AS Dan Israel Memburu Akar Nuklir Iran, Pertaruhan Menentukan Di Tengah Bayang Bom

Amerika Serikat dan Israel disebut sedang mengarah pada strategi yang lebih luas daripada sekadar menghantam fasilitas nuklir Iran. Fokus mereka kini bukan hanya mesin sentrifugal atau situs bawah tanah, tetapi juga ilmuwan, akademisi, dan jaringan industri yang menopang pengetahuan nuklir Teheran.

Pendekatan itu muncul di tengah kekhawatiran bahwa Iran masih menyimpan ratusan kilogram uranium yang diperkaya tinggi dan tetap berada dekat dengan ambang kemampuan senjata nuklir. Sejumlah pakar menilai serangan militer hanya bisa menunda, bukan otomatis menghapus, kemampuan Iran jika rantai pengetahuan dan infrastrukturnya belum benar-benar diputus.

Target bergeser dari fasilitas ke manusia

Kematian Mohammad Reza Kia di kawasan pegunungan Asara menjadi salah satu contoh terbaru dari pola serangan yang menyasar sumber daya manusia Iran. Kandidat doktor Teknik Nuklir dari Universitas Amirkabir itu dimakamkan dengan suasana duka, sementara keluarga mengonfirmasi ia tewas dalam sebuah serangan.

Kasus Kia memperlihatkan bahwa perang bayangan atas program nuklir Iran kini bergerak ke level yang lebih personal. Jika dulu target utama adalah gedung laboratorium atau pusat pengayaan, sekarang para ahli menyebut ada upaya sistematis untuk melemahkan “ekosistem pengetahuan” yang membuat program itu bisa bertahan.

Seorang sumber keamanan Israel mengatakan kepada CNN bahwa setiap mata rantai produksi nuklir kini dianggap target. Ia menyebut sasaran itu mencakup basis pengetahuan, pekerja laboratorium, hingga fasilitas yang memproduksi komponen pendukung.

Strategi melumpuhkan ekosistem nuklir Iran

Menurut sumber tersebut, Israel tidak hanya ingin merusak satu fasilitas, tetapi memutus seluruh rantai yang memungkinkan program nuklir berjalan. Itu berarti serangan bisa menyasar universitas, pusat riset, pabrik komponen, hingga industri yang secara tidak langsung mendukung proses produksi.

Dalam beberapa bulan terakhir, pola serangan memang terlihat makin luas. Ali Fouladvand, ilmuwan riset yang bekerja di organisasi SPND, tewas bersama delapan orang lain dalam serangan udara terhadap sebuah gedung.

SPND selama ini dipandang Barat sebagai unit yang berkaitan dengan pengembangan senjata nuklir rahasia Iran. Organisasi itu dulu dipimpin Mohsen Fakhrizadeh, tokoh yang tewas dalam operasi yang dikaitkan dengan intelijen Israel beberapa tahun lalu.

Ketua SPND saat ini, Jabal Amelian, juga disebut tewas dalam serangan awal Februari. Rangkaian kematian ini menambah tekanan pada kepemimpinan riset Iran dan menyulitkan regenerasi tenaga ahli yang tidak mudah digantikan.

Daftar sasaran makin melebar

Pola serangan yang dikaitkan dengan Israel tidak berhenti pada ilmuwan nuklir. Sejak Juni 2025, taktik itu disebut ikut menyasar petinggi pasukan kedirgantaraan yang bertanggung jawab atas kemampuan rudal Iran.

  1. Ilmuwan dan akademisi nuklir.
  2. Petinggi riset dan organisasi SPND.
  3. Komandan atau pejabat yang terkait kemampuan rudal.
  4. Pabrik besi dan baja yang mendukung rekonstruksi produksi.
  5. Jalur pengadaan barang penggunaan ganda dari luar negeri.

Lebih dari selusin profesor ternama, termasuk fisikawan Mohammad Mehdi Tehranchi, juga dilaporkan masuk dalam kampanye degradasi pengetahuan tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa sasaran tidak lagi hanya infrastruktur keras, tetapi juga otak dan jejaring intelektual yang menjadi fondasi program jangka panjang.

Uranium 60 persen dan teka-teki stok 400 kilogram

Salah satu alasan Barat tetap waspada adalah status Iran sebagai negara ambang nuklir. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Iran adalah satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang memproduksi uranium diperkaya hingga 60 persen.

Rubio juga menyoroti penggunaan perusahaan depan dan agen pengadaan oleh Iran untuk menyamarkan pencarian barang-barang penggunaan ganda dari pemasok asing. Dalam pernyataannya, ia menekankan bahwa level pengayaan Iran sangat tidak wajar bagi negara yang tidak memiliki senjata nuklir.

