Setiap pagi, Abdel Karim Salman memulai hari dengan membawa dua ponsel yang habis daya menuju titik pengisian listrik di Deir el-Balah, Jalur Gaza tengah. Di malam hari, cahaya senter dari ponsel menjadi satu-satunya penerangan di tenda sempit yang ia huni bersama istri dan dua anaknya.
Kisah Abdel Karim menggambarkan bagaimana listrik di Gaza berubah dari layanan dasar menjadi kebutuhan langka yang mahal. Di tengah pengungsian, warga tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga akses paling mendasar untuk menyalakan lampu, menyimpan makanan, mengisi daya ponsel, dan menjaga aktivitas keluarga tetap berjalan.
Hidup dengan cahaya dari ponsel
Abdel Karim, 28 tahun, sebelumnya bekerja sebagai insinyur sipil di Kota Beit Lahiya, Gaza utara. Rumah keluarganya hancur pada awal serangan Israel, lalu ia mengungsi bersama keluarga besar yang terdiri dari sekitar 30 orang ke Deir el-Balah.
Sejak itu, rutinitas hariannya berubah total. Ia berjalan sekitar 150 hingga 200 meter setiap hari ke titik pengisian daya, lalu membayar antara dua hingga empat shekel untuk sekali isi, dua kali sehari.
Jika dihitung, biaya untuk sekadar menyalakan ponsel bisa mencapai sekitar delapan hingga 10 shekel per hari, atau 270 hingga 300 shekel per bulan. Angka itu menjadi beban berat bagi keluarga pengungsi yang nyaris tidak memiliki pendapatan tetap di tengah krisis ekonomi akibat perang.
Pilihan listrik yang terbatas dan mahal
Kondisi ini tidak hanya dialami Abdel Karim. Di banyak wilayah Gaza, warga menghadapi pilihan yang serba mahal dan serba terbatas untuk mendapatkan listrik, mulai dari lampu tenaga surya hingga generator berbahan bakar diesel.
- Lampu tenaga surya sempat menjadi alternatif, tetapi harga jualnya naik tajam menjadi sekitar 300 shekel, dari sebelumnya jauh lebih murah.
- Panel surya bahkan bisa mencapai 420 dolar AS per panel, belum termasuk baterai sekitar 1.200 dolar AS dan inverter.
- Layanan listrik dari generator swasta juga sulit dijangkau karena biaya tinggi dan pasokan bahan bakar yang tidak stabil.
Masalah lain muncul karena pembatasan ketat atas masuknya barang-barang penting ke Gaza. Akibatnya, perangkat energi seperti panel, baterai, dan inverter menjadi barang langka di pasar lokal.
Krisis yang sudah lama membayangi Gaza
Gangguan listrik di Gaza bukan persoalan baru. Bahkan sebelum perang, warga sudah terbiasa hidup dengan pemadaman bergilir karena pasokan listrik dari luar terbatas dan bahan bakar sering langka.
Setelah serangan pada awal Oktober, Israel menyatakan pengepungan total atas Gaza dan memutus pasokan listrik serta bahan bakar. Dalam hitungan hari, pembangkit listrik di Gaza berhenti beroperasi karena kehabisan bahan bakar, lalu wilayah itu masuk ke dalam blackout total pada pertengahan Oktober, menurut badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sejak saat itu, jaringan listrik Gaza terus menurun kondisinya akibat kekurangan bahan bakar dan kerusakan fisik yang meluas. Rumah sakit, sistem air, dan jaringan telekomunikasi ikut terdampak karena semuanya bergantung pada sumber daya yang makin terbatas.
Dampak listrik padam ke kehidupan keluarga
Bagi keluarga pengungsi, padamnya listrik berarti hilangnya banyak fungsi paling dasar dalam rumah tangga. Abdul Karim menyebut tenda mereka tidak memiliki kulkas, mesin cuci, atau sarana untuk menyimpan susu bayi lebih dari beberapa jam.
Ia juga menilai dampak paling berat justru dirasakan anak-anak. Tanpa televisi, layar, atau hiburan digital, anak-anak lebih cepat cemas dan sulit tenang saat malam tiba dalam gelap total.
