Visa Keluarga Soleimani Dicabut, Babak Baru Ketegangan Iran Dan Amerika

Pemerintah Amerika Serikat mencabut status tempat tinggal tetap keluarga almarhum jenderal Garda Revolusi Iran, Qasem Soleimani, setelah menilai salah satu kerabat dekatnya mendukung propaganda rezim Iran dan merayakan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Keponakan Soleimani, Hamideh Soleimani Afshar, bersama putrinya, kini berada dalam tahanan Immigration and Customs Enforcement (ICE).

Kementerian Luar Negeri AS menyebut pencabutan status itu dilakukan karena pemerintah melihat adanya risiko keamanan dan dukungan terhadap rezim yang dianggap anti-Amerika. Otoritas juga menegaskan bahwa green card adalah hak istimewa, bukan jaminan permanen jika pemegangnya dinilai mengancam kepentingan Amerika Serikat.

Apa yang terjadi pada keluarga Soleimani

Menurut pernyataan Departemen Luar Negeri AS, Hamideh Soleimani Afshar dan putrinya ditangkap pada malam hari setelah status penduduk tetap sah mereka dihentikan. CBS News melaporkan bahwa Soleimani Afshar ditahan di fasilitas ICE di Pearsall, Texas, sementara status penahanan putrinya belum sepenuhnya dipastikan.

Pemerintah AS menuduh Soleimani Afshar aktif menyebarkan propaganda pemerintah Iran, mengutuk Amerika Serikat sebagai “Great Satan,” dan tetap menikmati gaya hidup mewah di Los Angeles. Dalam pernyataan resmi, Departemen Luar Negeri juga menyebutnya sebagai pendukung vokal rezim yang digambarkan totaliter dan teroris.

Alasan pencabutan status tinggal

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS mengatakan pengajuan suaka pada 2019 yang diajukan Soleimani Afshar bersifat “fraudulent” atau palsu. Salah satu dasar yang dikutip adalah sedikitnya empat perjalanan kembali ke Iran setelah ia memperoleh green card di AS.

Pemerintah juga menyebut suaminya telah dilarang masuk ke Amerika Serikat. Saat ini, otoritas bergerak untuk mencabut kartu hijau mereka dan memproses deportasi sesuai jalur hukum yang berlaku.

Pernyataan resmi dari pemerintah AS

Seorang juru bicara DHS mengatakan bahwa memiliki green card adalah sebuah privilese. Dalam pernyataannya kepada CBS News, pejabat itu menegaskan bahwa green card dapat dicabut jika ada alasan untuk meyakini pemegangnya menjadi ancaman bagi Amerika Serikat.

Marco Rubio turut mengumumkan langkah serupa terhadap Fatemeh Ardeshir-Larijani, putri mantan pejabat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani, beserta suaminya, Seyed Kalantar Motamedi. Rubio menyampaikan melalui X bahwa pemerintahan Trump tidak akan membiarkan AS menjadi tempat tinggal bagi warga asing yang mendukung rezim teroris anti-Amerika.

Konteks politik dan keamanan yang lebih luas

Qasem Soleimani tewas dalam serangan drone AS di Irak pada awal 2020. Ia dikenal sebagai arsitek utama aktivitas militer regional Iran dan menjadi figur penting bagi pendukung garis keras di Teheran.

Nama Soleimani juga lama dikaitkan dengan konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat, terutama setelah peran pasukannya dalam mendukung kelompok bersenjata di kawasan. Citra dan pengaruhnya berkembang besar setelah invasi AS ke Irak, ketika Washington menudingnya membantu persenjataan yang menewaskan dan melukai tentara AS.

Poin penting dari kasus ini

  1. Hamideh Soleimani Afshar dan putrinya ditahan setelah status penduduk tetap sah mereka dicabut.
  2. Departemen Keamanan Dalam Negeri menilai klaim suaka Afshar pada 2019 palsu.
  3. AS menuduh Afshar mendukung propaganda Iran dan merayakan serangan terhadap pasukan AS.
  4. Pemerintah menyebut green card dapat dicabut jika pemegangnya dianggap membahayakan keamanan nasional.
  5. Marco Rubio juga mencabut status hukum beberapa warga Iran lain yang disebut terkait pejabat keamanan rezim Iran.

Langkah pencabutan status tinggal ini memperlihatkan bagaimana isu keamanan nasional, kebijakan imigrasi, dan ketegangan AS-Iran kembali bertemu dalam satu kasus yang kini menjadi sorotan publik di Amerika Serikat.

Exit mobile version