu dekade menunjukkan ketidakseimbangan, dengan dana 127 miliar dolar AS diarahkan ke bahan bakar fosil dan hanya sebagian kecil ke energi terbarukan. Para pengamat khawatir kebijakan peningkatan batu bara bisa bertahan lama dan menjadi preseden buruk bagi agenda net-zero.
Dampak Kesehatan dan Lingkungan dari Batu Bara
Pembakaran batu bara menghasilkan partikel halus yang dapat menembus paru-paru dan aliran darah, meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru, dan gangguan pernapasan kronis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menandai polusi udara dari batu bara sebagai masalah kesehatan serius di Asia, terutama saat musim pembakaran ladang oleh petani.
Semua 1,4 miliar penduduk India terpapar polusi partikel udara berbahaya melebihi standar WHO. Pemerintah India bahkan menunda aturan kualitas udara demi mengatasi kekurangan gas, sehingga restoran diperbolehkan menggunakan batu bara. Vietnam mengalami polusi udara parah yang mendorong promosi kendaraan listrik dan target pengurangan batu bara.
Seorang pemilik toko di Hanoi mengekspresikan kekhawatirannya terhadap kesehatan anaknya yang menderita asma akibat polusi batu bara. Kondisi ini menjadi gambaran nyata dampak penggunaan batu bara terhadap kualitas hidup masyarakat di Asia.
