Pernyataan terbaru dari pemerintah China kembali menyorot memanasnya situasi di Selat Hormuz setelah komentar Presiden AS Donald Trump soal jalur pelayaran strategis itu. Beijing menuding akar masalah justru datang dari operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, bukan semata dari tindakan Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, mengatakan gangguan di Selat Hormuz tidak bisa dilepaskan dari serangan militer yang dilakukan AS dan Israel. “Akar penyebab gangguan di Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal AS-Israel terhadap Iran,” kata Mao Ning, seperti dikutip dari TRT World.
Respons China terhadap komentar Trump
Kritik Beijing muncul setelah Trump menyatakan AS hampir tidak lagi mengimpor minyak melalui Selat Hormuz. Ia juga meminta negara-negara lain yang bergantung pada jalur itu untuk menjaga sendiri keamanan pelayaran mereka.
Trump mengatakan, “Dan negara-negara di dunia yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur tersebut. Mereka harus menghargainya. Mereka harus memanfaatkannya dan menjaganya.”
Bagi China, pernyataan itu tidak menjawab sumber masalah yang sesungguhnya. Beijing menilai stabilitas Selat Hormuz tidak dapat dipisahkan dari eskalasi militer yang sudah berlangsung sejak serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari.
Mengapa Selat Hormuz sangat penting
Selat Hormuz adalah jalur sempit yang menjadi nadi perdagangan energi global. Banyak negara, termasuk China, masih sangat bergantung pada rute ini untuk pasokan minyak dari Timur Tengah.
China sendiri merupakan salah satu importir energi terbesar dari kawasan tersebut. Karena itu, gangguan di selat ini langsung berdampak pada kepentingan ekonomi dan ketahanan energi Beijing.
Mao Ning juga mengonfirmasi bahwa tiga kapal China baru-baru ini berhasil melewati Selat Hormuz. Pernyataan itu menunjukkan bahwa Beijing terus memantau kondisi pelayaran di tengah risiko keamanan yang meningkat.
Dampak konflik yang terus meluas
Konflik yang bermula pada 28 Februari itu disebut telah menimbulkan korban besar. Berdasarkan data yang muncul dalam laporan referensi, sedikitnya 1.340 orang tewas, termasuk pemimpin Iran dan 13 personel militer Amerika Serikat.
Serangan balasan Iran kemudian meluas ke Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Akibatnya, korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan tekanan pada pasar global ikut meningkat.
Ketegangan itu juga memperkuat posisi Iran atas selat tersebut. Dalam laporan yang sama, Iran disebut mempertahankan kontrol efektif dan hanya mengizinkan kapal dari negara yang dianggap sahabat untuk melintas.
Sikap Beijing dan risiko bagi perdagangan dunia
China mendorong deeskalasi segera agar jalur pelayaran vital itu tetap terbuka. Sikap ini sejalan dengan kebutuhan Beijing menjaga aliran energi dan stabilitas pasar internasional.
Berikut tiga poin utama dari sikap China dalam isu ini:
- Menolak narasi bahwa gangguan di Selat Hormuz berdiri sendiri tanpa konteks konflik.
- Menyalahkan operasi militer AS-Israel sebagai pemicu utama eskalasi.
- Mendorong penurunan ketegangan demi melindungi jalur perdagangan energi global.
Dalam konteks ini, Selat Hormuz kembali menjadi titik rawan yang tidak hanya memengaruhi Timur Tengah, tetapi juga rantai pasok energi dunia. Selama ketegangan militer belum mereda, risiko terhadap pelayaran internasional dan harga energi global masih tetap tinggi.
Baca selengkapnya di: www.suara.com




