Pemerintah Amerika Serikat mengerahkan agen imigrasi ke beberapa bandara utama untuk membantu mengatasi kekacauan yang terjadi akibat penutupan parsial pemerintahan. Langkah ini dimaksudkan untuk meringankan tekanan pada petugas Transportation Security Administration (TSA) yang mengalami kekurangan staf saat periode perjalanan yang padat.
Agen dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) ditempatkan di setidaknya 14 bandara, termasuk di New York, Chicago, dan Atlanta. Mereka tidak melakukan pemeriksaan penumpang, tetapi mengisi peran pendukung seperti memonitor pintu keluar dan mengatur logistik agar petugas TSA dapat fokus pada pemeriksaan keamanan.
Penempatan agen ICE ini menuai kritik tajam dari kalangan Demokrat, aktivis hak asasi, dan beberapa Republikan. Mereka khawatir keberadaan agen imigrasi ini akan menimbulkan ketegangan di lingkungan yang sudah sangat tegang, apalagi setelah sejumlah insiden fatal yang melibatkan operasi imigrasi.
Beberapa kasus kematian yang memicu kontroversi terjadi di Minnesota, di mana dua warga AS tewas dalam peristiwa berbeda yang melibatkan petugas imigrasi federal. Hal ini menyebabkan meningkatnya pengawasan dan tudingan praktik penegakan hukum yang kasar oleh ICE dan Customs and Border Protection (CBP).
Petugas TSA sendiri mengalami absen yang sangat tinggi akibat ketidakpastian gaji selama shutdown yang berkepanjangan, hal ini menambah tekanan operasional di bandara. Beberapa penumpang melaporkan harus menunggu berjam-jam di antrian check-in dan keamanan, serta mengalami kehilangan penerbangan.
Tom Homan, pejabat pemerintah yang ditunjuk Presiden, mengatakan penempatan agen ICE hanya bersifat sementara untuk membantu memperlancar antrean di TSA. Presiden Trump juga menyatakan kemungkinan menambah pasukan Garda Nasional untuk menjamin keamanan selama shutdown.
Negosiasi politik antara Demokrat dan Republik terkait pembiayaan pemerintah masih buntu. Partai Demokrat menuntut pembukaan kembali sebagian besar Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dengan syarat pembatasan ketat pada penegakan imigrasi. Sementara itu, Republik menolak menetapkan batasan tersebut.
Kompleksitas pembicaraan semakin bertambah lewat keinginan Trump memasukkan RUU kontroversial SAVE America Act yang berfokus pada perubahan sistem pendaftaran pemilih. Ketidaksepakatan ini memperpanjang masa shutdown dan memicu kekhawatiran akan semakin buruknya pelayanan dan keamanan di bandara.
Situasi di Hartsfield–Jackson Atlanta International Airport memberi gambaran nyata dari dampak shutdown. Penumpang seperti Angeline Peart melaporkan kehilangan penerbangan karena antrean panjang sejak siang hari. Mereka berharap kehadiran agen ICE segera memberi perbaikan signifikan pada kondisi yang kacau tersebut.
Pandangan negatif dari kalangan oposisi sangat menekankan risiko penempatan agen ICE di bandara sebagai potensi peningkatan pelanggaran hak dan kekerasan. Pemimpin Demokrat DPR, Hakeem Jeffries, memperingatkan bahwa warga Amerika berisiko menjadi korban tindakan brutal oleh agen yang tidak mendapat pelatihan memadai.
Kondisi saat ini mencerminkan garis tipis yang semakin kabur antara tugas penegakan imigrasi dan keamanan domestik di Amerika Serikat. Keputusan mengerahkan agen imigrasi ke transportasi publik menjadi simbol ketegangan yang mendalam di tengah krisis politik dan sosial yang sedang berlangsung.
Pemantauan atas peran ICE di bandara terus menjadi perhatian penting, mengingat sejarah insiden dan potensi dampaknya terhadap masyarakat luas. Dengan tidak adanya solusi politik yang segera, tekanan terhadap sistem pengamanan perjalanan diperkirakan akan terus meningkat dalam waktu dekat.









