Rencana Damai Zarif Memecah Keheningan, Teluk Menyorot Pudarnya Kepercayaan

Mantan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengusulkan peta jalan untuk mengakhiri perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di tengah eskalasi yang terus meluas di Timur Tengah. Proposal itu dimuat dalam Foreign Affairs dan disebut melampaui gagasan gencatan senjata sementara.

Zarif menilai konflik yang meletus setelah serangan AS-Israel ke Iran telah menyeret kawasan ke dalam risiko yang lebih besar, termasuk gangguan ekonomi global dan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Di sisi lain, sejumlah tokoh Teluk justru menilai pendekatan itu mengabaikan satu masalah utama, yakni memudarnya kepercayaan akibat serangan Iran terhadap negara-negara tetangga.

Isi peta jalan Zarif

Zarif menawarkan langkah yang saling terkait, mulai dari pembatasan program nuklir Iran hingga penghentian sanksi internasional. Ia juga mengusulkan agar Iran membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas dengan Amerika Serikat dan pihak lain.

Dalam usulan itu, Iran diminta menerima pengawasan internasional atas program nuklirnya. Zarif menulis bahwa Iran harus berkomitmen tidak pernah mengejar senjata nuklir dan mencampurkan seluruh stok uranium yang diperkaya agar kadar pengayaannya turun di bawah 3,67 persen.

Menurut perkiraan International Atomic Energy Agency, Iran diyakini memiliki sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, level yang dinilai bisa diproses lebih cepat menuju ambang 90 persen untuk bahan senjata nuklir. Zarif juga menyebut tuntutan Presiden AS Donald Trump agar Iran menghentikan seluruh pengayaan sebagai sesuatu yang “fanciful” atau khayalan.

Langkah yang diusulkan Zarif

  1. Membatasi program nuklir Iran di bawah pemantauan internasional.
  2. Membuka kembali Selat Hormuz dengan imbalan pencabutan seluruh sanksi.
  3. Menolak pengembangan senjata nuklir dan menurunkan kadar uranium yang diperkaya.
  4. Menyetujui pakta non-agresi timbal balik dengan Amerika Serikat.
  5. Mendorong pencabutan sanksi AS serta resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran.

Zarif menilai perang yang berkepanjangan hanya akan memperbanyak korban sipil dan kerusakan infrastruktur. Ia menulis bahwa melanjutkan perang mungkin terasa “psychologically satisfying” bagi Tehran, tetapi tidak akan membawa keuntungan strategis jangka panjang.

Peran kawasan dan kekuatan besar

Dalam proposalnya, Zarif juga membuka ruang bagi aktor regional dan global. Ia menyebut China, Rusia, dan Amerika Serikat dapat membantu membentuk konsorsium pengayaan bahan bakar regional bersama Iran dan negara-negara Teluk di satu fasilitas pengayaan yang disebut tersisa di Asia Barat.

Ia juga mengusulkan kerangka keamanan regional yang melibatkan negara-negara Teluk, anggota tetap Dewan Keamanan PBB, serta kemungkinan Mesir, Pakistan, dan Turkiye. Kerangka itu ditujukan untuk menjamin non-agresi, kerja sama, dan kebebasan navigasi, termasuk keamanan lintasan di Selat Hormuz.

Selat Hormuz punya arti sangat besar bagi pasar energi dunia. Jalur sempit itu biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam global, sehingga gangguan di sana langsung menekan harga, pengiriman, dan stabilitas energi internasional.

Respons dari Teluk

Pernyataan Zarif tidak diterima begitu saja oleh pejabat dari negara-negara Teluk. Mereka menilai proposal itu belum menyinggung pokok masalah yang mereka anggap paling penting, yaitu serangan Iran terhadap tetangganya sendiri.

Anwar Gargash, penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab, menulis di X bahwa artikel Zarif mengabaikan “salah satu kelemahan inti” strategi Iran, yakni agresi terhadap negara-negara Arab Teluk. Ia menegaskan bahwa ribuan rudal dan drone yang diarahkan ke infrastruktur, warga sipil, bahkan mediator, bukan bentuk kekuatan, melainkan kegagalan strategis.

Respon berbeda datang dari mantan Perdana Menteri Qatar, Hamad bin Jassim Al Thani. Ia mengatakan banyak bagian proposal itu layak dipertimbangkan dan menyebut pendekatannya cerdik, tetapi tetap mengkritik perang yang dinilai membuat kawasan menjadi lebih rumit dan berbahaya.

Dalam unggahan di X, Hamad bin Jassim menulis bahwa perang telah menggerus kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Ia juga menyebut bahwa Iran tampak kehilangan sebagian “teman penting” di kawasan akibat serangan-serangan yang menargetkan Teluk.

Krisis kepercayaan di kawasan

Reaksi dari Teluk menunjukkan bahwa persoalan utama bukan hanya soal nuklir dan sanksi, tetapi juga runtuhnya kepercayaan antarpihak. Para pemimpin dan mantan pejabat kawasan tampaknya melihat setiap skema damai harus diawali dengan penghentian serangan dan jaminan keamanan yang lebih konkret.

Sementara itu, upaya diplomatik masih berjalan lambat. Amerika Serikat disebut telah menyampaikan rencana gencatan senjata 15 poin kepada Iran, sementara Pakistan, Turkiye, dan Mesir berusaha mendorong pembicaraan langsung. Namun, sejauh ini belum tampak kemajuan berarti di jalur diplomasi.

Situasi ini membuat usulan Zarif berada di persimpangan antara peluang dan skeptisisme. Di satu sisi, ia menawarkan jalan keluar yang menggabungkan isu nuklir, sanksi, perdagangan, dan keamanan kawasan. Di sisi lain, negara-negara Teluk menuntut akuntabilitas yang lebih jelas atas serangan Iran sebelum membahas rekonsiliasi yang lebih luas.

Exit mobile version