Ekuador menarik pulang duta besarnya dari Kolombia di tengah memanasnya hubungan diplomatik setelah komentar Presiden Kolombia Gustavo Petro soal kasus Jorge Glas. Langkah itu memperlihatkan bahwa perkara mantan wakil presiden Ekuador tersebut kini bukan hanya persoalan hukum domestik, tetapi juga sumber gesekan regional.
Kementerian Luar Negeri Ekuador mengonfirmasi bahwa Duta Besar Arturo Felix Wong dipanggil kembali ke Quito setelah kritik dari Petro dinilai tidak pantas. Pemerintah Presiden Daniel Noboa menyebut komentar yang membela Glas sebagai provokasi dan bentuk campur tangan asing.
Pemicu ketegangan baru
Menurut Menteri Luar Negeri Gabriela Sommerfeld, komentar yang muncul dari Bogota tidak memiliki dasar yang tepat dan datang tanpa alasan yang jelas. Ia menegaskan bahwa Ekuador memandang pernyataan semacam itu sebagai tindakan yang merusak prinsip non-intervensi.
Sommerfeld juga selaras dengan sikap Noboa yang selama beberapa bulan terakhir sering bersitegang dengan pemerintah Kolombia. Dalam pernyataan di media sosial, Noboa menyebut bahwa Ekuador telah menunggu lama agar “koruptor” menghadapi keadilan.
Kasus Jorge Glas yang kembali jadi pusat perhatian
Jorge Glas adalah mantan wakil presiden Ekuador dari kubu kiri yang saat ini menjalani hukuman penjara panjang akibat kasus korupsi. Ia menjadi figur penting dalam skandal Odebrecht, ketika pejabat di sejumlah negara Amerika Latin dituduh menerima suap sebagai imbalan atas proyek pemerintah.
Glas sempat berlindung di Kedutaan Besar Meksiko di Quito sejak Desember 2023 dengan alasan menghadapi penganiayaan politik. Namun, situasi berubah drastis ketika aparat Ekuador menyerbu gedung diplomatik itu untuk menangkapnya, yang kemudian memicu kecaman luas di kawasan.
Poin penting dalam polemik Glas
- Glas dihukum dalam beberapa perkara korupsi berbeda.
- Ia mendapat tambahan hukuman 13 tahun penjara atas penyalahgunaan dana publik.
- Sebelumnya, ia juga menerima vonis enam tahun dan delapan tahun penjara.
- Pengadilan juga melarangnya memegang jabatan publik seumur hidup.
- Kolombia kemudian memberikan kewarganegaraan kepada Glas dan meminta pemindahan dirinya ke tahanan Kolombia.
Petro menyebut Glas sebagai tahanan politik dan meminta organisasi HAM internasional ikut mengawasi keselamatannya. Ia juga menyinggung kondisi kesehatan Glas di penjara keamanan maksimum El Encuentro, termasuk dugaan kekurangan gizi dan penurunan massa otot.
Hubungan Ekuador-Kolombia makin renggang
Pernyataan Petro hadir di tengah hubungan bilateral yang memang sudah memburuk. Sejak beberapa waktu terakhir, Noboa dan Petro saling melontarkan kritik, termasuk soal keamanan perbatasan dan perang melawan narkotika.
Dalam perkembangan sebelumnya, Ekuador menjatuhkan tarif 50 persen terhadap Kolombia sejak Maret dengan alasan negara tetangga itu dinilai terlalu longgar menghadapi perdagangan narkoba. Petro membalas dengan tuduhan terkait operasi pengeboman di dekat perbatasan yang disebutnya menewaskan 27 jasad hangus.
Dampak politik dan diplomatik yang mungkin muncul
Dalam situasi seperti ini, penarikan duta besar biasanya menjadi sinyal keras tanpa memutus hubungan sepenuhnya. Namun, langkah tersebut tetap menandakan bahwa jalur dialog dua negara sedang berada dalam fase yang sangat sensitif.
- Hubungan diplomatik bisa makin sulit dipulihkan bila kedua pihak tetap bertukar tudingan.
- Isu Jorge Glas berpotensi terus dipakai sebagai simbol perseteruan politik lintas negara.
- Respons publik di Ekuador dan Kolombia dapat memengaruhi langkah lanjutan pemerintah masing-masing.
- Sengketa ini juga bersinggungan dengan isu hukum internasional, suaka diplomatik, dan pelanggaran kedaulatan.
Kasus ini ikut terkait dengan serbuan ke Kedutaan Besar Meksiko di Quito pada 5 April, yang sampai sekarang masih meninggalkan dampak besar. Meksiko memutus hubungan diplomatik dengan Ekuador setelah insiden tersebut, sementara kritik internasional menilai tindakan itu melanggar aturan yang melindungi fasilitas diplomatik berdasarkan Konvensi Wina 1961.
Di sisi lain, Noboa mempertahankan sikap kerasnya terhadap para pengkritik Glas dan menilai retorika semacam itu sebagai ancaman terhadap kedaulatan Ekuador. Ketegangan yang berulang antara Quito dan Bogota menunjukkan bahwa kasus hukum seorang mantan pejabat kini telah berubah menjadi isu politik luar negeri yang jauh lebih luas.
