Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah perundingan di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan. Ketua Parlemen Iran Mohammad-Baqer Qalibaf menilai Washington gagal membangun kepercayaan Teheran, meski pembicaraan itu sudah berlangsung lebih dari 20 jam di Islamabad.
Pernyataan Qalibaf ini menjadi kunci untuk memahami mengapa Iran tampak “ogah” sepakat dengan AS. Bagi Teheran, persoalannya bukan sekadar isi proposal, tetapi juga rekam jejak Washington dan Israel yang membuat Iran meragukan niat baik pihak lawan.
Krisis Kepercayaan Jadi Penghalang Utama
Qalibaf mengatakan Iran datang ke meja perundingan dengan itikad baik dan kemauan yang kuat. Namun, ia menegaskan bahwa Teheran tidak punya alasan untuk percaya begitu saja kepada pihak lawan setelah pengalaman dua perang yang disebut dipaksakan oleh AS dan Israel.
Ia menyampaikan bahwa delegasi Iran sudah membawa berbagai inisiatif yang berorientasi ke depan. Meski begitu, menurutnya, pihak lawan tetap gagal meraih kepercayaan Iran dalam putaran negosiasi tersebut.
Dalam unggahan di X pada Minggu waktu setempat, Qalibaf menulis bahwa Amerika Serikat sudah memahami logika dan prinsip Iran. Kini, ia mengatakan, Washington harus membuktikan apakah benar bisa memperoleh kepercayaan Teheran atau tidak.
Mengapa Iran Masih Menahan Diri
Sikap keras Iran tidak berarti negara itu menutup pintu diplomasi. Qalibaf justru menegaskan bahwa Teheran menjalankan diplomasi yang kuat seiring dengan kekuatan militernya untuk mempertahankan hak-hak rakyat Iran.
Pola ini menunjukkan bahwa Iran ingin menegosiasikan posisi yang dianggap setara, bukan berada di bawah tekanan. Dalam pandangan Teheran, perundingan hanya akan bermakna jika Amerika Serikat memperlihatkan komitmen yang bisa diverifikasi, bukan sekadar janji politik.
Berikut faktor yang membuat Iran sulit sepakat dengan AS:
- Pengalaman konflik sebelumnya yang membuat Iran waspada terhadap janji Washington.
- Anggapan bahwa AS dan Israel kerap memakai tekanan militer dan politik.
- Kekhawatiran Iran bahwa kesepakatan bisa berubah sepihak.
- Sikap Teheran yang ingin menjaga kedaulatan dan hak strategisnya.
- Keyakinan bahwa posisi tawar Iran harus tetap kuat di meja perundingan.
Peran Pakistan dalam Membuka Jalur Dialog
Qalibaf juga mengapresiasi Pakistan yang disebutnya bertindak sebagai negara sahabat dan saudara dalam memfasilitasi perundingan. Islamabad menjadi tuan rumah proses yang mempertemukan delegasi Iran dan Amerika Serikat, meski langkah itu belum menghasilkan kesepakatan.
Peran Pakistan penting karena kawasan Asia Selatan sering dipilih sebagai lokasi netral untuk dialog sensitif. Namun, netralitas tempat tidak otomatis mengatasi masalah utama, yaitu rendahnya tingkat saling percaya antara Teheran dan Washington.
Latar Belakang Eskalasi dan Proposal Gencatan Senjata
Menurut laporan yang dikutip dari presstv.ir, setelah 40 hari agresi tanpa henti dari AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari, Amerika Serikat akhirnya menerima proposal 10 poin dari Iran pada Rabu sebagai dasar menuju gencatan senjata permanen.
Iran mengklaim serangan balasan selama periode itu berjalan efektif dan terarah. Angkatan bersenjata Iran disebut melancarkan 100 gelombang serangan balasan yang menyasar titik-titik sensitif dan strategis milik AS dan Israel di kawasan.
Iran juga memblokade Selat Hormuz bagi kapal tanker minyak dan gas yang terkait dengan pihak lawan serta pihak-pihak yang bekerja sama dengan mereka. Langkah itu memperlihatkan bahwa Teheran tidak hanya mengandalkan diplomasi, tetapi juga instrumen tekanan strategis di jalur energi dunia.
Selat Hormuz Jadi Instrumen Tawar Strategis
Selat Hormuz memiliki arti besar bagi perdagangan minyak dan gas global. Jalur ini menjadi salah satu titik paling vital di dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut bisa langsung memicu kekhawatiran pasar dan negara-negara pengimpor energi.
Karena itu, langkah Iran mempertahankan atau membatasi akses di selat tersebut bukan sekadar respons militer. Tindakan itu juga menjadi sinyal politik bahwa Teheran memiliki alat tawar yang bisa menekan lawan dalam setiap pembicaraan.
Dukungan Dalam Negeri Menguatkan Posisi Teheran
Qalibaf turut menyampaikan terima kasih kepada rakyat Iran yang ia sebut heroik karena menggelar aksi besar-besaran di jalanan. Ia menilai dukungan publik itu memperkuat tim perunding dan sejalan dengan arahan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Mojtaba Khamenei.
Dukungan internal seperti ini penting dalam politik luar negeri Iran. Pemerintah Teheran biasanya ingin menunjukkan bahwa keputusan diplomatiknya tidak lahir dari tekanan eksternal, melainkan dari konsensus nasional dan perlindungan terhadap kepentingan negara.
Apa yang Sedang Dipertaruhkan
Perundingan yang gagal di Pakistan kembali mempertegas bahwa konflik Iran-AS tidak berada di titik sederhana. Washington mungkin ingin hasil cepat untuk meredakan ketegangan regional, tetapi Teheran tampak menuntut jaminan yang lebih konkret sebelum menerima kesepakatan apa pun.
Di sisi lain, Iran juga ingin memastikan bahwa tekanan militer, sanksi, dan ancaman blokade tidak berubah menjadi alat negosiasi sepihak. Selama rasa saling percaya belum terbentuk, setiap proposal damai berisiko mentok di tahap awal, meski pembicaraan formal terus dibuka.







