Upaya diplomasi untuk menghentikan perang Iran terus bergerak di balik layar, meski تهران tetap menegaskan bahwa pembicaraan resmi dengan Amerika Serikat belum berlangsung. Di tengah saling bantah itu, sejumlah jalur mediasi melalui negara ketiga justru makin aktif dan memunculkan spekulasi soal kemungkinan gencatan senjata.
Fokus utama pembahasan saat ini adalah bagaimana menghentikan pertempuran tanpa membuat salah satu pihak tampak kalah. Pemerintah Amerika Serikat disebut mendorong paket usulan yang berkaitan dengan program nuklir Iran, sementara Teheran mengajukan syarat keras yang menyentuh keamanan, sanksi, hingga pengakuan atas kedaulatannya.
Apa yang sebenarnya dibicarakan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim telah berbicara dengan sosok penting dari Iran dan mengirimkan rencana untuk menghentikan perang. Ia menegaskan bahwa inti dari setiap kesepakatan tetap sama, yaitu Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Sejumlah laporan media, termasuk The New York Times dan Al Jazeera, menyebut usulan yang dibawa ke Iran melalui Pakistan berbentuk gencatan senjata selama satu bulan. Dalam periode itu, kedua pihak dikabarkan akan kembali membahas isu yang sebelumnya sudah mereka diskusikan sebelum perang pecah.
Isu yang disebut berada di meja perundingan mencakup beberapa poin utama berikut:
- Penghentian pengayaan uranium oleh Iran.
- Penyerahan stok uranium yang telah diperkaya.
- Pembatasan program rudal Iran.
- Penghentian dukungan kepada kelompok bersenjata di kawasan.
- Pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Sebagai imbalan, laporan tersebut menyebut Trump menawarkan pelonggaran sanksi penuh jika Iran memenuhi tuntutan itu. Namun, isi resmi proposal 15 poin yang disebut telah disampaikan lewat Pakistan belum diumumkan secara terbuka.
Peran negara perantara
Pakistan muncul sebagai salah satu perantara penting dalam komunikasi tidak langsung ini. Mesir dan Turki juga disebut ikut membantu menyampaikan pesan di tengah absennya kontak langsung antara Washington dan Teheran.
Kepala pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa, Rafael Grossi, bahkan mengatakan bahwa pertemuan di Islamabad pada akhir pekan sedang dibahas. Pernyataan ini memperkuat dugaan bahwa jalur diplomasi masih terbuka, meski keduanya sama-sama menjaga jarak di ruang publik.
Di sisi lain, identitas sosok yang disebut Trump sebagai “top person” dari Iran masih belum jelas. Hingga kini, belum ada konfirmasi independen bahwa tokoh tersebut benar-benar terlibat dalam pembicaraan substantif.
Apa kata Iran
Pejabat Iran secara terbuka tetap mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat. Namun, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengakui bahwa pesan memang sedang dipertukarkan melalui negara sahabat atau individu tertentu.
Kantor berita Tasnim, mengutip pejabat tak disebutkan namanya, melaporkan bahwa Iran telah mengirim jawaban resmi kepada Amerika Serikat melalui perantara. Sumber itu menyebut Teheran sedang menunggu respons dari pihak lawan setelah menyampaikan tanggapan atas 15 poin usulan Amerika Serikat.
Sikap ini menunjukkan bahwa meski pemerintah Iran menyangkal adanya perundingan langsung, komunikasi tidak langsung tetap berjalan. Dalam praktiknya, jalur semacam ini sering dipakai ketika kedua belah pihak ingin menjaga ruang negosiasi tanpa memberi kesan sedang berunding di bawah tekanan.
Syarat yang diajukan Iran
Menurut laporan media pemerintah Iran, termasuk Press TV dan Tasnim, Teheran mengajukan sedikitnya lima syarat untuk mengakhiri permusuhan. Syarat-syarat itu menunjukkan bahwa Iran tidak hanya menuntut jeda perang, tetapi juga kepastian keamanan jangka panjang.
