Ketegangan perang di Timur Tengah terus bergerak cepat, dengan kombinasi serangan militer, diplomasi tertutup, dan efek ekonomi yang mulai terasa jauh di luar kawasan. Sejumlah negara kini mendorong de-eskalasi, sementara Iran dan Israel masih saling melancarkan aksi militer yang memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas.
Di tengah situasi itu, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Amerika Serikat, Iran, negara-negara Teluk, Pakistan, Turkiye, Mesir, hingga China disebut ikut membuka komunikasi tidak langsung untuk mencari jalan keluar dari krisis yang sudah mengguncang keamanan regional dan pasar global.
Upaya diplomasi mulai menguat
Negara-negara Teluk menyatakan ingin dilibatkan dalam setiap pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran. Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk, Jasem Albudaiwi, menegaskan pentingnya melibatkan negara-negara GCC dalam setiap pembahasan atau kesepakatan agar krisis bisa diselesaikan dengan cara yang memperkuat keamanan dan stabilitas kawasan.
Albudaiwi juga menyoroti bahwa Iran disebut meminta kapal-kapal membayar sejumlah uang untuk melintasi Selat Hormuz. Jalur air itu menjadi sangat penting karena menjadi salah satu titik paling strategis bagi arus energi dunia dan perdagangan internasional.
Pakistan ikut muncul sebagai pihak yang disebut menyalurkan pesan dalam negosiasi tidak langsung. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengatakan bahwa pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran sedang berlangsung melalui pesan yang disampaikan Pakistan.
Dalam keterangannya di X, Dar menyebut Amerika Serikat telah menyampaikan 15 poin yang sedang dipertimbangkan Iran. Ia juga mengatakan Turkiye dan Mesir termasuk negara yang memberikan dukungan bagi inisiatif tersebut.
Amerika Serikat dan nada keras Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengirim pesan keras ke Tehran. Ia mengatakan Iran “better get serious soon” atau harus segera bersikap serius dalam pembicaraan dengan Washington untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Trump juga menulis di Truth Social bahwa negara-negara NATO “tidak melakukan apa pun” untuk membantu Iran, yang ia sebut telah “dimiliterisasi habis-habisan”. Ia menambahkan, “The USA needs nothing from NATO,” yang menunjukkan sikap Washington yang tetap percaya diri meski konflik terus memanas.
Di sisi lain, Kanada menyerukan penurunan eskalasi. Menteri Luar Negeri Kanada Anita Anand mengatakan kepada AFP bahwa ia telah berbicara dengan seluruh negara yang terdampak di kawasan dan juga anggota G7 untuk mendorong de-eskalasi, pembukaan Selat Hormuz, serta jalan ke depan bagi rakyat Iran yang menjaga keselamatan hidup mereka.
Serangan militer masih berlangsung
Israel mengatakan operasi militernya di Iran terus berlanjut. Militer Israel menyebut telah melancarkan rangkaian serangan di berbagai wilayah Iran, termasuk di kota tengah Isfahan.
Menteri Pertahanan Israel Katz juga mengatakan serangan udara Israel menewaskan Alireza Tangsiri, komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, bersama sejumlah perwira senior angkatan laut lainnya. Hingga saat ini, Garda Revolusi belum memberi komentar atas klaim tersebut.
Di sisi lain, Israel juga menyebut seorang tentaranya tewas dalam pertempuran melawan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon selatan. Informasi itu menegaskan bahwa dampak perang tidak hanya terbatas di Iran dan Israel, tetapi juga menyebar ke garis konflik lain di kawasan.
Korban sipil kembali muncul di beberapa lokasi
Serangan balasan Iran juga menimbulkan korban di pihak Israel dan Uni Emirat Arab. Tenaga medis Israel mengatakan enam orang mengalami luka ringan akibat serangan misil dari Iran.
Sementara itu, pemerintah Abu Dhabi melaporkan bahwa dua orang tewas dan tiga lainnya luka-luka akibat serpihan yang jatuh setelah sistem pertahanan udara mencegat misil balistik di pinggiran kota itu. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa ancaman peperangan juga menjangkau wilayah yang selama ini dianggap relatif aman.
Daftar perkembangan penting yang perlu dicermati
- Negara-negara Teluk mendesak agar mereka dilibatkan dalam setiap negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
- Pakistan menyebut ada pembicaraan tidak langsung melalui pesan yang diteruskan ke kedua pihak.
- China melihat ada “glimmer of hope” atau secercah harapan untuk menahan eskalasi.
- Israel mengklaim telah menewaskan komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran.
- Serangan dan pencegatan misil telah menimbulkan korban di Israel dan Abu Dhabi.
Selat Hormuz jadi titik paling sensitif
Selat Hormuz kembali menjadi perhatian utama karena jalur ini sangat penting bagi pengiriman energi dunia. Jika ketegangan terus memuncak, hambatan di jalur tersebut dapat memengaruhi harga minyak, pengiriman barang, dan stabilitas ekonomi di banyak negara.
Khawaja Asif, menteri pertahanan Pakistan, bahkan menyinggung bahwa tujuan perang tampak bergeser menjadi upaya membuka Selat Hormuz, yang menurutnya sebelumnya masih terbuka. Pernyataan itu menambah sorotan atas dampak strategis konflik terhadap jalur pelayaran internasional.
Dampak ke pasar global mulai terasa
Pasar energi dan saham merespons setiap perkembangan terbaru di Timur Tengah. Harga minyak naik dan bursa saham melemah saat investor mengikuti jalannya konflik, meski ada harapan kesepakatan masih bisa dicapai.
Harga Brent dilaporkan berada sedikit di atas $100 per barel, sementara WTI sekitar $90. Saham di Wall Street dan Eropa sempat menguat, tetapi pasar Asia masih tertinggal setelah reli dua hari sebelumnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan regional, tetapi juga pada inflasi, biaya energi, dan sentimen investor di berbagai belahan dunia.
Negara lain mulai menyesuaikan kebijakan
Efek perang juga terasa hingga ke Asia Timur. Pemerintah Korea Selatan menyebut akan meluncurkan tambahan anggaran “wartime” senilai $17 miliar dan memperluas pemotongan pajak bahan bakar untuk menahan naiknya harga energi.
Langkah itu menunjukkan betapa konflik di Timur Tengah kini telah menjadi isu ekonomi global. Ketika jalur energi terganggu dan harga minyak bergerak naik, banyak negara harus menyiapkan kebijakan penyangga untuk melindungi rumah tangga dan industri.
China dan tanda kecil untuk negosiasi
China ikut mendorong ruang dialog. Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan ada “glimmer of hope” dari langkah-langkah untuk menghentikan perang, setelah berbicara dengan mitranya dari Turkiye dan Mesir.
Wang Yi disebut mendorong dialog dan menilai Tehran serta Washington sama-sama memberi sinyal bersedia kembali ke meja perundingan. Meski belum ada terobosan konkret, sinyal itu memberi ruang bahwa jalur diplomatik masih mungkin bergerak, meski pertempuran di lapangan belum berhenti.









