Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras kepada Iran setelah menilai Teheran tidak menjalankan kesepakatan gencatan senjata yang baru disepakati bersama AS dan Israel. Trump mengatakan Iran gagal menepati komitmen untuk kembali membuka Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sangat penting bagi distribusi minyak dunia.
Pernyataan itu muncul ketika gencatan senjata selama dua pekan antara AS, Israel, dan Iran mulai terlihat rapuh. Di lapangan, arus kapal di Selat Hormuz masih sangat terbatas, sehingga memunculkan keraguan atas kepatuhan Iran terhadap isi kesepakatan.
Trump Sorot Selat Hormuz
Selat Hormuz menjadi titik strategis karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasinya setiap hari. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab itu menjadi rute utama tanker minyak dan kapal kargo yang menopang perdagangan energi global.
Dalam 24 jam pertama setelah gencatan senjata diumumkan, hanya satu kapal tanker produk minyak dan lima kapal pengangkut barang curah kering yang tercatat melintas. Data itu memperkuat pandangan Trump bahwa situasi belum mencerminkan normalisasi seperti yang dijanjikan.
Trump menyampaikan kritiknya melalui platform Truth Social dan menilai Iran bertindak buruk dalam menjalankan kesepakatan. Ia juga menegaskan bahwa kondisi di lapangan tidak sesuai dengan hasil perundingan yang telah dicapai sebelumnya.
Menurut Trump, jika Iran benar-benar ingin menunjukkan itikad baik, maka jalur itu harus dibuka sepenuhnya untuk lalu lintas komersial. Ia bahkan mengaku menerima laporan bahwa Iran diduga mengenakan biaya tol bagi kapal tanker yang ingin lewat, sesuatu yang ia anggap bertentangan dengan semangat gencatan senjata.
- Selat Hormuz adalah jalur vital bagi ekspor minyak global.
- Hanya sedikit kapal yang melintas setelah gencatan senjata diumumkan.
- Trump menuduh Iran tidak memenuhi komitmen yang disepakati.
- Trump mendesak agar hambatan pelayaran segera dihentikan.
Iran Kirim Sinyal Politik Baru
Di sisi lain, pemimpin tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menyampaikan bahwa negaranya akan memasuki fase baru. Pernyataan itu disiarkan lewat televisi pemerintah Iran, meski ia tidak memaparkan secara rinci kebijakan yang dimaksud, termasuk soal Selat Hormuz.
Dalam pernyataan yang dibacakan presenter televisi pemerintah, Khamenei juga mengklaim Iran keluar sebagai pemenang dalam perang yang telah berlangsung selama lima pekan terakhir. Ia menegaskan Iran tidak akan tinggal diam terhadap pihak yang menyerang negaranya dan bersumpah akan menghukum para pelaku.
Nada pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meski gencatan senjata sudah diumumkan, retorika politik dari pihak-pihak yang terlibat masih tetap keras. Situasi ini membuat peluang stabilitas jangka pendek di kawasan masih sangat rentan.
Ketegangan Merembet ke Lebanon
Selain isu Selat Hormuz, konflik di Lebanon juga ikut menguji daya tahan gencatan senjata. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menegaskan bahwa gencatan senjata dengan Iran tidak otomatis berlaku untuk Lebanon, lalu Israel melanjutkan serangan udara ke wilayah itu.
Sedikitnya 300 orang dilaporkan tewas di Lebanon dalam serangan terbaru Israel pada Kamis, 9 April 2026. Kondisi itu memicu kekhawatiran bahwa konflik di Lebanon dapat merusak kesepakatan yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Namun Netanyahu kemudian menyatakan Israel siap membuka jalur negosiasi langsung dengan Lebanon. Ia mengatakan kabinetnya telah diperintahkan untuk memulai pembicaraan secepat mungkin, dengan fokus pada dua isu utama, yakni pelucutan senjata Hizbullah dan pembangunan hubungan damai.
Pemerintah Lebanon sejauh ini belum memberikan tanggapan resmi atas rencana tersebut. Situasi itu membuat arah perundingan masih belum jelas, apalagi jika kekerasan di lapangan terus berlanjut.
Trump Minta Israel Menahan Diri
Trump juga mengaku telah berbicara langsung dengan Netanyahu mengenai eskalasi di Lebanon. Dalam wawancara dengan NBC News, ia mengatakan telah meminta Israel menurunkan intensitas serangan agar situasi regional tidak makin memburuk.
“Saya berbicara dengan dia dan dia akan mengurangi intensitasnya. Saya hanya berpikir kita harus sedikit lebih tenang,” kata Trump kepada NBC News.
Pernyataan itu menunjukkan Washington masih berupaya menjaga agar eskalasi militer tidak meluas ke medan baru. Di saat yang sama, tekanan terhadap Israel dan Iran tetap tinggi karena setiap peningkatan serangan bisa memukul stabilitas kawasan dan pasar energi global.
Perundingan AS-Iran Ikut Terganggu
Rencana perundingan antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Jumat, 10 April 2026, juga dilaporkan terancam tertunda. Laporan menyebut delegasi Iran belum berangkat dari Teheran karena situasi keamanan dinilai belum memungkinkan.
Peneliti senior Center for Middle East Strategic Studies, Abas Aslani, mengatakan keputusan itu diambil karena serangan Israel ke Lebanon masih berlangsung. Ia menilai eskalasi tersebut membuat ruang diplomasi menjadi semakin sempit.
“Delegasi Iran belum meninggalkan Teheran karena pihak Iran menilai selama serangan Israel ke Lebanon masih berlangsung, perundingan di Islamabad tidak dapat dilakukan,” ujar Aslani dikutip dari Al Jazeera.
Menurut Aslani, kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana konflik di satu titik kawasan langsung memengaruhi agenda diplomasi di titik lain. Dengan kata lain, gencatan senjata yang diumumkan belum berhasil menutup sumber ketegangan utama di Timur Tengah.
Situasi ini membuat masa depan kesepakatan antara AS, Iran, dan Israel masih penuh tanda tanya. Selama akses Selat Hormuz belum benar-benar normal dan konflik Lebanon terus memanas, kesepakatan gencatan senjata akan tetap berada dalam posisi rapuh.
Baca selengkapnya di: www.beritasatu.com






