Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel telah memicu krisis kemanusiaan besar di dua negara sekaligus, yakni Iran dan Lebanon. Data dari badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan menunjukkan sedikitnya empat juta orang terdampak pengungsian, baik akibat perpindahan di dalam negeri maupun arus keluar lintas batas yang terus meningkat.
Di Iran, korban jiwa akibat serangan dilaporkan telah melampaui 1.500 orang. Angka itu disebut masih konservatif karena perhitungan resmi yang lebih lengkap belum dirilis otoritas setempat, sementara dampak lapangannya terus meluas ke rumah warga, fasilitas kesehatan, sekolah, dan infrastruktur sipil lainnya.
Krisis pengungsian di Iran makin melebar
UNHCR memperkirakan sekitar 3,2 juta orang telah mengungsi داخل Iran sejak serangan udara dan serangan lain dimulai. Jumlah itu setara lebih dari 3 persen populasi, menandakan bahwa dampak perang tidak hanya soal korban tewas, tetapi juga pergeseran besar penduduk dari zona-zona yang dianggap tidak aman.
Lembaga kemanusiaan mengatakan tekanan di lapangan meningkat karena banyak keluarga meninggalkan rumah yang rusak atau hancur. Di Tehran, pemerintah kota menyebut hampir 14.000 unit hunian mengalami kerusakan dan sedikitnya 6.000 orang ditampung di hotel-hotel milik pemerintah kota.
Kerusakan sipil dan layanan dasar ikut terganggu
Serangan juga menghantam lebih dari 85.176 lokasi sipil, termasuk 282 fasilitas kesehatan, 600 sekolah, dan 64.583 rumah. Sejumlah rumah sakit, fasilitas nuklir, kilang minyak, dan pabrik desalinasi turut dilaporkan terkena serangan, sehingga risiko gangguan layanan dasar kian tinggi.
Berikut ringkasan dampak utama di Iran:
| Jenis dampak | Catatan |
|---|---|
| Korban tewas | Lebih dari 1.500 orang |
| Pengungsi internal | 3,2 juta orang |
| Lokasi sipil terdampak | 85.176 situs |
| Fasilitas kesehatan rusak | 282 lokasi |
| Sekolah rusak | 600 lokasi |
| Rumah rusak | 64.583 unit |
Arus keluar dari Iran masih terbatas, tetapi situasi berubah
Di negara-negara tetangga, arus masuk dari Iran belum berubah menjadi gelombang pengungsi besar seperti yang dikhawatirkan. Afghanistan melaporkan sebagian besar kedatangan adalah warga Afghanistan yang kembali dari Iran, sementara Pakistan hanya mencatat masuknya warga atau pedagang yang berizin.
Turki, Turkmenistan, dan Azerbaijan juga melaporkan perbatasan yang relatif stabil dengan arus lintas batas yang terbatas. Irak mencatat adanya perpindahan skala kecil dan sekitar 325 warga negara Iran melintasi perbatasan karena krisis yang memburuk.
Lebanon menghadapi tekanan pengungsian yang lebih berat
Di Lebanon, perang yang meluas juga menciptakan krisis pengungsian besar. Hampir satu dari lima penduduk, atau 18 persen populasi, telah mengungsi dalam dua pekan terakhir menurut data yang dikutip dari International Organization for Migration.
Jumlah pengungsi terdaftar telah mencapai 1.049.328 orang, sementara 132.742 orang tinggal di tempat penampungan kolektif. Banyak keluarga tidak mendapatkan tempat layak dan harus bermalam di jalan, kendaraan, atau ruang publik karena penampungan penuh.
Evakuasi paksa meluas di selatan Lebanon
Militer Israel memperluas perintah evakuasi paksa untuk warga di Lebanon selatan, dari sekitar Sungai Litani hingga utara Sungai Zahrani. Menurut Norwegian Refugee Council, area yang tercakup perintah itu kini meliputi lebih dari 1.470 kilometer persegi, atau sekitar 14 persen wilayah Lebanon.
Serangan terhadap jembatan-jembatan utama di Lebanon selatan juga memperburuk mobilitas warga. Beberapa jembatan yang menghubungkan wilayah selatan dengan kawasan lain dilaporkan dibom, sehingga rute evakuasi dan distribusi bantuan menjadi semakin sulit dijalankan.
Lebih dari 125.000 orang menyeberang ke Suriah
Sebagian besar perpindahan keluar dari Lebanon menuju Suriah. Hingga 17 Maret, lebih dari 125.000 orang telah melintasi perbatasan, dan hampir separuhnya adalah anak-anak.
Sebagian besar yang menyeberang merupakan warga Suriah, disusul sekitar 7.000 warga Lebanon. Dalam dua pekan terakhir, lebih dari 250.000 orang juga meninggalkan Lebanon, naik 40 persen dibandingkan dua pekan terakhir pada Februari.
Daerah perbatasan jadi titik paling rentan
Pasukan darat Israel juga memperluas kontrol de facto di sebagian wilayah Lebanon selatan. Pihak Israel menyebut langkah itu sebagai upaya membentuk “buffer zone”, sementara Presiden Lebanon Joseph Aoun menilai penghancuran jembatan dan perintah evakuasi itu bertujuan memutus hubungan geografis selatan Lebanon dengan wilayah lainnya.
Pernyataan Aoun menyoroti kekhawatiran bahwa perluasan operasi militer tidak hanya menargetkan kelompok bersenjata, tetapi juga membuka jalan bagi perubahan demografi dan kendali wilayah di sepanjang perbatasan. Di saat yang sama, keluarga-keluarga yang terdampak masih bergantung pada penampungan darurat dan bantuan kemanusiaan yang kapasitasnya terus menipis.
Gambaran utama krisis pengungsian
- Iran mencatat lebih dari 3,2 juta pengungsi internal.
- Lebanon mencatat lebih dari 1,049 juta pengungsi terdaftar.
- Sekitar 125.000 orang menyeberang dari Lebanon ke Suriah.
- Lebih dari 250.000 orang meninggalkan Lebanon dalam dua pekan.
- Ratusan fasilitas sipil, sekolah, dan layanan kesehatan rusak di Iran.
Dengan skala kerusakan yang terus meluas, tekanan terhadap layanan dasar, tempat tinggal, dan jalur pelarian di Iran maupun Lebanon masih sangat tinggi. Perubahan situasi di kedua negara ini kini menjadi salah satu indikator paling jelas bahwa perang yang dipimpin Amerika Serikat dan Israel telah berkembang menjadi krisis pengungsian lintas wilayah yang dampaknya belum menunjukkan tanda mereda.
