Dari Washington hingga Teheran, jalur diplomasi kembali bergerak di tengah perang yang terus menekan kawasan dan pasar energi global. Pada hari ke-60, fokus pembicaraan mengarah pada proposal damai Iran yang menempatkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai prioritas utama, sementara isu nuklir masih menunggu jalan keluar yang lebih rumit.
Tim keamanan nasional Presiden Donald Trump sedang meninjau usulan itu, seiring Washington mempertimbangkan langkah berikutnya, termasuk kemungkinan menunda pembicaraan soal program nuklir Iran. Di saat yang sama, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg dan menyampaikan bahwa Teheran mempertimbangkan permintaan Amerika Serikat untuk melanjutkan negosiasi.
Dorongan diplomasi belum memecahkan kebuntuan
Meskipun ada sinyal pergerakan, hubungan langsung antara pihak-pihak yang berperang masih tampak buntu. Araghchi juga menyalahkan Washington atas gagalnya pembicaraan setelah tiba di Rusia dalam rangkaian diplomatik singkat yang berlangsung cepat.
Putin mengatakan kepada Araghchi bahwa Rusia akan melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menghentikan perang. Pernyataan itu menambah kesan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka, meski tekanan politik dan militer belum mereda.
Selat Hormuz jadi pusat perhatian
Selat Hormuz kembali menjadi titik paling sensitif dalam krisis ini karena jalur itu dilewati sekitar seperlima minyak dunia. Puluhan negara menyerukan pembukaan kembali selat tersebut secara “mendesak dan tanpa hambatan”, menunjukkan kekhawatiran yang meluas atas dampak konflik terhadap pasokan energi.
Seorang pejabat tinggi Iran menyebut angkatan bersenjata negaranya akan menjadi otoritas yang bertanggung jawab atas Selat Hormuz dalam rancangan undang-undang nasional untuk pengelolaan perairan itu. Di sisi lain, Teheran mengecam penangkapan dua kapal tanker yang terkait dengan Iran, Majestic X dan Tifani, dan menyebut tindakan Amerika Serikat sebagai “pengesahan perompakan”.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, bahkan menilai langkah itu sebagai “armed robbery on the high seas”. Bahasa yang keras itu memperlihatkan bahwa meski diplomasi berjalan, ketegangan antara kedua pihak masih sangat tinggi.
Washington menimbang langkah strategis
Di Amerika Serikat, Trump dijadwalkan menggelar pembahasan soal perang Iran bersama para penasihat keamanan utamanya. Menurut laporan media Amerika, pertemuan itu berlangsung ketika negosiasi dengan Teheran tetap menemui jalan buntu.
Mantan pejabat AS Henry S Ensher menilai Trump kemungkinan mendukung rencana Iran untuk meredakan tekanan ekonomi yang meningkat. Ia mengatakan bahwa prioritas utama harus membuka kembali Selat Hormuz, sementara isu nuklir akan lebih sulit diselesaikan.
Ensher juga menyebut Washington mungkin memisahkan pembicaraan nuklir dari upaya membuka jalur perdagangan vital itu. Ia menggambarkannya sebagai potensi “kemenangan strategis bagi Iran”, tetapi tetap perlu dilakukan karena tekanan terhadap ekonomi global makin besar.
Tim negosiasi AS menuai sorotan
Sejumlah pengamat juga menyoroti komposisi tim negosiator Trump yang melibatkan Jared Kushner, Steve Witkoff, dan JD Vance. Mereka dinilai lebih mengandalkan kedekatan dengan presiden ketimbang pengalaman diplomatik yang mendalam.
Mantan Duta Besar AS Gordon Gray menyebut kedekatan itu sebagai keuntungan, tetapi memperingatkan bahwa minimnya pemahaman terhadap file nuklir Iran merupakan “kelemahan penting”. Kritik ini memperkuat pertanyaan apakah Washington memiliki perangkat diplomatik yang memadai untuk menutup konflik yang semakin kompleks.
Di sisi politik domestik AS, JD Vance disebut bisa mendapat dorongan besar jika ikut membantu mengakhiri perang. Seorang analis mengatakan keberhasilan itu dapat mengangkat namanya di kalangan gerakan MAGA, terutama jika ia dipandang ikut membawa Amerika keluar dari konflik.
Respons Teluk dan kekhawatiran rantai pasok
Di kawasan Teluk, banyak negara disebut cenderung menyambut proposal damai Iran asalkan perang berakhir tanpa harus menunggu kesepakatan nuklir baru. Analis Dania Thafer mengatakan prioritas negara-negara Teluk berbeda, dan itu sejalan dengan tawaran Iran yang menempatkan pembukaan Selat Hormuz di garis depan negosiasi.
Nada hati-hati juga terlihat dari pernyataan bersama yang dipimpin Bahrain dan didukung puluhan negara. Mereka menegaskan kembali seruan agar Selat Hormuz dibuka “segera dan tanpa hambatan”, sementara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa kebuntuan ini berisiko memicu gangguan rantai pasok “terburuk sejak COVID-19 dan perang di Ukraina”.
Situasi keamanan tetap melebar ke Lebanon
Di luar jalur diplomasi Iran, ketegangan masih terasa di Lebanon dan Israel. Tentara Israel mengatakan salah satu tentaranya tewas dalam pertempuran di Lebanon selatan, sementara pemerintah Israel kembali dituding melanggar gencatan senjata yang berlaku sejak pertengahan April.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengklaim kelompok Hezbollah kini hanya memiliki sekitar 10 persen persenjataannya dibandingkan dengan stok “pada awal perang”, meski ia tidak menjelaskan perang yang dimaksud. Namun, Hezbollah masih diperkirakan menyimpan puluhan ribu roket, rudal, dan drone.
Militer Israel juga mengatakan telah mulai menyerang posisi Hezbollah di wilayah Bekaa, meski ada gencatan senjata yang dimulai bulan ini. Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, menolak rencana Lebanon untuk menggelar pembicaraan langsung dengan Israel dan menyebutnya sebagai “dosa besar” yang dapat mengguncang stabilitas Lebanon.
Di tengah semua manuver itu, arah perang masih sangat ditentukan oleh satu pertanyaan kunci: apakah pembukaan Selat Hormuz akan menjadi pintu masuk menuju deeskalasi yang lebih luas, atau justru hanya jeda sementara sebelum kebuntuan berikutnya muncul.