Data lain yang memicu kekhawatiran adalah stok lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya tinggi. Material itu disebut berada di lokasi bawah tanah dan keberadaannya kini menjadi teka-teki bagi Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA.

Rafael Grossi menyebut material berbahaya itu kemungkinan besar berada di wilayah Isfahan dan bisa dipindahkan sewaktu-waktu. Kondisi ini membuat pengawasan internasional makin sulit, apalagi ketika situasi keamanan di lapangan terus berubah.

Trump klaim situs nuklir Iran dihancurkan

Donald Trump mengklaim serangan udara Amerika Serikat telah menghancurkan situs nuklir Iran hingga tidak bisa dipulihkan dalam waktu dekat. Ia mengatakan fasilitas yang dihantam telah rusak sangat berat dan butuh waktu berbulan-bulan untuk ‘mendekati debu nuklirnya’.

Trump juga menyebut dirinya tidak terlalu khawatir karena material tersebut terkubur sangat dalam di bawah tanah. Klaim itu memperlihatkan keyakinan bahwa serangan militer bisa memberi jeda besar bagi program nuklir Iran, meski belum tentu menghapus seluruh kapasitasnya.

Namun, para analis tetap berhati-hati membaca dampak jangka panjangnya. Mereka menilai kemampuan teknis Iran untuk membangun kembali program masih ada selama stok material, tenaga ahli, dan struktur pengadaan belum benar-benar lumpuh.

Iran membantah berniat membuat bom

Dari sisi Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak pernah berniat menciptakan senjata atom. Ia menyebut tawaran pengenceran stok uranium sebelum konflik sebagai bukti bahwa Iran bersedia memberi konsesi besar.

“Itu adalah tawaran besar, konsesi besar untuk membuktikan bahwa Iran tidak pernah menginginkan senjata nuklir dan tidak akan pernah menginginkannya,” kata Araghchi kepada CBS. Pernyataan ini menjadi bagian dari pembelaan Iran bahwa program nuklir mereka bersifat damai.

Meski begitu, Barat tetap menilai posisi ambang nuklir memberi Iran daya tawar strategis. Selama kemampuan teknis itu masih ada, ancaman politisnya tidak hilang sepenuhnya meski situs utama dihantam.

Pakar: perang bisa menunda, bukan menghapus

Nicole Grajewski, pakar nuklir yang dikutip dalam laporan itu, menilai Iran masih memiliki kemampuan teknis untuk membuat bom jenis gun-type yang sederhana. Menurut dia, stok dan infrastruktur yang tersedia sudah cukup jika ada kemauan politik untuk mempersenjatai diri.

Ia juga memperingatkan bahwa perang yang sedang berlangsung hanya bisa menunda ambisi nuklir Iran. Jika konflik berhenti tanpa solusi permanen, Iran secara teoritis masih bisa memulai upaya persenjataan cepat dalam satu sampai dua tahun.

Pernyataan ini penting karena menunjukkan batas dari strategi penghancuran fisik. Serangan udara mungkin merusak fasilitas, tetapi tanpa pembongkaran total atas pengetahuan, jaringan suplai, dan pengawasan internasional, program serupa bisa bangkit lagi dalam format berbeda.

Mengapa Israel menekan sektor sipil tertentu

Israel juga disebut menyerang sektor non-militer seperti pabrik besi dan baja. Bagi pihak keamanan Israel, sektor ini tetap relevan karena dapat membantu proses rekonstruksi dan mendukung rantai produksi jangka panjang.

Strategi itu memperlihatkan logika perang yang lebih luas, yakni memutus semua sumber daya yang bisa dipakai untuk membangun kembali program nuklir. Dengan cara ini, tekanan tidak hanya diarahkan pada aktor militer, tetapi juga pada ekosistem ekonomi dan riset yang memungkinkan program berjalan kembali.

Di sisi lain, Barat tetap mencermati penggunaan perusahaan bayangan oleh Iran. Jalur pengadaan semacam itu dinilai menjadi salah satu cara paling efektif bagi Teheran untuk memperoleh teknologi penggunaan ganda yang sulit dilacak.

Pada akhirnya, pertarungan AS dan Israel melawan program nuklir Iran kini bergerak ke fase yang lebih kompleks dan lebih senyap, karena sasaran utamanya bukan sekadar bangunan, melainkan manusia, pengetahuan, dan jaringan yang menjaga kemampuan nuklir itu tetap hidup.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button