Iran Jatuhkan Dua Pesawat AS, Satu Awak Hilang Di Tengah Eskalasi Perang

Iran menembak jatuh dua pesawat militer Amerika Serikat dalam serangan terpisah pada Jumat, menandai eskalasi besar dalam perang yang sudah berlangsung hampir lima minggu. Satu anggota kru berhasil diselamatkan, sementara sedikitnya satu orang lainnya masih hilang dan operasi pencarian serta penyelamatan masih berjalan.

Insiden ini menjadi pertama kalinya pesawat militer AS ditembak jatuh dalam konflik tersebut. Peristiwa itu juga terjadi hanya dua hari setelah Presiden Donald Trump menyatakan dalam pidato nasional bahwa AS telah “mengalahkan dan sepenuhnya menghancurkan Iran” dan akan “menyelesaikan pekerjaan itu dengan sangat cepat.”

Pesawat tempur jatuh, satu kru selamat

Pejabat AS menyebut salah satu pesawat tempur ditembak jatuh di wilayah Iran. Dari pesawat itu, satu anggota kru berhasil dievakuasi, tetapi satu kru lainnya belum ditemukan dan dinyatakan hilang.

Gedung Putih maupun Pentagon belum merilis rincian publik soal jenis pesawat yang jatuh. Namun, Pentagon telah memberi tahu Komite Angkatan Bersenjata DPR AS bahwa status salah satu anggota layanan dari pesawat tempur itu belum diketahui.

Dalam percakapan singkat dengan NBC News, Trump menolak membahas operasi pencarian dan penyelamatan. Ia menegaskan insiden itu tidak akan memengaruhi negosiasi dengan Iran dan berkata singkat, “No, not at all. No, it’s war.”

Iran dan AS memberi versi yang berbeda

Media pemerintah Iran menyebut sebuah pesawat serang A-10 jatuh di Teluk Persia setelah terkena tembakan dari pasukan pertahanan Iran. Namun, seorang pejabat AS yang berbicara tanpa disebut namanya mengatakan belum jelas apakah pesawat itu jatuh karena kecelakaan, ditembak jatuh, atau apakah Iran benar-benar terlibat.

Pejabat tersebut juga mengatakan status kru dan lokasi jatuhnya pesawat tidak segera diketahui. Di sisi lain, media sosial yang dibagikan sebelumnya memperlihatkan drone, pesawat, dan helikopter AS terbang di atas wilayah pegunungan tempat sebuah saluran TV yang berafiliasi dengan televisi pemerintah Iran mengatakan bahwa setidaknya satu pilot telah melompat keluar dari jet tempur.

Permintaan warga untuk menyerahkan pilot

Salah satu pembawa acara televisi Iran bahkan meminta warga menyerahkan “pilot musuh” kepada polisi dan menjanjikan imbalan. Seruan seperti itu menunjukkan Iran untuk pertama kalinya secara terbuka mendorong publik membantu menemukan pilot yang jatuh di wilayahnya.

Sepanjang perang, Iran berulang kali mengklaim telah menembak jatuh pesawat musuh berawak, tetapi sejumlah klaim itu sebelumnya tidak terbukti. Karena itu, laporan pada Jumat dipandang sebagai momen yang jauh lebih serius dan bisa menambah tekanan terhadap militer AS.

Iran juga menyebut di platform X bahwa mereka telah menembak jatuh jet tempur F-15E Strike Eagle AS. Pesawat jenis ini merupakan varian tempur yang digunakan Angkatan Udara AS dan membawa seorang pilot serta perwira sistem senjata.

Berikut poin penting dari laporan terbaru:

  1. Iran menembak jatuh dua pesawat militer AS dalam serangan terpisah.
  2. Satu anggota kru berhasil diselamatkan.
  3. Sedikitnya satu anggota kru lainnya masih hilang.
  4. Pentagon belum mengungkap secara terbuka detail pesawat yang jatuh.
  5. Iran dan pejabat AS memberi keterangan yang belum sepenuhnya sejalan.

Serangan ke infrastruktur energi meluas

Kabar soal pesawat AS jatuh muncul setelah Iran menyerang kilang minyak Mina al-Ahmadi di Kuwait. Kuwait Petroleum Corp. menyebut petugas pemadam bekerja mengendalikan beberapa kebakaran di lokasi itu.

Kuwait juga mengatakan serangan Iran menyebabkan “kerusakan material” pada sebuah fasilitas desalinasi air. Fasilitas seperti ini sangat penting di negara-negara Teluk karena memasok sebagian besar air minum untuk penduduk.

Serangan Iran juga memicu sirene di Bahrain, sementara Arab Saudi mengatakan telah menghancurkan sejumlah drone Iran. Israel melaporkan adanya rudal yang mendekat, dan Uni Emirat Arab menutup sebuah ladang gas setelah intersepsi rudal memicu serpihan dan kebakaran.

Dampak perang terus meluas ke kawasan

Laporan dari aktivis menyebut adanya serangan di sekitar Teheran dan kota Isfahan, meski belum jelas target yang terkena. Di Lebanon, serangan drone Israel terhadap jemaah yang meninggalkan salat Jumat dekat Beirut menewaskan dua orang, menurut kantor berita milik negara.

Sejak perang dimulai, lebih dari 1.900 orang dilaporkan tewas di Iran. Kelompok pemantau konflik yang berbasis di AS, Armed Conflict Location and Event Data, menyebut korban sipil terkonsentrasi di sekitar serangan terhadap lokasi keamanan dan fasilitas yang terkait negara, bukan karena pengeboman acak di kawasan perkotaan.

Di kawasan Teluk dan Tepi Barat yang diduduki, lebih dari dua lusin orang dilaporkan tewas. Di Israel, 19 orang dilaporkan meninggal, sementara 13 anggota militer AS juga tewas.

Strait of Hormuz tetap jadi titik tekan utama

Di tengah perang yang terus melebar, Iran masih mempertahankan cengkeramannya atas Selat Hormuz. Jalur air ini sangat penting karena dilalui sekitar seperlima minyak dan gas alam dunia dalam kondisi damai.

Ketegangan di selat itu mengguncang pasar global, mendorong harga minyak naik tajam, dan mengancam biaya barang kebutuhan pokok termasuk pangan. Harga Brent crude tercatat berada di sekitar 109 dolar AS per barel, naik lebih dari 50 persen sejak perang dimulai ketika Iran mulai membatasi lalu lintas kapal di selat tersebut.

Trump sempat bersikap berubah-ubah soal peran AS di selat itu. Di satu sisi, ia mengancam Iran bila tidak membuka jalur tersebut. Di sisi lain, ia juga meminta negara lain untuk mengurus sendiri pasokan minyak mereka.

Pada Jumat, Trump menulis di media sosial bahwa dengan sedikit waktu tambahan, AS bisa “dengan mudah membuka Selat Hormuz, mengambil minyak, dan menghasilkan banyak uang.”

Ketegangan militer belum menunjukkan tanda mereda

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB dijadwalkan membahas situasi tersebut. Perkembangan terbaru menunjukkan perang Iran kini tidak hanya menyangkut serangan antarpasukan, tetapi juga menyentuh jalur energi global, keamanan negara-negara Teluk, dan nasib personel militer di lapangan.

Dengan satu kru masih hilang dan operasi pencarian terus berlangsung, perhatian utama kini tertuju pada apakah AS akan merespons insiden ini dengan langkah militer lanjutan atau menahan eskalasi sambil menunggu kejelasan dari medan pertempuran.

Exit mobile version