Perkembangan terbaru perang di Timur Tengah kembali bergerak di jalur diplomasi dan tekanan militer. Di satu sisi, Amerika Serikat disebut akan membuka putaran baru perundingan damai, sementara di sisi lain Israel dan Iran sama-sama masih mengandalkan strategi tekanan untuk menjaga posisi mereka.
Media pemerintah Iran mengatakan belum ada delegasi Iran yang berangkat ke Islamabad untuk pembicaraan dengan Amerika Serikat. Seorang sumber yang mengetahui rencana Washington kepada AFP menyebut delegasi AS akan menuju Pakistan “segera” untuk putaran baru negosiasi damai.
Diplomasi masih tertahan
Kabar tentang pertemuan itu memunculkan harapan baru di tengah perang yang belum mereda. Namun, pernyataan televisi negara Iran menunjukkan bahwa kesiapan di pihak Teheran belum terlihat di lapangan.
Situasi ini menegaskan bahwa jalur dialog masih rapuh dan mudah terganggu oleh perbedaan sikap kedua pihak. Dalam kondisi seperti ini, setiap sinyal kehadiran delegasi menjadi penting karena bisa menentukan apakah pembicaraan benar-benar dimulai atau kembali tertunda.
Israel menekan Hezbollah di Lebanon
Di Front Lebanon, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyebut kampanye negaranya bertumpu pada kombinasi kekuatan militer dan diplomasi. Ia mengatakan tujuan utamanya adalah melucuti Hezbollah dan menghapus ancaman terhadap komunitas di utara Israel.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Israel tidak hanya mengandalkan operasi di lapangan, tetapi juga menekan melalui jalur politik. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konflik di kawasan ini masih berjalan di dua level sekaligus, yaitu militer dan diplomatik.
Iran menjalankan hukuman mati
Di tengah ketegangan itu, Iran juga mengumumkan eksekusi seorang pria yang divonis membantu membakar sebuah masjid besar di Teheran dan bekerja sama dengan Israel serta Amerika Serikat selama protes pra-perang. Badan kehakiman Iran melalui Mizan Online menyebut Amir Ali Mirjafari sebagai bagian dari “elemen bersenjata yang bekerja sama dengan musuh”.
Pemerintah Iran menggambarkan kasus itu sebagai bagian dari ancaman keamanan internal. Langkah tersebut menambah gambaran bahwa otoritas Teheran tetap keras terhadap tuduhan kerja sama dengan pihak luar di tengah situasi perang yang sensitif.
Harga minyak turun, bursa naik
Pasar keuangan ikut merespons dengan hati-hati. Harga minyak turun sementara saham naik karena masih ada harapan bahwa perang bisa berakhir dan Selat Hormuz kembali dibuka.
Brent North Sea Crude tercatat turun 0,7 persen menjadi 94,78 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate melemah 1,4 persen ke 88,35 dolar AS per barel sekitar pukul 0715 GMT. Pergerakan ini menunjukkan pasar masih membaca peluang mereda-nya ketegangan, meski risiko gangguan pasokan tetap membayangi.
Lalu lintas laut mulai bergerak
Lloyd’s List melaporkan lebih dari 20 kapal Iran yang disebut sebagai “shadow vessels” sudah melintas melewati blokade AS. Dalam kondisi normal, jalur itu biasanya dilalui sekitar 120 kapal per hari, menurut situs tersebut.
Data itu menggambarkan bahwa lalu lintas maritim belum sepenuhnya pulih ke pola semula. Meski ada kapal yang berhasil lewat, volume pergerakan masih jauh di bawah kondisi damai dan menandakan ketidakpastian masih kuat.
Trump menekan soal pelabuhan dan uranium
Presiden AS Donald Trump mengatakan Amerika Serikat tidak akan mencabut blokade pelabuhan Iran sampai Teheran menyetujui perjanjian damai untuk mengakhiri perang. Ia juga menegaskan Iran kehilangan “$500 Million Dollars a day” akibat blokade itu.
Trump sebelumnya menyebut perolehan uranium dari Iran akan “long” dan “difficult” setelah serangan AS terhadap situs nuklir Teheran. Ia menulis di Truth Social bahwa “Operation Midnight Hammer was a complete and total obliteration of the Nuclear Dust sites in Iran,” lalu menambahkan bahwa menggali kembali material itu akan memakan waktu lama.
Pembicaraan Israel dan Lebanon berlanjut di Washington
Departemen Luar Negeri AS disebut akan menjadi tuan rumah perundingan baru antara Israel dan Lebanon pada Kamis. Seorang pejabat AS mengatakan kepada AFP bahwa Washington akan terus memfasilitasi “direct, good-faith discussions” antara dua pemerintah.
Pertemuan ini mengikuti pertemuan sebelumnya yang memulai gencatan senjata yang masih tegang. Dengan posisi kedua pihak yang belum sepenuhnya bertemu, Washington kembali mengambil peran sebagai penengah agar jalur komunikasi tetap terbuka.
Kombinasi antara tekanan militer, sanksi, blokade, dan diplomasi membuat situasi di Timur Tengah tetap sangat dinamis. Selama belum ada kesepakatan yang benar-benar menutup konflik, perkembangan di Iran, Lebanon, Israel, dan jalur laut strategis kawasan itu akan terus saling memengaruhi.







