Pada awal tahun, Pakistan masih menghadapi masalah klasik sektor energinya: terlalu banyak LNG impor, tetapi konsumsi terus turun. Situasi itu berubah cepat setelah perang terhadap Iran memicu guncangan di Teluk Persia dan menutup pasokan utama gas cair ke Pakistan hampir dalam semalam.
Perubahan dari surplus menjadi ancaman kelangkaan terjadi karena Pakistan sangat bergantung pada pasokan LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab, sementara negara itu hampir tidak memiliki cadangan darurat. Saat jalur pasokan terganggu dan harga energi global melonjak, cadangan yang semula berlebih justru berubah menjadi beban yang harus ditambal dengan langkah darurat.
Dari kelebihan pasokan ke tekanan fiskal
Sebelum konflik pecah, permintaan gas Pakistan sudah turun selama tiga tahun berturut-turut. Konsumsi yang pernah mencapai 8,2 juta ton pada puncaknya turun menjadi 6,1 juta ton, seiring derasnya masuk panel surya murah dan melemahnya permintaan industri.
Akibatnya, pemerintah diam-diam menjual sebagian kargo LNG ke negara lain dan menutup sebagian sumur gas domestik agar pipa tidak rusak karena tekanan berlebih. Langkah itu hanya menunda masalah, karena gas yang tidak bisa dialihkan tetap mengalir ke jaringan rumah tangga dengan rugi besar dan memperlebar utang sektor energi.
Mengapa perang Iran memukul Pakistan begitu cepat
Serangan udara besar oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu balasan rudal dan drone dari Teheran. Ketegangan itu hampir melumpuhkan lalu lintas di Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima minyak dan gas dunia.
Dampaknya langsung terasa ketika drone Iran menghantam fasilitas gas Qatar di Ras Laffan, kompleks ekspor LNG terbesar di dunia. Qatar lalu menghentikan produksi dan menyatakan force majeure, sementara serangan lanjutan terhadap ladang gas South Pars di Iran menambah risiko bagi seluruh pasokan kawasan.
Bagi Pakistan, guncangan itu sangat berat karena negara tersebut mengandalkan hampir seluruh impor LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab. Data dari Kpler menunjukkan kedua negara itu menyumbang 99 persen impor LNG Pakistan, sehingga gangguan di Teluk otomatis mengubah kondisi domestik Islamabad.
Rantai pasokan yang sangat rapuh
Pakistan memenuhi kebutuhan gas hariannya dari tiga sumber utama. Sekitar 2.700 million cubic feet per day datang dari ladang gas domestik yang produksinya terus menurun, sementara sekitar 600 million cubic feet per day disokong LNG impor saat pengiriman berjalan normal.
Sumber ketiga adalah LPG tabung untuk rumah tangga di wilayah yang belum terhubung jaringan pipa. Lebih dari 60 persen pasokan LPG Pakistan berasal dari Iran, sehingga konflik juga mengguncang bahan bakar yang biasa dipakai jutaan rumah tangga di daerah terpencil.
- Gas domestik: sekitar 2.700 million cubic feet per day.
- LNG impor: sekitar 600 million cubic feet per day saat normal.
- LPG rumah tangga: lebih dari 60 persen masih bergantung pada Iran.
Ketika pasokan LNG tersendat, sistem yang sudah rapuh itu kehilangan penopang utama. Pakistan tidak memiliki kapasitas penyimpanan besar, sehingga penurunan pasokan langsung terasa di pipa, pembangkit listrik, dan industri.
Dari belasan kargo menjadi hanya dua
Data bulanan yang dihimpun regulator energi Pakistan, OGRA, menunjukkan penurunan tajam pengiriman LNG setelah perang dimulai. Sepanjang sebagian besar periode sebelumnya, Pakistan menerima delapan hingga 12 kargo LNG per bulan, bahkan 12 kargo tiba pada Januari, tetapi hanya dua kargo yang masuk pada bulan dimulainya perang.
Harga juga bergerak naik sebelum dampak penuh konflik terasa. Menurut data yang dikompilasi peneliti Manzoor Ahmed dari Policy Research Institute for Equitable Development, delapan kargo yang dibeli pada 13 Februari oleh Pakistan State Oil dan Pakistan LNG Limited memiliki harga rata-rata $10,47 per MMBtu, dengan total $257,1 juta.
Beberapa minggu kemudian, dua kargo yang benar-benar tiba pada 12 Maret sudah berharga $12,49 per MMBtu. Kenaikan 19 persen dalam waktu singkat itu menunjukkan pasar mulai mengetat bahkan sebelum dampak geopolitik mencapai titik maksimal.
Solar mengubah peta permintaan
Penurunan konsumsi gas di Pakistan tidak hanya disebabkan oleh konflik. Ledakan energi surya juga mengubah pola konsumsi listrik nasional dan membuat banyak pembangkit gas tak terpakai, terutama pada siang hari.
