Pengadilan di Nepal memperpanjang masa penahanan mantan perdana menteri KP Sharma Oli selama lima hari setelah penangkapannya terkait dugaan keterlibatan dalam tindakan represif terhadap demonstrasi besar yang mengguncang negara itu. Langkah ini memperdalam sorotan publik atas proses hukum yang berjalan setelah gejolak politik yang menumbangkan pemerintahannya.
Mantan Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak juga ditahan dalam operasi dini hari yang dilakukan pada hari sebelumnya. Keduanya dibawa dalam kasus yang berkaitan dengan penanganan keras terhadap unjuk rasa yang menewaskan sedikitnya 76 orang, meski keduanya membantah bertanggung jawab atas kekerasan tersebut.
Apa yang diputuskan pengadilan
Pejabat informasi Pengadilan Distrik Kathmandu, Deepak Kumar Shrestha, mengatakan pengadilan memberi tambahan lima hari penahanan. Ia juga menyebut pengadilan meminta agar Oli mendapat perawatan medis yang diperlukan selama proses hukum berjalan.
Oli hadir di pengadilan melalui sambungan video dari rumah sakit pada hari Minggu. Polisi menyebut mantan perdana menteri berusia 74 tahun itu memiliki masalah jantung dan ginjal, sementara petugas AFP melihatnya dibawa ke rumah sakit dengan penjagaan ketat setelah penangkapannya.
Latar kasus penangkapan
Penangkapan itu terjadi setelah sebuah komisi penyelidikan merekomendasikan agar Oli dan sejumlah pejabat lain dituntut. Rekomendasi tersebut menyebut mereka gagal menghentikan aparat keamanan menembaki para demonstran saat aksi protes berlangsung.
Dalam laporannya, komisi menilai pernyataan Oli dan Lekhak yang menyatakan tidak mengetahui kekerasan sebagai upaya mengalihkan tanggung jawab. Komisi itu menyebut sikap tersebut sebagai “kelalaian kriminal” dan meminta penyelidikan dilakukan berdasarkan aturan hukum yang mengatur kematian akibat tindakan ceroboh.
Gelombang protes yang menjatuhkan pemerintah
Kerusuhan bermula dari larangan singkat terhadap media sosial, tetapi segera meluas karena kemarahan lama terhadap kesulitan ekonomi. Dalam waktu singkat, aksi itu berubah menjadi kerusuhan nasional, dengan parlemen dan kantor-kantor pemerintah dibakar.
Kondisi tersebut berujung pada runtuhnya pemerintahan Oli, lalu membuka jalan bagi pemerintahan baru. Perdana Menteri Balendra Shah dilantik setelah pemilu pertama sejak pemberontakan September, menandai perubahan besar dalam peta politik Nepal.
Respons politik dan keamanan di Kathmandu
Partai Marxist CPN-UML milik Oli menyebut penangkapan itu sebagai tindakan balas dendam dan menyerukan protes. Polisi kemudian menutup akses jalan di sekitar pengadilan dan menggunakan pentungan untuk membubarkan lebih dari 100 pendukung Oli yang berkumpul di Kathmandu.
Salah satu pendukung, Tejila Thapa, mengatakan keputusan penangkapan berisiko memicu konfrontasi politik. Ia menilai langkah itu keliru dan harus dikoreksi.
Kasus lain yang ikut mencuat
Pada hari yang sama, mantan menteri energi Deepak Khadka juga ditahan dalam kasus terpisah terkait pencucian uang. Juru bicara Central Investigation Bureau, Shiva Kumar Shrestha, mengonfirmasi penahanan itu, yang menunjukkan aparat tengah memperluas penindakan terhadap dugaan penyimpangan di lingkaran elite politik.
Konteks politik baru di Nepal
Shah, mantan rapper berusia 35 tahun yang kini memimpin pemerintahan, naik lewat platform perubahan politik yang digerakkan anak muda. Ia bahkan mengalahkan Oli di daerah pemilihannya sendiri, lalu meluncurkan agenda reformasi 100 poin yang mencakup penyelidikan aset para politisi dan pejabat tinggi.
Sebelum gelombang protes terjadi, Nepal masih menghadapi tantangan ekonomi struktural yang berat. Transparency International menempatkan negara itu di peringkat 107 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, sementara Bank Dunia menyebut 82 persen tenaga kerja Nepal berada dalam sektor informal dengan PDB per kapita hanya $1.447 pada 2024.
Poin penting kasus ini
- Oli dan Lekhak ditahan terkait dugaan kegagalan menghentikan penindakan terhadap demonstran.
- Sedikitnya 76 orang tewas dalam kekerasan saat protes berlangsung.
- Pengadilan memperpanjang penahanan selama lima hari dan meminta perawatan medis untuk Oli.
- Mahkamah Agung dijadwalkan menimbang permohonan pembebasan keduanya pada Senin.
- Kasus ini muncul di tengah perubahan politik besar dan agenda reformasi pemerintah baru di Nepal.
Sidang lanjutan dan langkah Mahkamah Agung akan menjadi penentu penting apakah proses hukum terhadap Oli dan Lekhak bergerak ke tahap berikutnya atau memicu eskalasi politik baru di Kathmandu. Hingga kini, kasus tersebut tetap menjadi ujian bagi janji akuntabilitas di Nepal setelah kerusuhan yang mengguncang institusi negara.