Kondisi itu memaksa orang tua mencari solusi seadanya agar anak-anak tidak takut bangun di tengah malam. Ponsel lalu berubah peran dari alat komunikasi menjadi sumber cahaya, hiburan, dan ketenangan sementara.
Mengapa listrik menjadi urusan ekonomi
Krisis listrik juga membuka sisi lain dari bertahan hidup di Gaza, yakni lahirnya usaha-usaha kecil berbasis energi. Salah satunya dijalankan Jamal Musbah, 50 tahun, yang mengoperasikan stasiun pengisian ponsel dengan tenaga surya dan sambungan generator.
Sebelum perang, Jamal bekerja sebagai petani dan mengelola dua lahan pertanian di sisi timur Deir el-Balah. Kini, lahan itu diratakan dan berada di bawah kendali Israel, sehingga usaha pengisian daya menjadi sumber nafkah utama bagi delapan anaknya.
Ia mengubah sistem energi yang dulu dipakai untuk memompa air dan mengairi lahan menjadi layanan pengisian ponsel. Namun, tingginya permintaan membuat baterai cepat habis, sementara satu serangan di rumah tetangga menghancurkan empat dari enam panel suryanya.
Data biaya krisis listrik yang membebani warga
Beragam biaya yang muncul dari krisis listrik di Gaza menunjukkan seberapa mahal akses ke kebutuhan paling mendasar. Berikut gambaran singkatnya:
| Kebutuhan | Biaya yang disebutkan |
|---|---|
| Isi daya ponsel per sesi | 2–4 shekel |
| Isi daya ponsel per hari | 8–10 shekel |
| Isi daya ponsel per bulan | 270–300 shekel |
| Lampu tenaga surya | sekitar 300 shekel |
| Panel surya | 420 dolar AS per panel |
| Baterai | sekitar 1.200 dolar AS |
Biaya itu belum termasuk ongkos lain seperti transportasi menuju titik pengisian, harga bahan bakar untuk generator, atau kerusakan peralatan akibat konflik. Bagi keluarga tanpa pemasukan tetap, angka-angka tersebut membuat listrik nyaris menjadi barang mewah.
Generator, surya, dan kebutuhan yang tak pernah stabil
Jamal mengatakan pada awalnya ia bisa melayani sekitar 100 hingga 200 ponsel per hari. Setelah panel surya rusak dan baterai melemah, kapasitasnya turun menjadi sekitar 50 hingga 60 ponsel per hari.
Layanan yang ia sediakan kini juga bergantung pada musim dan cuaca, karena efisiensi surya menurun saat langit mendung dan pada musim dingin. Saat produksi tenaga surya melemah, warga kembali bergantung pada generator yang juga tidak selalu bekerja optimal.
Pada titik ini, listrik tidak lagi sekadar soal penerangan. Tanpa listrik, keluarga tidak bisa mengisi daya telepon, usaha kecil tidak berjalan, layanan kesehatan terganggu, dan kebutuhan dasar seperti menyimpan makanan menjadi semakin sulit.
Krisis yang dirasakan hampir semua warga
Abdel Karim menilai penderitaan akibat kekurangan listrik terlalu sering luput dari perhatian, meski dampaknya hadir setiap hari. Ia mengatakan banyak keluarga di Gaza menjalani kondisi yang sama, termasuk mereka yang berada di kamp-kamp pengungsian terdekat.
Situasi itu membuat warga terus mencari solusi darurat, meski hasilnya hanya sementara. Di Gaza, listrik tidak lagi dipandang sebagai fasilitas, melainkan sebagai penentu apakah sebuah keluarga bisa makan, berkomunikasi, dan melewati malam dengan aman.
Di tengah tenda, senter ponsel tetap menyala sebentar lalu redup lagi ketika baterai habis. Bagi banyak keluarga di Gaza, hidup dalam gelap kini menjadi bagian dari rutinitas harian yang belum menemukan kepastian kapan akan berakhir.
