Iran Terpojok, Fatwa Nuklir Mulai Retak dan Bayangan Bom Makin Dekat?

Serangan beruntun terhadap fasilitas nuklir dan tokoh penting Iran telah memicu pertanyaan baru di Timur Tengah: apakah Teheran akan tetap menahan diri, atau justru bergerak menuju bom atom. Di saat tekanan militer meningkat dan kepemimpinan baru masih dibaca arah kebijakannya, perdebatan tentang doktrin nuklir Iran kembali menguat.

Selama bertahun-tahun, Iran menegaskan program nuklirnya bersifat damai. Ayatollah Ali Khamenei bahkan pernah mengeluarkan fatwa yang melarang kepemilikan senjata nuklir, dan kebijakan itu menjadi landasan politik utama untuk menahan ambisi bom.

Fatwa yang dulu menjadi pagar kini dipertanyakan

Pagar itu kini tampak rapuh setelah rangkaian eskalasi dengan Amerika Serikat dan Israel. Trita Parsi dari Quincy Institute for Responsible Statecraft mengatakan kepada CNN bahwa “the nuclear fatwa is dead,” seraya menilai opini elite maupun publik Iran berubah drastis karena negara itu diserang dua kali saat negosiasi oleh pihak yang juga memiliki senjata nuklir.

Konteks ini penting karena selama bertahun-tahun Khamenei memilih menahan tekanan internal untuk mengubah arah kebijakan. Ia lebih mengandalkan apa yang oleh para pakar disebut sebagai “strategic patience,” yakni membiarkan program pengayaan uranium terus maju tanpa melangkah ke tahap pembuatan bom.

Tekanan perang mengubah kalkulasi Teheran

Pergeseran sikap tidak muncul tiba-tiba. Serangan besar Israel pada tahun lalu yang menewaskan sejumlah tokoh militer dan nuklir Iran, lalu perintah serangan Amerika Serikat ke tiga situs nuklir penting Iran, memperkeras suara-suara yang meminta perubahan doktrin.

Bahkan sebelum serangan itu, pejabat Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC sudah membuka kemungkinan perubahan arah. Ahmad Haqtalab, komandan yang bertugas melindungi fasilitas nuklir Iran, mengatakan pada 2024 bahwa “a reversal of Iran’s nuclear doctrine and policies, including a shift away from previous considerations, is likely and conceivable.”

Status kepemimpinan baru ikut menambah ketidakpastian

Nama Mojtaba Khamenei, putra almarhum pemimpin tertinggi Iran, kini banyak dibicarakan sebagai figur baru di puncak kekuasaan. Namun posisinya terhadap senjata nuklir belum jelas, dan ia disebut masih menghilang dari ruang publik sehingga muncul spekulasi soal kondisi fisik dan kapasitas pengambilan keputusannya.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kepada Al Jazeera bahwa ia belum yakin soal “jurisprudential or political stance” pemimpin baru itu terhadap senjata nuklir. Ia menambahkan bahwa kebijakan baru mungkin tidak jauh berbeda dari sebelumnya, tetapi penilaian final harus menunggu pandangan Mojtaba sendiri.

Apa yang dimiliki Iran saat ini

Iran belum secara terbuka membalik doktrin nuklirnya. Namun negeri itu memiliki lebih dari 400 kilogram uranium yang sangat diperkaya, jumlah yang dinilai cukup untuk membuat beberapa senjata nuklir jika fatwa lama benar-benar dicabut dan program diarahkan ke tahap senjata.

Berikut garis besar faktor yang paling menentukan langkah Iran ke depan:

  1. Keputusan politik pemimpin tertinggi baru
  2. Ketersediaan uranium yang sangat diperkaya
  3. Kemampuan teknis membangun perangkat nuklir fungsional
  4. Tekanan militer dari Israel dan Amerika Serikat
  5. Pengaruh IRGC yang makin menguat di dalam negara

Opsi Iran tidak selalu berarti bom canggih

Menurut Sina Azodi, penulis buku Iran and the Bomb: The United States, Iran and the Nuclear Question, Iran tidak harus langsung mengejar bom yang rumit dan bisa dipasang di rudal. Jika stok uranium tersedia, Teheran bisa memilih perangkat nuklir sederhana yang tetap mampu menghasilkan ledakan nuklir nyata.

Perangkat semacam itu memang jauh kurang efisien dan tidak ideal untuk misi militer, tetapi nilai politiknya besar. Tujuannya bisa untuk menunjukkan kemampuan nuklir dan membangun efek gentar, meski para ahli mengingatkan bahwa daya tangkal semacam itu tidak selalu efektif.

Azodi menilai ancaman nuklir Iran tidak otomatis dapat diarahkan ke Amerika Serikat. Ia mengatakan rudal Iran tidak menjangkau wilayah AS, dan bahkan jika Iran memiliki puluhan hulu ledak, hal itu tidak cukup untuk menandingi negara dengan ribuan senjata nuklir.

Mengapa Iran bisa berubah arah sekarang

Para pengamat menilai alasan utama Iran menahan diri selama ini adalah ketakutan terhadap serangan balasan Israel dan Amerika Serikat. Logika itu melemah setelah serangan justru tetap terjadi, sehingga sebagian elite Iran merasa semua batas sudah dilampaui.

Azodi menyebut keadaan perang ini telah mengubah perhitungan secara mendasar karena Iran kini menyerap begitu banyak tekanan. Di dalam negeri, suara keras dari kalangan garis keras juga makin terdengar, termasuk seruan di televisi negara yang menyebut Iran harus mengambil langkah untuk “produce or possess nuclear weapons.”

Dampak regional yang paling mungkin

Jika Iran benar-benar bergerak ke arah bom, dampak paling cepat mungkin terasa di kawasan Teluk, bukan di lintas benua. Azodi menilai Arab Saudi bisa menjadi negara regional berikutnya yang mempertimbangkan opsi serupa.

Sinyal itu sebenarnya sudah pernah disampaikan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang pada masa lalu berkata, “Without a doubt, if Iran developed a nuclear bomb, we would follow suit as soon as possible.” Pernyataan itu menunjukkan bahwa satu langkah nuklir Iran bisa memicu efek domino di kawasan.

Apa yang paling perlu dipantau sekarang

Arah kebijakan nuklir Iran akan sangat ditentukan oleh kombinasi antara warisan fatwa, tekanan militer, dan konsolidasi kekuasaan di tangan IRGC. Selama kepemimpinan baru belum memberi sinyal tegas, spekulasi tentang apakah Iran akan tetap bertahan pada ambang nuklir atau melangkah ke senjata akan terus membayangi kebijakan luar negeri dan keamanan regional.

Exit mobile version