Serangan Israel di Lebanon kembali memperlihatkan bahwa gencatan senjata yang rapuh belum mampu meredakan konflik di perbatasan utara. Pada saat yang sama, Iran, China, Amerika Serikat, dan NATO ikut terseret dalam eskalasi yang makin melebar melampaui medan tempur langsung.
Militer Israel mengatakan pada Sabtu pihaknya menghancurkan sekitar 70 struktur militer dan sekitar 50 situs infrastruktur Hezbollah di Lebanon selatan. Kantor berita negara Lebanon juga melaporkan serangkaian serangan Israel di kawasan itu, yang disebut semakin rutin meski gencatan senjata 17 April dalam perang Israel-Hezbollah masih berlaku secara formal.
Kerusakan di Lebanon menambah ketegangan
Dampak serangan juga menyentuh bangunan keagamaan. Sebuah badan amal Katolik mengecam apa yang disebutnya sebagai “tindakan perusakan yang disengaja terhadap tempat ibadah” setelah sebuah biara di Lebanon rusak akibat pasukan Israel.
Militer Israel mengakui sebuah “bangunan keagamaan” rusak oleh pasukan yang beroperasi di desa Yaroun. Militer juga mengatakan rumah-rumah di kompleks keagamaan ikut “rusak” saat operasi untuk menghancurkan infrastruktur teroris berlangsung.
L’Oeuvre d’Orient, badan amal Katolik Prancis, mengatakan pasukan Israel “menghancurkan” sebuah biara milik Suster-Suster Salvatorian. Kelompok religius itu merupakan ordo Katolik Yunani yang berafiliasi dengan badan amal tersebut.
Iran dan Washington saling menekan
Di tengah perang yang terus melebar, Iran mengatakan nasib jalur menuju kesepakatan atau kembali ke perang terbuka berada di tangan Amerika Serikat. Wakil menteri luar negeri Kazem Gharibabadi menyampaikan di Tehran, menurut penyiar negara IRIB, bahwa Iran siap menghadapi kedua kemungkinan itu demi kepentingan nasional dan keamanannya.
Pada saat yang sama, China menolak mematuhi sanksi Amerika Serikat terhadap lima perusahaan yang ditarget karena membeli minyak Iran. Kementerian perdagangan China menyebut sanksi itu secara tidak layak membatasi atau melarang aktivitas bisnis normal perusahaan-perusahaan tersebut.
China sendiri merupakan pembeli utama minyak Iran, sehingga penolakan ini menambah lapisan baru dalam pertarungan ekonomi dan diplomatik yang menyertai konflik di kawasan.
Eropa dan NATO ikut merasakan dampaknya
NATO juga meminta penjelasan lebih lanjut dari Washington atas keputusan menarik 5.000 tentara dari Jerman. Seorang juru bicara aliansi mengatakan permintaan informasi itu muncul ketika perang Iran memperdalam ketegangan lintas Atlantik.
Keputusan Amerika Serikat itu muncul setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan Iran “mempermalukan” pemerintahan Presiden Donald Trump dalam negosiasi, yang memicu kemarahan sang presiden. Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius kemudian mengatakan penarikan 5.000 tentara Amerika dari Jerman sebenarnya sudah diperkirakan dan menegaskan Eropa harus berbuat lebih banyak untuk menjamin keamanannya sendiri.
Trump dan operasi laut yang makin keras
Trump sendiri menggambarkan operasi Angkatan Laut Amerika Serikat dengan bahasa yang mencolok, setelah menyebut pasukan itu bertindak “seperti bajak laut”. Ia mengomentari operasi penyitaan sebuah kapal di tengah aksi saling balas berupa blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dalam rapat umum di Florida, Trump mengatakan pasukan Amerika “naik ke atas kapal dan mengambil alih kapal itu” beserta kargo dan minyaknya. Ia menyebut tindakan itu sebagai bisnis yang sangat menguntungkan dan menegaskan Amerika “tidak sedang bermain-main”.
