OPEC+ Naikkan Produksi Minyak, Sinyal Pemulihan Masih Rapuh Usai Serangan

OPEC dan sejumlah sekutunya yang tergabung dalam OPEC+ sepakat menaikkan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei. Langkah ini dinilai masih bersifat simbolis karena sebagian anggota utama belum mampu menambah pasokan akibat perang yang melibatkan Iran dan Israel serta gangguan di jalur pelayaran penting dunia, Selat Hormuz.

Keputusan tersebut diambil dalam pertemuan virtual yang diikuti delapan anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman. Dalam pernyataannya, kelompok itu menegaskan akan terus memantau kondisi pasar dan menjaga stabilitas pasokan global.

Kenaikan kuota di tengah gangguan pasokan

Kenaikan produksi 206.000 barel per hari ini sama seperti kesepakatan untuk April pada pertemuan sebelumnya. Namun, skala tambahan pasokan itu jauh lebih kecil dibanding gangguan yang terjadi akibat penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari.

Selat Hormuz menjadi jalur pengiriman minyak paling strategis di dunia karena menghubungkan produksi dari Teluk dengan pasar internasional. Menurut data yang dikutip dari Reuters, gangguan pasokan akibat perang telah memangkas ekspor dari sejumlah anggota OPEC+, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.

Peringatan OPEC+ soal pemulihan yang lambat

Dalam pernyataan resminya, delapan anggota OPEC+ juga menyampaikan kekhawatiran atas serangan terhadap infrastruktur energi. Mereka menilai pemulihan aset energi yang rusak membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang panjang, sehingga ketersediaan pasokan tetap tertekan dalam periode tertentu.

Peringatan itu penting karena kerusakan infrastruktur energi tidak hanya mengganggu produksi, tetapi juga memperlambat distribusi minyak ke pasar. Dalam situasi seperti ini, kenaikan kuota produksi tidak otomatis langsung mengembalikan pasokan ke level normal.

Dampak ke harga minyak dunia

Harga minyak mentah sudah melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun, mendekati $120 per barel. Kenaikan itu ikut mendorong biaya transportasi bahan bakar dan memicu kekhawatiran baru di pasar energi global.

JPMorgan bahkan memperkirakan harga minyak bisa menembus di atas $150 jika aliran minyak melalui Selat Hormuz tetap terganggu hingga pertengahan Mei. Skenario itu menunjukkan betapa besar pengaruh jalur sempit tersebut terhadap stabilitas energi dunia.

Peta singkat dampak dan respons pasar

  1. OPEC+ menaikkan kuota produksi 206.000 barel per hari untuk Mei.
  2. Gangguan di Selat Hormuz masih menahan ekspor dari produsen utama Teluk.
  3. Harga minyak mendekati $120 per barel di tengah kekhawatiran pasokan.
  4. JPMorgan memperingatkan potensi lonjakan ke atas $150 bila gangguan berlanjut.
  5. Iran disebut memberi pengecualian untuk Irak dalam transit melalui selat tersebut.

Diplomasi masih berjalan di tengah ketegangan

Di tengah penutupan selat, Iran disebut masih mengizinkan beberapa negara di kawasan menggunakan jalur itu. Data pelayaran pada hari Minggu menunjukkan sebuah tanker bermuatan minyak mentah Irak melintas melalui perairan tersebut.

Kementerian Luar Negeri Oman juga menyampaikan bahwa pembicaraan tingkat wakil menteri luar negeri sedang berlangsung dengan Iran untuk membahas opsi agar transit kapal di Selat Hormuz tetap lancar. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengancam akan meningkatkan serangan dan menarget infrastruktur sipil Iran, termasuk jembatan dan pembangkit listrik, jika selat itu tidak dibuka kembali.

Kondisi ini membuat pasar minyak bergerak dalam ketidakpastian tinggi, karena keputusan produksi OPEC+ harus dihadapkan pada risiko geopolitik yang masih aktif dan belum menunjukkan tanda mereda.

Berita Terkait

Back to top button