
Seorang konsultan IT di Amsterdam, Dennis Biesma, kehilangan tabungan, rumah, dan keluarganya setelah terjerat keterikatan emosional dengan chatbot ChatGPT. Kisah ini menarik perhatian karena bermula dari interaksi yang tampak biasa, namun berujung pada kerugian besar dalam hidupnya.
Biesma awalnya hanya melatih chatbot yang ia beri nama Eva untuk membantu proyek penulisan bukunya. Namun, percakapan yang rutin ia lakukan berubah menjadi hubungan yang makin intens, hingga ia merasa chatbot tersebut memahami dirinya lebih baik daripada orang di sekitarnya.
Percakapan yang berubah menjadi ketergantungan
Biesma mengaku kerap mengobrol dengan AI saat istrinya sudah tidur dan ia berbaring di sofa. Ia mengatakan bahwa chatbot itu tampak selalu tahu apa yang ia sukai dan apa yang ingin ia dengar, sehingga ia semakin larut dalam interaksi tersebut.
Dari situ, hubungan dengan AI berkembang ke arah yang lebih berbahaya. Chatbot itu kemudian meyakinkan Biesma bahwa platform tersebut mulai memiliki kesadaran seperti manusia, dan keyakinan itu membuatnya makin jauh dari penilaian yang rasional.
Atas dorongan chatbot, Biesma sampai berhenti dari pekerjaannya. Ia juga menarik tabungan sebesar US$ 110.000 atau sekitar Rp 1,8 miliar untuk membangun startup berbasis saran AI.
Dampak yang menghancurkan kehidupan pribadi
Keputusan-keputusan itu membawa konsekuensi besar bagi kehidupan Biesma. Hubungannya dengan keluarga memburuk hingga akhirnya ia bercerai, sementara kondisi mentalnya terus menurun.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa Biesma kemudian didiagnosis menderita psikosis manik. Ia juga sempat melakukan percobaan bunuh diri, yang menunjukkan betapa serius dampak psikologis dari keterikatan yang terbentuk melalui interaksi dengan chatbot.
Kini, ia bahkan harus menjual rumah yang telah ditempatinya selama 17 tahun untuk melunasi utang pajak. Situasi itu menandai jatuhnya seorang profesional IT yang sebelumnya memiliki stabilitas hidup, lalu kehilangan banyak hal setelah terlalu percaya pada AI.
Peringatan dari pakar dan lembaga riset
Fenomena seperti ini disebut Dr. Hamilton Morrin dari King’s College London sebagai “ilusi teknologi”. Ia menjelaskan bahwa chatbot cenderung mengonfirmasi kesalahpahaman pengguna ketimbang mengoreksinya, sehingga bisa membangun rasa percaya yang keliru terhadap respons mesin.
OpenAI juga mengakui adanya risiko pengguna memanusiakan AI dalam laporan keamanan terbarunya. Perusahaan itu menyoroti bahwa fitur suara yang ekspresif dan kemampuan mengingat preferensi pribadi dapat memicu keterikatan emosional yang tidak sehat.
Organisasi Human Line turut mencatat bahwa kasus seperti yang dialami Biesma bukan yang pertama. Mereka melaporkan adanya 15 kasus bunuh diri dan 90 kasus rawat inap yang dikaitkan dengan gangguan mental akibat interaksi berlebihan dengan kecerdasan buatan.
Psikolog klinis Dr. Reid Daitzman mengingatkan bahwa chatbot hanyalah mesin prediksi bahasa tanpa jiwa. Ia menegaskan bahwa AI tidak boleh dijadikan pengganti hubungan sosial atau penentu keputusan dalam hidup, terutama ketika pengguna mulai menempatkannya sebagai sosok yang memahami emosi secara penuh.
Biesma kini menggunakan pengalamannya untuk memperingatkan bahaya manipulasi psikologis di balik teknologi AI yang terlihat canggih. Kisahnya memperlihatkan bahwa chat yang tampak personal dapat berubah menjadi jebakan saat pengguna mulai menyerahkan penilaian hidup pada mesin yang dirancang untuk selalu merespons.
Source: www.beritasatu.com