Berikut poin-poin yang disebut sebagai tuntutan Iran:
- Penghentian agresi dan pembunuhan.
- Jaminan bahwa Israel dan Amerika Serikat tidak akan melanjutkan perang.
- Kompensasi finansial.
- Penghentian permusuhan di semua front, termasuk di Lebanon dan Gaza.
- Pengakuan internasional atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz.
Wall Street Journal juga melaporkan bahwa Iran menginginkan penutupan pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk. Tuntutan ini, jika benar disampaikan dalam pembicaraan, akan menjadi salah satu hambatan terbesar karena menyentuh langsung kepentingan strategis Washington.
Mengapa kompromi sulit tercapai
Para analis menilai perang justru memperkuat kubu garis keras di Teheran. Retorika pejabat Iran kini terlihat lebih menantang, terutama setelah eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Trump sendiri disebut telah membom Iran dua kali saat proses negosiasi berlangsung, pertama pada Juni lalu dan kemudian pada 28 Februari. Situasi itu membuat kepercayaan antarpihak semakin rapuh dan memperkecil ruang kompromi.
Dari sisi Iran, posisi dasar mereka juga tidak banyak berubah sejak lama. Teheran tetap mengatakan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk energi sipil, bukan senjata, dan menolak membahas pembatasan terhadap program rudal balistik maupun dukungan kepada kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Titik-titik yang paling sulit dalam negosiasi
Beberapa isu tampak paling sulit dijembatani karena menyentuh kepentingan inti kedua negara. Berikut ringkasannya:
| Isu | Posisi Amerika Serikat | Posisi Iran |
|---|---|---|
| Program nuklir | Iran diminta menghentikan pengayaan dan menyerahkan stok uranium | Iran menegaskan hak pengayaan untuk energi sipil |
| Program rudal | Washington ingin pembatasan | Teheran menolak dibahas |
| Kelompok regional | AS ingin dukungan Iran dihentikan | Iran menolak mengubah kebijakan itu |
| Selat Hormuz | Diharapkan dibuka untuk pelayaran | Iran menuntut pengakuan kedaulatan |
| Sanksi dan kompensasi | Bisa dilonggarkan jika syarat dipenuhi | Iran meminta kompensasi dan jaminan keamanan |
Tuntutan Iran atas reparasi dinilai banyak pengamat sebagai syarat yang hampir mustahil diterima Washington. Begitu juga dengan permintaan agar pangkalan militer Amerika Serikat di Teluk ditutup, yang akan mengubah peta keamanan kawasan secara drastis.
Apa yang mungkin terjadi selanjutnya
Hasil akhir sangat bergantung pada apakah Trump benar-benar ingin mengakhiri perang dan apakah para pemimpin Iran melihat gencatan senjata sebagai cara terbaik melindungi kepentingan mereka. Kedua pihak tampaknya ingin keluar dari konflik dengan narasi kemenangan masing-masing.
Seorang diplomat yang berbasis di Timur Tengah mengatakan kepada AFP bahwa kedua pihak harus bisa mengklaim kemenangan dan tetap menyelamatkan muka. Menurut dia, prosesnya akan memakan waktu, terutama karena isu program nuklir Iran dan stok 440 kilogram uranium yang sangat diperkaya masih belum terselesaikan.
Ada juga pandangan skeptis bahwa pembicaraan ini bisa saja hanya menjadi kamuflase politik. Sejumlah analis menilai Trump mungkin sedang menyiapkan opsi militer darat untuk membuka Selat Hormuz dengan paksa atau merebut aset minyak Iran.
Dalam skenario seperti itu, Iran disebut dapat mengaktifkan sekutunya dari kelompok Houthi di Yaman untuk menyerang pelayaran di Laut Merah. Jika itu terjadi, konflik berpotensi meluas ke front baru dan memicu dampak ekonomi, politik, serta militer yang jauh lebih besar.