Pada 2025, Pakistan memiliki 34 gigawatt kapasitas surya, dengan sekitar 25 gigawatt diperkirakan terhubung ke jaringan nasional. Dalam periode yang sama, permintaan listrik dari grid turun hampir 11 persen sejak 2022, karena rumah tangga dan bisnis beralih ke panel surya untuk menghindari tarif tinggi dan pemadaman berulang.
Haneea Isaad dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis mengatakan solarisasi membantu menekan kebutuhan pembangkit termal pada siang hari. Namun, kontrak gas luar negeri tetap harus dipenuhi, sehingga Pakistan terus membeli LNG meski permintaan domestik turun tajam.
Mengapa surplus menjadi utang baru
Masalah utama Pakistan bukan hanya kelebihan pasokan, tetapi juga rigiditas kontrak jangka panjang. Pemerintah tetap harus membeli LNG meski kebutuhan turun, sementara volume yang tidak terserap harus dialihkan ke pasar atau dipaksa masuk ke jaringan domestik dengan rugi.
Manzoor Ahmed menilai pemerintah tidak memperhitungkan dengan baik pertumbuhan cepat energi surya dan dampaknya terhadap permintaan grid. Ia juga menyebut surplus itu sebenarnya bisa diprediksi, karena desain kontrak memberi sedikit ruang fleksibilitas ketika pasar berubah cepat.
Saat LNG berlebih, konsumsi LNG Pakistan turun 1,21 juta ton hanya dalam satu tahun. Akibatnya, utang berantai atau circular debt di sektor gas kini mencapai 3,3 triliun rupee, sekitar $11 miliar.
Dampak langsung pada pasokan dan pembangkit
Setelah Qatar mengumumkan force majeure, pengiriman LNG ke Pakistan praktis berhenti. Dari delapan kargo yang dijadwalkan dalam satu bulan, hanya dua yang datang, dan enam kargo berikutnya diperkirakan tidak akan tiba.
Rehan Akhtar dari Central Power Purchasing Agency mengatakan dalam sidang publik National Electric Power Regulatory Authority bahwa pasokan LNG berada dalam status force majeure. Ia menambahkan, impor batu bara dari Afrika Selatan dan Indonesia tidak terdampak, tetapi itu tidak cukup menghapus risiko kekurangan energi.
Pemerintah lalu mengaktifkan kembali produksi gas domestik yang sebelumnya sengaja ditahan untuk memberi ruang bagi LNG impor. Isaad menyebut Pakistan kemungkinan menahan sekitar 350 hingga 400 million cubic feet per day gas domestik pada masa surplus, sehingga kapasitas itu kini dipakai kembali untuk menutup lubang pasokan.
Risiko yang mengintai selama musim panas
Pemerintah dan analis energi memperingatkan bahwa ancaman terbesar justru datang saat permintaan listrik memuncak di musim panas. National Electric Power Regulatory Authority mencatat puncak permintaan listrik pada musim panas lalu melampaui 33.000 megawatt, sementara permintaan musim dingin kini sekitar 15.000 megawatt.
Perbedaan itu besar, dan sistem saat ini belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan kembali. Surya memang membantu, dengan produksi harian panel surya mencapai 9.000 hingga 10.000 megawatt, tetapi rumah tangga dan industri yang bergantung pada grid tetap rentan terhadap kenaikan tarif dan pengurangan pasokan.
Berikut tekanan utama yang dihadapi Pakistan:
- LNG hampir hilang dari pasar domestik.
- Permintaan listrik akan naik saat cuaca panas.
- Bahan bakar cadangan seperti furnace oil jauh lebih mahal.
Furnace oil kini dihargai 35 rupee per unit, sekitar $0,12, dan harganya telah lebih dari dua kali lipat sejak gangguan di Selat Hormuz. Karena itu, opsi pengganti LNG menjadi semakin mahal dan sulit dijalankan dalam skala besar.
Biaya yang tidak merata bagi rumah tangga dan industri
Beban krisis energi ini tidak akan dirasakan sama oleh semua pihak. Konsumen listrik dari grid kemungkinan menghadapi tagihan yang lebih tinggi sekaligus pemadaman bergilir, sementara industri berbasis gas bisa terganggu produksinya karena pasokan tidak stabil.
Di sisi lain, rumah tangga dan bisnis yang sudah memasang panel surya serta baterai penyimpanan akan lebih terlindungi. Namun, kelompok itu masih merupakan minoritas dibanding jutaan pengguna yang bergantung penuh pada sistem listrik nasional.
Isaad menilai pemerintah kini punya pilihan yang sangat terbatas. Kembali ke pasar spot LNG berisiko mahal dan bisa membuat Pakistan kalah bersaing dengan negara yang lebih mampu, sementara penggunaan furnace oil dinilai terlalu mahal untuk operasi jangka panjang.
Dalam kondisi seperti ini, beban terbesar kemungkinan jatuh pada kebijakan load-shedding, dengan pemadaman terencana sekitar dua hingga tiga jam per hari jika tekanan pasokan tidak mereda.









