Paus Leo XIV Tolak Pembenaran Perang Atas Nama Tuhan, Pesan Tegas Dari Misa Minggu Palma

Paus Leo XIV menegaskan dalam Misa Minggu Palma di Lapangan Santo Petrus bahwa Tuhan tidak berpihak pada doa dan alasan yang dipakai untuk membenarkan perang. Dalam homilinya, ia menyebut Allah sebagai “Raja Damai” yang menolak kekerasan, di tengah konflik yang masih berkecamuk di Timur Tengah, Ukraina, dan Iran.

Seruan itu disampaikan saat umat Katolik memasuki Pekan Suci, masa yang mengingatkan kembali pada penderitaan, wafat, dan kebangkitan Yesus. Leo juga secara khusus mendoakan umat Kristen di Timur Tengah yang disebutnya hidup dalam dampak “konflik yang mengerikan” dan sulit menjalankan rangkaian ibadat suci secara penuh.

Pesan utama Paus Leo XIV

Dalam khotbahnya, Leo XIV menegaskan bahwa kekerasan tidak bisa dibenarkan atas nama agama. Ia mengatakan Yesus adalah “Raja Damai” yang menolak perang, dan menolak dipakai untuk melegitimasi tindakan brutal.

Paus asal Amerika Serikat itu juga mengutip pesan Kitab Suci tentang tangan yang berlumuran darah. Ia menegaskan bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa orang yang melancarkan perang, sebuah pernyataan yang langsung relevan dengan situasi global saat ini.

Konteks perang dan penggunaan agama

Pernyataan Paus muncul di tengah meningkatnya ketegangan internasional, termasuk perang U.S.-Israel melawan Iran yang telah memasuki bulan kedua. Di saat yang sama, Rusia masih melanjutkan kampanye militernya di Ukraina.

Artikel referensi menyebut bahwa para pemimpin di berbagai pihak telah memakai bahasa agama untuk membenarkan tindakan mereka. Pejabat AS, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth, disebut mengaitkan perang dengan identitas Kristen, sementara Gereja Ortodoks Rusia menggambarkan invasi ke Ukraina sebagai “perang suci” melawan dunia Barat yang dianggap jatuh dalam kejahatan.

Doa khusus untuk umat Kristen di Timur Tengah

Dalam berkat khusus di akhir Misa, Leo XIV menyampaikan doa bagi umat Kristen di Timur Tengah. Ia menyebut mereka menderita akibat konflik yang kejam dan dalam banyak kasus tidak dapat menjalankan ritus Pekan Suci secara penuh.

Paus juga mengajak umat beriman mendoakan mereka yang terluka oleh perang. Ia meminta agar jalan nyata menuju rekonsiliasi dan perdamaian dibuka, bukan sekadar seruan simbolik tanpa dampak.

Kutipan penting dari homili Paus

  1. “Jesus, King of Peace, who rejects war.”
  2. “No one can use to justify war.”
  3. “Your hands are full of blood.”
  4. “Open concrete paths of reconciliation and peace.”

Kutipan tersebut menunjukkan garis tegas Vatikan terhadap penggunaan agama sebagai pembenar kekerasan. Pesan itu juga memperkuat posisi tertentu dalam diplomasi moral Gereja Katolik yang kerap menyerukan gencatan senjata dan dialog.

Pekan Suci di tengah situasi yang menegang

Minggu Palma menandai masuknya Yesus ke Yerusalem menjelang penyaliban pada Jumat Agung dan kebangkitan pada Minggu Paskah. Bagi umat Katolik, momen ini bukan hanya perayaan liturgis, tetapi juga refleksi atas penderitaan dan pengorbanan.

Leo XIV mengingatkan bahwa Pekan Suci tidak boleh dipisahkan dari realitas manusia yang masih menderita karena perang. Ia menautkan peringatan liturgis itu dengan penderitaan warga sipil di banyak wilayah konflik.

Akses ke Gereja Makam Kudus sempat dibatasi

Sebelum Misa di Vatikan, kebijakan keamanan di Yerusalem juga menjadi sorotan. Polisi Israel mencegah pimpinan tertinggi Gereja Katolik memasuki Gereja Makam Kudus untuk merayakan Misa Minggu Palma secara pribadi.

Menurut Patriarkat, ini menjadi pertama kalinya dalam berabad-abad para pemimpin gereja tidak dapat merayakan Minggu Palma di tempat yang diyakini umat Kristen sebagai lokasi penyaliban Yesus. Polisi Israel mengatakan akses ditolak karena semua tempat suci di Kota Tua ditutup bagi para peziarah demi alasan keamanan.

Setelah kritik mengalir, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut Israel akan berupaya membuka sebagian akses ke Gereja Makam Kudus dalam beberapa hari berikutnya. Situasi itu menambah lapisan ketegangan di tengah perayaan suci yang seharusnya berfokus pada doa dan ibadah.

Agenda Pekan Suci Paus Leo XIV

Berikut sejumlah agenda liturgi yang disebut dalam laporan AP:

  1. Kamis Putih: Paus memimpin ritual pembasuhan kaki di Basilika Santo Yohanes Lateran.
  2. Jumat Agung: Paus memimpin prosesi di Colosseum Roma untuk mengenang sengsara dan penyaliban Kristus.
  3. Sabtu Suci: Paus memimpin Vigili Paskah dan membaptis umat Katolik baru.
  4. Minggu Paskah: Paus memimpin Misa di Lapangan Santo Petrus dan menyampaikan berkat Paskah dari loggia basilika.

Vatikan belum mengumumkan siapa yang akan ambil bagian dalam tradisi pembasuhan kaki pada Kamis Putih. Namun, Leo XIV disebut mengembalikan ritual itu ke Basilika Santo Yohanes Lateran, tempat para paus melaksanakannya selama puluhan tahun.

Warisan Pekan Suci dari Paus Fransiskus

Bagi banyak orang di Vatikan, awal Pekan Suci tahun ini juga memunculkan ingatan pada masa-masa terakhir Paus Fransiskus. Ia wafat pada Senin Paskah setelah sebelumnya sempat tampil di hadapan umat pada Minggu Paskah terakhirnya.

Fransiskus dikenal sering memindahkan ritual pembasuhan kaki ke penjara dan pusat pengungsi di wilayah Roma. Langkah itu ia gunakan untuk menekankan pelayanan kepada mereka yang berada di pinggiran masyarakat, meski kebijakan itu juga sempat menuai kritik dari sebagian pihak.

Paus Leo XIV kini melanjutkan Pekan Suci dengan pesan yang sama tegasnya tentang damai, sementara konflik di berbagai wilayah dunia masih jauh dari reda. Dalam suasana ibadat yang sakral, pesan Vatikan menjadi pengingat bahwa agama tidak semestinya dipakai untuk membenarkan perang, melainkan untuk mendorong penghentian kekerasan dan pembukaan jalan perdamaian yang konkret.

Exit mobile version