Hampir 500 Petugas TSA Mengundurkan Diri, Krisis Shutdown Ancaman Nyata di Bandara-Bandara AS

Hampir 500 petugas Transportation Security Administration (TSA) telah mengundurkan diri selama shutdown pemerintah yang berkepanjangan. Shutdown ini telah berlangsung selama lebih dari 40 hari dan membuat ribuan karyawan TSA belum menerima gaji yang seharusnya mereka terima.

Dampak shutdown terlihat jelas di berbagai bandara besar. Sebanyak 41% petugas TSA di Bandara Hartsfield-Jackson Atlanta dan 39% di George Bush Intercontinental Airport Houston dilaporkan absen akibat kondisi keuangan yang memburuk. Secara nasional, lebih dari 11% karyawan TSA yang dijadwalkan bekerja tidak masuk, dengan jumlah panggilan cuti mencapai lebih dari 3.120 pekerja dalam satu hari kerja.

Lonjakan Tingkat Absen dan Pengunduran Diri

Tingkat absen di sejumlah bandara utama melambung tinggi, seperti di New Orleans sebesar 36% dan John F. Kennedy New York mencapai 29%. Kondisi ini menyebabkan waktu tunggu di pos pemeriksaan keamanan membengkak hingga empat jam. Hal ini menimbulkan frustrasi di kalangan penumpang karena antrean panjang dan keterlambatan jadwal penerbangan.

Lauren Bis, juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), menegaskan, “Shutdown yang sembrono ini memaksa hampir 500 petugas TSA berhenti, sementara ribuan lainnya terpaksa memanggil cuti karena mereka tidak mampu membayar bensin, penitipan anak, makanan, atau sewa.” Banyak pekerja TSA bahkan terpaksa tidur di mobil, menjual plasma darah, dan mengambil pekerjaan kedua demi memenuhi kebutuhan hidup.

TSA Berhadapan dengan Ancaman Penutupan Bandara

Ha Nguyen McNeill, Pejabat Pelaksana Kepala TSA, memperingatkan situasi dapat memburuk sampai pihaknya terpaksa menutup operasi di beberapa bandara. “Kami harus mempertimbangkan opsi untuk menutup beberapa bandara yang paling terdampak karena tingkat absen yang terus meningkat,” ungkap McNeill saat bersaksi di sidang DPR.

Lebih dari itu, petugas TSA juga mengalami peningkatan kekerasan saat bertugas. McNeill menyatakan, frekuensi serangan terhadap petugas TSA naik lebih dari 500% sejak dimulainya shutdown. “Ini tidak bisa dibiarkan dan tidak akan ditoleransi,” tambahnya.

Upaya Dukungan dari ICE dan Potensi Penggunaan Garda Nasional

Untuk memperingan beban TSA, petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) telah dikerahkan untuk membantu tugas-tugas non-penyaringan seperti pengendalian kerumunan dan verifikasi identitas penumpang dengan peralatan TSA. Namun jumlah dan lokasi penempatan petugas ICE ini dirahasiakan demi keamanan operasional.

Presiden juga menyatakan kemungkinan menggunakan Garda Nasional untuk membantu pelayanan keamanan bandara. Menurut pakar hukum, langkah ini hanya bisa dilakukan jika gubernur negara bagian mengerahkan pasukan yang tidak berada di bawah komando federal, karena aturan federal melarang militer melakukan tugas kepolisian tertentu di dalam negeri.

Pengaruh Shutdown terhadap Penumpang dan Penerbangan

Situasi ini memperburuk pengalaman penumpang di bandara. Contohnya di Bandara George Bush Intercontinental Houston, sejumlah penumpang terpaksa meninggalkan antrean panjang dengan kehilangan atau menunda penerbangan mereka. Seorang penumpang melaporkan harus menunggu lebih dari dua setengah jam tanpa mencapai pos pemeriksaan keamanan, sementara lainnya mengeluhkan antrean yang membuat mereka merasa kecewa pada legislatif yang tak kunjung menyelesaikan masalah pendanaan DHS.

Perundingan Dana Department of Homeland Security Masih Stalemate

Perundingan di Senat untuk menyelesaikan pembiayaan DHS masih menemui jalan buntu. Proposal terakhir yang diajukan oleh senator Republik mencakup pendanaan sebagian besar Departemen keamanan, namun mengecualikan operasi penegakan imigrasi yang menjadi sumber perdebatan utama. Protes dari kubu Demokrat terhadap pengurangan kewenangan petugas imigrasi tetap menjadi batu sandungan utama dalam mencapai kesepakatan.

Senator John Thune menegaskan bahwa tawaran yang diajukan adalah “tawaran terakhir dan final” dari Republik. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan shutdown bisa diakhiri sehingga krisis pekerja TSA makin memburuk dan ancaman terhadap kelancaran perjalanan udara semakin nyata.

Shutdown yang berlarut ini telah menimbulkan dampak serius bagi keamanan dan kenyamanan di bandara, serta menciptakan tekanan ekonomi dan psikologis bagi petugas TSA yang harus terus bekerja tanpa bayaran. Dengan hampir 500 petugas telah mundur dan banyak yang terus absen, situasi ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera menemukan solusi agar layanan keamanan di seluruh bandara dapat kembali berjalan normal.

Berita Terkait

Back to top button