Donald Trump menyebut perang dengan Iran bisa berakhir dalam “dua minggu, mungkin tiga”, sambil menegaskan bahwa Amerika Serikat akan segera mengambil langkah lanjutan terkait konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah dan pasar global. Pernyataan itu disampaikan saat Gedung Putih mengumumkan bahwa Trump akan memberi pengarahan kepada publik pada pukul 9 malam Rabu waktu setempat untuk menyampaikan pembaruan penting mengenai Iran.
Pernyataan Trump muncul di tengah eskalasi militer yang terus meluas, termasuk serangan Israel di Lebanon, serangan udara di Iran, dan kekhawatiran atas jalur pelayaran vital di Selat Hormuz. Pasar keuangan merespons cepat, dengan saham AS menguat dan harga minyak Brent turun, sementara investor menilai peluang perang mereda meski situasi di lapangan masih jauh dari stabil.
Pernyataan Trump soal durasi perang
Di hadapan wartawan di Oval Office, Trump mengatakan Amerika Serikat akan keluar dari konflik itu “segera”, kemungkinan dalam “dua minggu, mungkin tiga”. Ia menambahkan bahwa target Washington adalah “menyelesaikan pekerjaan” dan menyingkirkan seluruh kemampuan yang dianggap mengancam.
Trump juga membuka kemungkinan adanya kesepakatan diplomatik sebelum batas waktu itu tercapai. Sikap tersebut menunjukkan pola kebijakan yang kerap berubah-ubah, karena Washington sebelumnya memberi sinyal bisa memperbesar keterlibatan militer atau justru menempuh jalur perundingan dengan Teheran.
Selat Hormuz jadi titik paling sensitif
Trump menegaskan bahwa soal Selat Hormuz, Amerika Serikat tidak akan terlibat langsung dalam pengamanannya. Jalur ini sangat penting karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya melintas di sana, sehingga setiap gangguan dapat memicu gejolak energi global.
Ia juga mengatakan negara-negara seperti Prancis, China, dan pihak lain yang membutuhkan akses lewat selat itu harus mengurus kepentingan mereka sendiri. Dalam unggahan di Truth Social, Trump bahkan menulis bahwa AS “tidak akan ada lagi untuk membantu” negara yang menurutnya tidak membantu Washington, lalu menegaskan, “Pergi ambil minyak kalian sendiri.”
Respons Israel dan Iran masih saling berlawanan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kampanye gabungan melawan Iran telah “mengubah wajah Timur Tengah”. Ia menegaskan pasukan Israel akan terus menekan apa yang ia sebut sebagai “rezim teror” di Teheran.
Dari pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran memiliki “kehendak yang diperlukan” untuk mengakhiri perang, selama lawan-lawannya menjamin konflik tidak akan meletus lagi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia masih menerima pesan dari utusan AS Steve Witkoff, tetapi menegaskan hal itu “tidak berarti sedang bernegosiasi”.
Dampak perang meluas ke Lebanon dan pasar dunia
Di Lebanon, kementerian kesehatan melaporkan tujuh orang tewas dalam serangan Israel di Beirut selatan dan wilayah sekitarnya. Militer Israel mengatakan serangan itu menargetkan seorang komandan senior Hizbullah, kelompok yang didukung Iran dan menjadi salah satu front penting dalam konflik regional.
Sejauh ini, kampanye Israel terhadap Hizbullah telah menewaskan lebih dari 1.200 orang di Lebanon, dengan lebih dari satu juta orang mengungsi menurut otoritas kesehatan setempat. Angka itu memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Iran dan Israel, tetapi telah menekan negara tetangga dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Pasar mencatat sinyal optimisme yang rapuh
Investor langsung merespons kemungkinan perang mereda. Saham AS naik karena pelaku pasar berharap konflik yang berlangsung selama sebulan terakhir bisa segera diredakan, sementara kontrak berjangka Brent ditutup turun 3,2 persen ke 103,97 dolar AS per barel.
Di Asia, indeks Nikkei Jepang dibuka naik lebih dari tiga persen dan Kospi Korea Selatan melonjak hampir lima persen. Pergerakan itu menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap setiap sinyal dari Washington, Teheran, dan Tel Aviv yang bisa mengubah arah konflik dalam hitungan jam.
Poin penting dari perkembangan terbaru
- Trump menyebut perang dengan Iran mungkin berakhir dalam dua hingga tiga minggu.
- Gedung Putih menjadwalkan pidato penting Trump untuk memberi pembaruan soal Iran.
- Selat Hormuz tetap menjadi titik strategis karena peran besarnya dalam distribusi minyak dunia.
- Israel dan Iran masih saling mengirim ancaman, sementara serangan di Lebanon dan Iran terus terjadi.
- Pasar saham dan minyak bereaksi cepat terhadap kemungkinan meredanya konflik.
Pernyataan terbaru Trump, ditambah serangan yang masih berlangsung di Iran, Lebanon, dan kawasan lain, membuat masa depan konflik tetap bergantung pada keputusan militer dan diplomatik dalam beberapa hari ke depan. Selama belum ada kesepakatan yang jelas, Selat Hormuz, harga minyak, dan stabilitas kawasan akan tetap menjadi fokus utama perhatian dunia.
