Ketegangan perang di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan lintas negara meluas ke jalur laut, fasilitas energi, dan wilayah sipil di Teluk. Dalam perkembangan terbaru, dampaknya tidak lagi berhenti pada front militer, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas keagamaan, pasokan energi, dan harga bahan bakar di sejumlah negara.
Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik telah memasuki fase yang jauh lebih kompleks. Di satu sisi, Israel, Iran, Hezbollah, dan negara-negara Teluk saling melancarkan serangan atau bersiap menghadapi ancaman baru, sementara di sisi lain komunitas internasional masih berdebat soal perlindungan pelayaran di Selat Hormuz.
Gangguan meluas ke kehidupan sipil
Sejumlah gereja Katolik di Uni Emirat Arab membatalkan misa Paskah di Dubai karena perang yang terus memburuk. Keputusan itu menunjukkan bagaimana eskalasi konflik di kawasan yang jauh dari garis pertempuran langsung tetap memengaruhi kehidupan warga sipil.
Di Kuwait, kompleks listrik dan desalinasi mengalami kerusakan akibat serangan dari Iran, menurut kementerian listrik dan air setempat. Namun, seorang koresponden AFP di Kuwait City melaporkan tidak ada gangguan pada layanan listrik maupun air.
Fasilitas energi dan industri ikut menjadi sasaran
Di Abu Dhabi, kebakaran terjadi di kompleks gas Habshan setelah reruntuhan dari serangan yang berhasil dicegat jatuh ke area tersebut. Kantor media pemerintah menyebut operasi di fasilitas itu dihentikan sementara, menambah daftar titik kritis yang terdampak konflik.
Iran juga disebut meluncurkan gelombang serangan baru ke fasilitas industri di kawasan itu. Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Garda Revolusi mengklaim menargetkan pabrik baja Amerika di UEA dan Bahrain, serta sebuah pabrik senjata di Israel.
Selat Hormuz kembali jadi pusat perhatian
Ketegangan di Selat Hormuz kembali mengkhawatirkan pasar global karena jalur ini sangat penting bagi pengiriman minyak dan barang. Iran memperingatkan agar tidak ada tindakan “provokatif” saat Perserikatan Bangsa-Bangsa membahas kemungkinan otorisasi penggunaan kekuatan untuk melindungi pelayaran di selat tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan tindakan provokatif dari lawan-lawannya, termasuk di Dewan Keamanan PBB, hanya akan memperburuk keadaan. Sementara itu, pemungutan suara yang semula dijadwalkan pada Jumat untuk memberi wewenang pada “kekuatan defensif” di Selat Hormuz ditunda, menurut agenda resmi Dewan Keamanan.
Ringkasan perkembangan utama
- Serangan dan ancaman militer meluas dari Israel, Iran, Lebanon, hingga negara-negara Teluk.
- Fasilitas energi di Kuwait dan Abu Dhabi terdampak serangan atau serpihan serangan.
- Selat Hormuz kembali menjadi titik krusial karena menyangkut keamanan jalur pelayaran global.
- PBB menunda pemungutan suara terkait perlindungan pelayaran di selat tersebut.
- Harga bahan bakar di Pakistan naik tajam akibat lonjakan harga global dari perang.
Israel, Hezbollah, dan serangan balasan
Militer Israel mengatakan telah menghantam lebih dari 3.500 target di لبنان sejak pertempuran dengan Hezbollah yang didukung Iran dimulai. Di sisi lain, Hezbollah menyatakan para kombatannya menargetkan sedikitnya tiga komunitas di Israel utara dengan roket sebagai bentuk dukungan kepada Iran.
Militer Israel juga menyebut telah mendeteksi rudal yang diluncurkan dari Iran ke wilayah Israel. Sistem pertahanan udara disebut tengah bekerja untuk mencegat ancaman tersebut, yang menggambarkan intensitas serangan balasan yang masih tinggi.
Kuwait, Bahrain, dan peringatan keamanan di Teluk
Di Kuwait, militer setempat mengatakan pertahanan udara berupaya mencegat rudal dan drone yang diarahkan ke wilayah negara itu. Serangan drone terhadap kilang milik perusahaan minyak nasional Kuwait juga memicu kebakaran di beberapa unit fasilitas tersebut.
Di Bahrain, kementerian dalam negeri mengumumkan sirene berbunyi dan meminta warga menuju tempat aman terdekat. Dalam waktu yang sama, Bahrain juga membawa resolusi ke PBB yang, menurut draf akhir yang dilihat AFP, akan mengizinkan negara anggota memakai “segala cara defensif yang diperlukan dan sepadan” untuk melindungi pelayaran di Hormuz.
Pernyataan keras dari Washington dan dampak ekonomi
Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa pasukan AS belum mulai “menghancurkan apa yang tersisa di Iran”, seraya menyebut target berikutnya bisa mencakup jembatan dan infrastruktur energi. Ia menulis di Truth Social bahwa militer AS “belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran”, beberapa jam setelah mengatakan jembatan tertinggi di negara itu telah dihancurkan.
Dampak perang juga terasa sampai Pakistan, yang menaikkan harga bahan bakar secara drastis akibat lonjakan harga global. Menteri perminyakan Pakistan mengatakan harga petrol naik 42.7 persen mulai Jumat, sementara diesel naik 54.9 persen.
Di tengah saling serang yang terus berubah cepat, pasar energi, pelayaran internasional, dan keamanan sipil di kawasan Teluk tetap menjadi titik paling rentan. Kondisi ini membuat setiap perkembangan baru di Selat Hormuz, Lebanon, Israel, dan Teluk langsung berpotensi memicu efek berantai ke wilayah yang lebih luas.
