Pembuat Mainan Seks China Menyambut AI, Di Balik Euforia Terselip Risiko Hukum

Author: Qoo Media

Di sebuah pameran mainan dewasa di Shanghai, berbagai produk berbasis kecerdasan buatan menarik perhatian pengunjung lewat fitur yang makin canggih. Mulai dari chatbot erotis, perangkat yang merespons suara, hingga produk yang menyinkronkan video dengan getaran, para produsen adult toy di China terlihat mulai ikut masuk ke gelombang AI global.

China memang dikenal sebagai produsen mainan seks terbesar di dunia. Di saat pelaku usaha di sektor lain sudah lebih dulu memakai AI, sejumlah perusahaan mainan dewasa kini mencoba memanfaatkan teknologi yang sama, meski langkah itu dibarengi kehati-hatian karena risiko hukum dan privasi masih besar.

Fitur AI yang makin agresif dipamerkan

Di area pameran, sebuah perusahaan berbasis Guangzhou memajang aplikasi “AI character dating” bernama Luvmazer. Aplikasi itu mengubah percakapan dengan pasangan virtual menjadi denyut pada vibrator, sementara slogan promosi yang terpampang menyebut, “One sentence can make you shiver.”

Ada juga boneka silikon bergaya cyberpunk berukuran asli di stan Cydoll. Manajer pabrik Zhou Yuanqing menyebut prototipe itu dirancang untuk menampilkan emosi dan ucapan yang terasa “natural.”

Zhou juga menyoroti perubahan perilaku sosial yang menurutnya mendorong kebutuhan akan teman bicara digital. “People nowadays don’t go out to drink or meet their friends, and they might prefer to play games on their phones or computers on their own… but they still need companionship,” ujarnya kepada AFP.

Video, suara, dan sensor jadi nilai jual baru

Sejumlah perusahaan lain memamerkan aplikasi yang memakai machine learning untuk membaca video dewasa lalu menerjemahkannya menjadi perubahan tekanan, kecepatan, dan pola denyut pada perangkat. Fitur sinkronisasi video seperti ini disebut sudah makin umum, padahal beberapa tahun lalu masih tergolong baru.

Seorang karyawan di perusahaan teledildonics Amorlink mengatakan, “Everyone has the video syncing feature now.” Di stan itu, perusahaan menampilkan vacuum cups dengan chip komputasi bertenaga besar.

Jissbon, merek kondom domestik, juga ikut membawa perangkat dua-dalam-satu berupa suction vibrator. Produk itu menawarkan kendali jarak jauh, deretan persona virtual “boyfriend,” dan kemampuan menyesuaikan frekuensi serta intensitas dengan tingkat kebisingan di sekitar.

AI untuk penjualan, toko fisik, dan produk pintar

Bukan hanya perangkat konsumen, AI juga ditawarkan untuk kebutuhan bisnis. Beberapa peserta pameran mempromosikan agen AI untuk pemasaran dan operasional toko dewasa offline, sementara lainnya menawarkan solusi teknologi bagi merek yang ingin mengembangkan mainan “pintar” sendiri.

Di luar stan pameran, poster milik metaXsire yang berbasis Hong Kong menampilkan kemampuan membuat gambar dan video dewasa berbasis AI, serta fitur dirty talk dalam lebih dari 80 bahasa. Situs perusahaan itu juga menyebut aplikasinya bisa menukar wajah selebritas atau kenalan pribadi ke video pornografi yang kemudian disinkronkan ke mainannya.

Namun, dokumen syarat penggunaan aplikasi itu hanya melarang penyalahgunaan untuk mempermalukan atau melecehkan orang lain. Tidak ada penjelasan rinci tentang cara perusahaan memastikan persetujuan pada fitur face swap tersebut.

Kekhawatiran hukum dan privasi tetap besar

Meski antusiasme terhadap AI terlihat jelas, banyak peserta pameran menyatakan sikap hati-hati saat teknologi itu digabungkan dengan konten video dewasa. Mereka menyoroti risiko hukum dan perlindungan data pribadi, terutama karena batas regulasi di sektor ini masih sensitif.

Di daratan China, pornografi secara teknis ilegal. Sebagian besar situs video dewasa diblokir oleh Great Firewall dan hanya bisa diakses dengan perangkat VPN khusus.

Sam Xie, pendiri produsen mainan dewasa Magic Motion di Shanghai, mengatakan produknya kompatibel dengan agen AI. Namun, ia menegaskan bahwa perusahaan harus selektif memilih pengembang perangkat lunak untuk diajak bekerja sama.

“We have to be very careful, or there could be all sorts of problems, and we could get reported by consumers,” kata Xie kepada AFP.

Sikap hati-hati itu menunjukkan bahwa industri mainan dewasa di China ingin memanfaatkan peluang AI tanpa melangkah terlalu jauh ke wilayah yang bisa memicu masalah hukum, keluhan konsumen, atau persoalan persetujuan yang belum terjawab dengan jelas.

Terbaru