Amerika Serikat disebut menekan Prancis agar mencabut undangan terhadap Presiden Afrika Selatan untuk menghadiri KTT G7 di kota Evian, Prancis, pada Juni. Kabar itu disampaikan kepresidenan Afrika Selatan pada Kamis dan menjadi babak terbaru dari hubungan yang makin tegang antara Pretoria dan Washington.
Juru bicara presiden Afrika Selatan, Vincent Magwenya, mengatakan Prancis akhirnya menarik undangannya setelah tekanan yang terus-menerus. Ia juga menyebut Washington mengancam akan memboikot G7 jika Afrika Selatan tetap diundang.
Tekanan politik di tengah hubungan yang memburuk
Perselisihan ini tidak muncul tiba-tiba karena hubungan kedua negara sudah retak dalam beberapa bulan terakhir. Sumber masalahnya mencakup gugatan Afrika Selatan terhadap Israel di Mahkamah Internasional atas tuduhan genosida di Gaza, serta pernyataan Presiden Donald Trump yang berulang kali mengangkat isu keliru soal dugaan “genosida kulit putih” terhadap Afrikaner.
Trump juga beberapa kali berhadapan langsung dengan pemerintah Afrika Selatan. Ia menjatuhkan tarif tinggi kepada negara itu, mengkritik kebijakan keadilan rasial di Afrika Selatan, dan memboikot KTT G20 di Johannesburg pada November lalu.
Menurut laporan yang dikutip AFP, tarif 30 persen sempat dikenakan Trump pada sebagian besar ekspor Afrika Selatan. Kebijakan itu menjadi yang tertinggi untuk kawasan Afrika sub-Sahara, meski kemudian Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif tersebut.
Apa yang dikatakan Pretoria
Magwenya menegaskan bahwa Afrika Selatan memahami pencabutan undangan itu sebagai hasil tekanan yang berkelanjutan dari pihak Amerika Serikat. Ia mengatakan keputusan tersebut tidak akan mengubah hubungan bilateral yang kuat antara Afrika Selatan dan Prancis.
- Afrika Selatan tetap ingin menjaga hubungan kerja dengan AS.
- Pretoria menilai hubungan diplomatik kedua negara sudah ada jauh sebelum era Trump.
- Pemerintah Afrika Selatan menyebut relasi itu akan tetap bertahan setelah masa jabatan Gedung Putih saat ini berakhir.
Pernyataan itu menunjukkan Pretoria masih berusaha menjaga jalur komunikasi tetap terbuka meski ketegangan politik meningkat. Sikap itu juga mencerminkan kebutuhan Afrika Selatan untuk mempertahankan ruang diplomasi di tengah perbedaan tajam dengan Washington.
Latar belakang ketegangan diplomatik
Hubungan kedua negara kembali memanas ketika Pretoria memanggil duta besar baru AS awal bulan ini. Langkah itu diambil setelah pejabat tersebut melontarkan komentar yang dinilai tidak diplomatis soal kebijakan rasial dan putusan pengadilan di Afrika Selatan.
Dalam pidato publik perdananya, utusan konservatif Brent Bozell menyebut seruan era apartheid “Kill the Boer, kill the farmer” sebagai ujaran kebencian. Ia juga mengkritik kebijakan yang ditujukan untuk memberdayakan warga kulit hitam Afrika Selatan.
Isu itu sensitif karena pengadilan di Afrika Selatan menilai seruan tersebut tidak memenuhi unsur ujaran kebencian dan harus dilihat dalam konteks perjuangan melawan kekuasaan minoritas kulit putih yang berakhir pada 1994. Setelah kritik itu, Bozell kemudian disebut melunak dan menyatakan pemerintah AS menghormati independensi serta temuan lembaga peradilan Afrika Selatan.
Faktor lain yang memperlebar jarak
Ketegangan juga dipicu oleh langkah Washington terhadap diplomat Afrika Selatan. Pada Maret tahun lalu, AS mengusir Duta Besar Afrika Selatan Ebrahim Rasool setelah ia mengkritik gerakan Make America Great Again atau MAGA.
Posisi duta besar pengganti hingga kini belum diumumkan, meski Pretoria menyatakan proses penunjukan sedang mendekati tahap akhir. Magwenya mengatakan presiden Afrika Selatan semakin dekat untuk menunjuk duta besar yang akan bergabung dalam tim yang kini tengah berkomunikasi dengan pihak AS.
Di sisi lain, G7 memang kerap melibatkan negara undangan di luar anggota tetapnya dalam diskusi tertentu. Tahun ini, Brasil, India, dan Korea Selatan tercatat ikut dalam sebagian agenda, sementara Afrika Selatan pernah diundang dengan pola serupa saat Kanada menjadi tuan rumah G7 pada 2025.
Poin penting dari perkembangan ini
| Isu | Keterangan |
|---|---|
| Status undangan Afrika Selatan | Ditarik oleh Prancis setelah tekanan dari AS |
| Alasan yang disebut Pretoria | AS mengancam boikot jika Afrika Selatan hadir |
| Sumber ketegangan | Gugatan terhadap Israel, isu Afrikaner, tarif, dan kritik politik |
| Respons Afrika Selatan | Tetap ingin menjaga hubungan konstruktif dengan AS |
| Hubungan dengan Prancis | Pretoria menilai tidak akan terdampak signifikan |
Di tengah situasi itu, Pretoria menegaskan tetap ingin berinteraksi secara konstruktif dengan Washington meski perbedaan politik masih lebar. Pemerintah Afrika Selatan juga menempatkan hubungan diplomatik kedua negara sebagai sesuatu yang lebih panjang dari satu periode politik, sehingga kontak bilateral masih terus dijaga lewat jalur resmi yang sedang berjalan.
