Petani di sejumlah wilayah Rusia mengeluhkan terputusnya akses internet seluler di tengah musim tanam karena pembatasan yang diterapkan pemerintah untuk merespons ancaman serangan drone Ukraina. Kondisi ini disebut mengganggu pekerjaan lapangan dan pelaporan wajib ke sistem digital pertanian yang kini menjadi bagian dari upaya digitalisasi sektor agrikultur.
Keluhan itu datang dari kelompok lobi petani People Farmers, yang pada Kamis menyampaikan surat kepada Kementerian Pengembangan Digital. Dalam surat tersebut, mereka menyebut akses internet yang dibatasi membuat pelaporan digital menjadi sulit dilakukan tepat waktu, sehingga memunculkan risiko denda dan kerugian finansial saat masa tanam yang sangat krusial di beberapa wilayah selatan Rusia.
Gangguan saat pekerjaan paling sibuk
Pembatasan internet seluler diberlakukan di wilayah yang dianggap rentan karena berdekatan dengan Ukraina atau menjadi lokasi serangan drone dan rudal yang sering terjadi. Pemerintah Rusia menutup akses tersebut karena jaringan seluler dapat dipakai untuk membantu penargetan serangan, tetapi langkah itu ikut memukul aktivitas warga, termasuk petani.
Bagi petani, internet bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga jalur utama untuk mengirim data wajib ke sistem pertanian daring. Mereka harus mencatat jumlah benih yang disiapkan untuk tanam dan volume gandum yang diproduksi serta dijual melalui sistem online yang diwajibkan negara.
Pelaporan digital jadi titik rawan
People Farmers menegaskan bahwa saat akses internet seluler dibatasi, petani “secara rutin menghadapi masalah” untuk tersambung ke sistem pertanian yang diwajibkan. Kelompok itu menilai gangguan ini bisa membuat pelaporan digital menjadi mustahil dilakukan ketika pemadaman berlangsung.
Dalam suratnya, lobi petani itu memperingatkan adanya konsekuensi administratif dan ekonomi jika laporan terlambat masuk. Selain denda, mereka juga menyoroti potensi kerugian usaha tani pada masa tanam yang sedang berlangsung di wilayah selatan.
Mengapa wilayah perbatasan paling terdampak
Sejumlah wilayah penghasil gandum utama di Rusia berada dekat perbatasan Ukraina. Posisi geografis itu membuat mereka lebih sering terdampak pembatasan jaringan karena pemerintah berupaya menekan risiko serangan yang memanfaatkan sinyal komunikasi seluler.
Situasi ini menciptakan benturan antara kebutuhan keamanan dan kebutuhan operasional sektor pertanian. Di satu sisi, otoritas ingin mengurangi celah yang bisa dimanfaatkan untuk serangan; di sisi lain, petani bergantung pada koneksi digital untuk memenuhi kewajiban pelaporan yang makin terintegrasi.
Permintaan agar layanan pertanian masuk daftar aman
Kelompok petani itu meminta layanan pertanian tertentu dimasukkan ke dalam daftar putih atau “white list” sumber internet yang tetap bisa diakses saat pembatasan diberlakukan. Saat ini, daftar tersebut disebut mencakup lebih dari 100 situs web.
Usulan itu bertujuan menjaga agar kegiatan administrasi pertanian tetap berjalan meski internet seluler dimatikan. Dengan begitu, petani dapat mengirim data wajib tanpa harus menunggu jaringan kembali normal di tengah jadwal tanam yang padat.
Poin utama yang dikeluhkan petani
- Akses internet seluler sering dibatasi di wilayah dekat Ukraina.
- Pelaporan benih, produksi gandum, dan penjualan harus dilakukan lewat sistem online.
- Pemadaman membuat pelaporan terlambat atau bahkan tidak bisa dilakukan.
- Petani berisiko terkena denda dan kerugian finansial.
- Lobi petani meminta layanan pertanian masuk daftar putih internet.
Pemadaman internet seluler di wilayah rawan serangan kini tidak hanya menjadi isu keamanan, tetapi juga masalah operasional bagi sektor pertanian yang sedang memasuki puncak musim tanam. Selama sistem pelaporan digital tetap diwajibkan, petani di wilayah terdampak kemungkinan masih akan berhadapan dengan dilema antara kepatuhan administratif dan akses internet yang dibatasi.









