Tolak Negosiasi Dengan AS, Iran Siap Hadapi Perang Enam Bulan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi menegaskan Teheran tidak akan membuka negosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel di tengah memanasnya ketegangan kawasan. Dalam wawancara dengan Al Jazeera di Teheran, ia juga mengatakan Iran siap menghadapi perang hingga setidaknya enam bulan ke depan.

Pernyataan itu muncul saat hubungan Iran dan AS kembali berada di titik sangat keras, dengan saling kirim pesan yang menurut Aragchi bukanlah negosiasi. Ia menekankan bahwa komunikasi yang terjadi, baik langsung maupun lewat perantara, hanya bentuk penyampaian pesan dan tidak berarti kedua pihak sedang duduk di meja perundingan.

Iran Tolak Duduk Satu Meja dengan AS dan Israel

Aragchi menyebut tidak ada situasi yang memungkinkan Iran bernegosiasi dengan Washington dan Tel Aviv dalam kondisi saat ini. Ia menolak anggapan bahwa jalur diplomatik tengah dibuka untuk mencapai kesepakatan baru.

Menurut dia, pesan-pesan dari utusan AS Steve Witkoff memang masih diterima Iran, tetapi itu tidak bisa disebut negosiasi. Ia menjelaskan bahwa komunikasi seperti itu bisa berlangsung bahkan di tengah perang, tanpa harus menghasilkan pembicaraan formal.

Siap Hadapi Konflik Jangka Panjang

Aragchi mengatakan Iran tidak terikat tenggat waktu apa pun dalam membaca situasi konflik. Ia menegaskan kesiapan negaranya untuk bertahan setidaknya selama enam bulan jika situasi terus memburuk.

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Teheran ingin mengirim sinyal ketahanan politik dan militer kepada lawan-lawannya. Iran tampak ingin menunjukkan bahwa tekanan eksternal tidak akan membuatnya cepat mengalah atau menerima syarat yang dianggap merugikan.

Tuntutan Iran Soal Penghentian Konflik

Dalam pernyataannya, Aragchi menolak gencatan senjata sementara yang hanya menghentikan pertempuran sesaat. Iran, kata dia, menginginkan penghentian total konflik di seluruh kawasan, termasuk Lebanon, Irak, dan Yaman.

Ia juga menuntut jaminan bahwa konflik tidak akan terulang serta kompensasi atas kerusakan yang dialami Iran. Sikap itu menunjukkan bahwa Teheran tidak hanya menuntut jeda senjata, tetapi juga penyelesaian yang lebih menyeluruh dan mengikat.

Kepercayaan ke AS Dinilai Nol

Aragchi mengatakan tingkat kepercayaan Iran terhadap AS saat ini “nol” karena pengalaman sebelumnya. Ia merujuk pada kesepakatan yang pernah ditinggalkan secara sepihak, yang menurut Iran menjadi bukti bahwa Washington tidak konsisten.

Ia juga menilai belum ada ketulusan dari pihak AS dalam mendorong penyelesaian. Karena itu, Iran disebut tidak ingin kembali masuk ke pola perundingan yang dianggap hanya memberi keuntungan sepihak kepada lawan.

Selat Hormuz dan Sikap terhadap Ancaman

Aragchi menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi tidak untuk negara yang sedang berperang dengan Iran. Ia mengatakan Iran tidak akan membiarkan musuh memanfaatkan perairan yang dianggap sebagai wilayah internalnya dalam masa perang.

Pernyataan ini penting karena Selat Hormuz adalah jalur strategis bagi perdagangan energi global. Setiap eskalasi di kawasan itu berisiko memicu kekhawatiran pasar internasional dan mengganggu distribusi minyak dunia.

Pesan Iran ke Kawasan Teluk

Aragchi juga menolak tekanan, ultimatum, dan ancaman dari pihak luar. Ia menegaskan masyarakat Iran tidak akan menerima pendekatan seperti itu dan akan merespons jika diperlakukan tanpa hormat.

Ia kemudian menekankan bahwa keamanan Teluk Persia seharusnya dijaga oleh negara-negara regional, bukan bergantung pada kehadiran militer asing. Menurutnya, stabilitas jangka panjang hanya bisa lahir dari kerja sama kawasan dan saling menghormati antarpemerintah di Timur Tengah.

Poin Utama Pernyataan Abbas Aragchi

  1. Iran menolak negosiasi langsung dengan AS dan Israel.
  2. Teheran mengatakan siap menghadapi perang hingga enam bulan.
  3. Komunikasi dengan AS ada, tetapi bukan negosiasi formal.
  4. Iran menolak gencatan senjata sementara dan menuntut penghentian konflik secara total.
  5. Kepercayaan Iran terhadap AS disebut “nol”.
  6. Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi tidak untuk pihak yang berperang dengan Iran.

Sikap keras Aragchi memperlihatkan bahwa Iran belum melihat ruang untuk kompromi politik dengan Washington dalam waktu dekat. Di saat yang sama, pernyataan itu juga menjadi sinyal bahwa Teheran ingin menjaga posisi tawar di tengah eskalasi kawasan yang terus bergerak dinamis.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id
Exit mobile version