Pemimpin Gereja Ortodoks Yunani di Yerusalem mengecam keras serangan brutal terhadap seorang biarawati di kota itu dan memperingatkan meningkatnya kekhawatiran soal masa depan umat Kristiani di Tanah Suci. Uskup Agung Atallah Hanna menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari rangkaian pelanggaran yang kian sering menargetkan institusi Kristen di Yerusalem.
Dalam unggahannya di Facebook, Hanna mengatakan serangan terhadap biarawati itu terjadi di tengah meningkatnya pelanggaran terhadap lembaga-lembaga Kristen di kota tersebut. Ia menilai kondisi itu mencerminkan kekhawatiran yang makin besar terhadap keberlanjutan kehadiran Kristen bersejarah di Tanah Suci.
Serangan yang memicu kecaman luas
Polisi Israel pada Kamis merilis video yang disebut memperlihatkan serangan seorang pria Yahudi terhadap biarawati asal Prancis di Yerusalem pada Selasa. Rekaman itu menunjukkan pria tersebut mengikuti sang biarawati, mendorongnya dengan paksa hingga terjatuh, lalu kembali menendangnya sebelum orang-orang di sekitar turun tangan.
Menurut The Times of Israel, polisi mengatakan seorang pria Yahudi telah ditangkap atas dugaan penganiayaan terhadap biarawati itu. Dalam pernyataannya, polisi menyebut laki-laki berusia 36 tahun itu telah diidentifikasi dan kemudian ditangkap, seraya menegaskan bahwa mereka memandang dengan “keseriusan tertinggi” setiap tindakan kekerasan yang didorong motif yang berpotensi rasis dan ditujukan kepada anggota klerus.
Father Olivier Poquillon, direktur Jerusalem’s French School of Biblical and Archaeological Research, mengatakan kepada AFP bahwa biarawati berusia 48 tahun itu adalah peneliti di institusinya. Ia juga menyebut biarawati tersebut tidak ingin berbicara di depan umum.
Kekhawatiran atas pola kekerasan
Hanna menilai serangan seperti itu tidak bisa lagi dianggap insiden terpisah. Dalam pesannya, ia mengatakan tindakan semacam ini sudah menjadi pola berulang yang mengancam keberadaan komunitas Kristen, dan ia menyerukan tindakan internasional untuk menghentikannya.
Lembaga Rossing Center for Education and Dialogue, yang memantau insiden semacam ini, menyebut serangan terhadap komunitas Kristen di Yerusalem Timur yang diduduki dan di Israel meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Gereja-gereja di Yerusalem juga berulang kali meminta otoritas Israel bertindak tegas untuk menghentikannya.
Kementerian Luar Negeri Israel pada Selasa menyebut insiden itu sebagai “tindakan memalukan” dalam pernyataannya di X. Kementerian itu menegaskan bahwa di kota yang suci bagi Yahudi, Kristen, dan Muslim, pihaknya tetap berkomitmen melindungi semua komunitas dan memastikan pelaku kekerasan dimintai pertanggungjawaban.
Respons dan konteks yang lebih luas
Kasus ini muncul setelah foto viral bulan lalu memperlihatkan seorang tentara Israel menghancurkan patung Yesus Kristus di Lebanon selatan dengan palu godam dan memicu kemarahan luas. Militer kemudian menyatakan penyelidikan telah dibuka dan bahwa “langkah yang sesuai akan diambil terhadap mereka yang terlibat sesuai temuan”.
Israel kemudian mengatakan tentara itu dipenjara selama 30 hari, bersama tentara lain yang merekam aksinya. Enam tentara lainnya juga dipanggil untuk diperiksa, menandakan perhatian besar terhadap insiden yang menyentuh simbol keagamaan Kristen.
Di Yerusalem, serangan terhadap biarawati itu kembali menyoroti kerentanan yang dirasakan banyak pemimpin gereja dan pengamat terhadap komunitas Kristen di wilayah tersebut. Di tengah seruan untuk akuntabilitas dan perlindungan, kasus ini memperlihatkan betapa sensitifnya situasi di kota yang dihormati tiga agama besar sekaligus.
